
"Insya Allah akan menjadi rumah kita kalau kamu suka. Ayo masuk!" ajak pria itu mempersilahkan istrinya.
Nahla mengikuti langkah Hanan mendekati pintu. Begitu dibuka, langsung takjub dengan ruangan yang luas dan tertata begitu rapi. Perempuan itu menelusuri pandangan ke seluruh ruangan. Hunian lantai dua yang cukup besar nan mewah. Dekorasi modern klasik mewarnai setiap ruangan lengkap dengan segala isinya. Tidak harus memikirkan perabot lagi. Semua sudah tersedia di dalamnya.
"Bagaimana? Suka?" tanya Hanan memastikan.
"Nggak tahu," jawab Nahla datar.
"Loh, kok nggak tahu, perasaan kamu setelah masuk ke rumah ini? Apakah lebih baik?"
"Kamu tidak sedang modus kan? Aku masih kesel loh."
"Astaghfirullah ... enggak Dek, kalau nggak percaya sore ini juga kita pindahan ke sini," ujar pria itu menyakinkan.
"Ya mana tahu, hati orang kan siapa yang tahu," sahut Nahla tak serta merta percaya begitu saja.
"Sini Dek, sini!" seru Hanan menginterupsi istrinya. Pria itu menuju lantai dua di mana ada kamar utama mereka di sana.
Pria itu membuka pintu perlahan. Terlihat jelas isi kamar yang cukup luas dengan tatanan dan warna cat sesuai kesukaan Nahla.
"Ini kamar kita sayang, mulai hari ini dan seterusnya kita bakalan tidur di sini," ujarnya berbinar.
Ada banyak harapan di setiap langkahnya. Di tempat yang baru, berharap hubungan pernikahan mereka akan lebih tertata dan bisa berjalan sebagaimana mestinya. Hanan sadar akan kesalahannya hingga membuat istrinya terluka. Dia berharap di tempat ini mereka bisa berdamai dengan perasaannya dan bisa membangun keluarga sebagaimana mestinya bersama keluarga kecil mereka.
Nahla memasuki dan langsung melihat-lihat isi kamarnya. Pria itu cukup mengerti selera dirinya. Tidak bisa menampik, Nahla terlihat langsung merasa nyaman.
"Apa kamu mau mencobanya sekarang?" tanya Hanan sedikit menggoda. Duduk di ranjang mendekati Nahla.
__ADS_1
"Apaan sih, sana jangan dekat-dekat!" Nahla masih terlihat enggan. Walau tidak sejutek tadi, nampaknya masih belum ingin didekati.
"Oke, mau nunggu di sini atau mau ikut pulang? Aku mau jemput Icha," ujarnya memberi pilihan.
"Terserah," jawab Nahla bisa keduanya.
"Ya sudah ikut saja ya, nanti sekalian ke sini bareng Icha. Dia pasti seneng banget bisa tinggal di kamar yang lebih bagus dan baru."
Suasana baru yang pastinya akan membawa perasaannya lebih nyaman. Begitupun dengan Nahla yang tentu merasa berbeda. Berharap suaminya benar-benar bisa membawa diri dengan perasaannya. Menganggap dirinya ada dan bisa menghargai dirinya.
Keduanya kembali ke rumah lama, sengaja menjemput Icha sore itu.
"Kita mau ke mana, Ma, Pa?" tanya Icha saat kedua orang tuanya mengajak keluar.
"Ke suatu tempat, Icha bakalan punya kamar baru," jelas Hanan dengan wajah senang. Walau harus merogoh kocek yang cukup dalam, tak apa asal kedua wanita yang begitu penting dalam hidupnya itu bahagia.
"Kamar baru? Memangnya Mama mau pindah?" tanya gadis kecil itu sedikit bingung.
"Iya Ma, mau. Icha mau ikut Mama di mana Mama tinggal."
"Kita cari makan dulu ya, pada lapar nggak?"
"Icha mau, Icha lapar," sahutnya riang gembira.
"Kamu mau makan apa, Dek? Aku ngikutin selera kamu?" ujar pria itu lebih banyak meminta pendapat.
"Terserah," jawab Nahla bisa di mana saja.
__ADS_1
Malam ini sengaja makan di luar, tidak membiarkan Nahla repot di hari pertama tinggal. Terlebih memang belum ada stok bahan yang bisa dieksekusi. Mungkin besok baru dibeli untuk keperluan dapurnya.
"Icha sayang, minggu depan rencananya papa sama mama mau ada acara ke luar kota. Icha kalau di rumah nenek dulu mau ya. Tidak lama kok, mungkin lima hari saja," kata Hanan setelah makan.
"Mas, aku kan belum iyain, lagian jadwalku masih padat. Aku nggak mau absen lagi," sela Nahla jelas keberatan.
"Kamu sepertinya butuh liburan, jadi apa tidak sebaiknya minggu depan."
"Kok aku, kamu deh kayaknya yang main iyain aja. Aku nggak deal," tolaknya cepat.
"Terus, maunya kapan?"
"Nunggu libur sekolah lah ... kalau masih sabar, kalau nggak ya udah nggak usah sekalian."
"Oke, Oke, aku nurut," jawabnya mengalah.
"Nggak jadi ya Ma, apa Icha nggak boleh ikut?"
"Boleh kok sayang, tapi nggak jadi minggu depan, nunggu liburan sekolah ya kita liburan bareng," ujarnya tak masalah.
"Dek, ini gimana ceritanya kalau bocil ikut. Bukankah kita rencananya mau bulan madu?" bisik Hanan mendadak galau.
"Pikir nanti Mas, kamu kenapa mikirin bulan madu terus. Kemarin ke mana aja. Giliran aku pengen diperhatikan saja nggak peduli, sekarang aja gini."
"Jangan dibahas terus, emangnya manusia nggak boleh salah?"
Nahla tidak menanggapi lagi, sibuk berbincang dengan Icha.
__ADS_1
Mereka langsung pulang ke rumah baru, Icha juga terlihat senang. Namun, karena belum terbiasa, ia sama sekali tidak mau ditinggal dari kamarnya yang cukup luas itu.
"Iya, mama temani," ujarnya tak masalah. Malam ini mereka tidur bersama dengan Icha di antara tengah mereka.