
"Nggak pa-pa, ibu juga pasti paham," ujar Hanan santai. Dengan penuh perhatian menyuapi istrinya.
"Kamu harus banyak makan biar cepet pulih, dan asinya juga banyak," kata pria itu sambil menyuapi.
Sementara bayi mereka tengah dalam buaian Bu Kokom dan Icha. Kehadiran Kai tentu membawa kebahagiaan untuk keluarga mereka. Bayi mungil itu langsung menjadi idola satu keluarga.
"Nek, gemes ya adek lucu," ucap Icha mengelus-elus pipinya. Gadis kecil itu enggan beranjak sama sekali.
"Iya, comel," jawab Bu Kokom tersenyum mengiyakan.
"Kenapa bobo terus, pengen lihat adik melek," ujarnya gemas.
"Bayi memang gini, dia akan bangun kalau lapar. Tuh dibuka matanya," ujar Bu Kokom menunjuk cucunya yang nampak menggeliat dalam gendongan. Menit berikutnya, bayi mungil itu terjaga. Netranya bergilir sembari menangis. Nenek baru itu langsung berdiri menimang dalam gendongan.
"Nduk, udah belum? Ini Kai kayaknya lapar mau nen."
"Iya Buk, tolong sini," ujarnya menerima ke pangkuan. Masih lumayan kaku perempuan itu memberikan ASI.
"Sambil menyusui adik, sambil isi amunisi dulu," ujar Hanan kembali menyuapi.
"Adududu ... sshh ...." Nahla sampai terpejam menggigit bibir bawahnya demi menahan rasa sakit akibat cecapan putranya yang teramat kuat.
"Sakit?" tanya Hanan ikut nyengir seakan ikut merasakan.
"Iya, kuat banget. Ini perih sepertinya lecet," adu perempuan itu mendesis pelan.
"Nanti lama-lama juga nggak, pertama biasanya emang gini, sabar ya, anak kita pinter nyusunya banyak," ujar Hanan mengusap puncak kepalanya pelan.
"Iya, kuat banget minum susunya," kata perempuan itu memperhatikan bayi mungilnya dalam dekapan.
Kai langsung merem kembali dan anteng begitu merasa kenyang.
__ADS_1
"Ini habisin dulu," kata Hanan menginterupsi.
"Kenyang Mas, aku mau bawa Kai ke box, biar bobo di sana."
Nahla turun dari ranjang dengan hati-hati. Berjalan memindahkan Kai ke tempatnya agar tidur dengan nyaman. Sementara Hanan menghabiskan makanan sisa istrinya yang masih tersisa separonya.
"Kelaparan Pak? Jangan makan bekas aku, ambil yang baru saja."
"Nggak pa-pa, sayang kok, bekas kamu enak," ujarnya tanpa risih. Pria itu malah nambah karena memang merasa lapar. Belum makan siang karena sibuk mengurus kepulangan istri dan anaknya.
"Aku mandi dulu ya," ujar pria itu beranjak.
"Bentar Mas, aku pengen pakai dulu," ujar Nahla menyela. Pembalutnya merasa penuh jadi harus segera mengganti.
"Owh, ya sudah, kamu duluan." Hanan menunggu sambil menatap bayi mungil mereka yang menentramkan hati. Perpaduan antara dirinya dan juga istri. Bahagia sekali rasanya.
Nahla cukup lama memakai kamar mandi, membuat Hanan sedikit khawatir. Ada apa dengan istrinya.
"Jangan ke sini, perutku masih sedikit nyeri Mas, ini darahnya keluar banyak," keluh Nahla sibuk di kamar mandi.
"Sakit? Apa perlu ke rumah sakit? Kamu pucet," ujar pria itu ikut membantu kesibukan istrinya di kamar mandi.
"Nggak usah, kamu keluar dulu, aku mau ganti." Nahla masih merasa malu untuk urusan yang satu ini.
"Nggak pa-pa, aku tunggu di sini," tolak Hanan rnggan beranjak. Takut terjadi apa-apa atau mungkin istrinya butuh sesuatu pertolongan.
"Ish ... malu Mas, keluar dulu," usir Nahla mendorong dada suaminya agar mundur dari kamar mandi.
"Iya iya aku keluar, jangan dorong-dorong sayang."
Hanan menunggu tepat di depan pintu, memastikan kalau istrinya baik-baik saja.
__ADS_1
"Mandi Mas!" ujar perempuan itu berjalan keluar.
"Masih nyeri nggak, konsul saja ya biar jelas, takutnya nanti ada apa-apa lagi."
"Udah nggak sakit," jawabnya kembali ke ranjang.
Menjelang petang ibunya pamit pulang lantaran sudah dijemput bapak. Namun, sepertinya Nahla belum rela kalau ibunya pulang mengingat ia masih terlalu awam mengurus bayi.
"Jangan pulang dulu Buk, istirahat di sini saja sama bapak." Nahla tidak mau ditinggal.
"Kasihan adikmu Nduk, di rumah sendirian. Besok pagi ibuk ke sini lagi bareng bapak ke pasar," ujar Bu Kokom tak sampai hati. Tetapi di rumah punya tanggungan dan lainnya yang harus dikerjakan dulu.
"Bener ya Buk, besok ke sini lagi," ujar Nahla sedih. Padahal tempat tinggal mereka tidak begitu jauh, lima belas menit dari rumah, tetapi rasanya senang sekali saat baru melahirkan begini ada ibuk yang menemani, selain suami tentunya.
"Iya Buk, tidur di sini saja sama bapak," saran Hanan juga.
"Besok ke sini lagi, Nan. Pulang dulu ya, jagain Kai kalau malam," pesan Bu Kokom lalu pamit diikuti Pak Subagio setelah lebih dulu menilik cucunya.
Nahla akhirnya mengiyakan walau hatinya tidak rela. Rasanya tenang saja saat ditungguin ibuk.
"Sepertinya kamu perlu baby sitter, biar nggak capek juga."
"Nanti saja Mas, nunggu masa cutiku habis. Aku mau deket dulu sama anak kita."
"Senyamannya kamu saja, kalau ada yang kurang berkenan di hati, bilang ya jangan dipendam sendiri biar aku tahu."
"Iya Mas, dan sekarang aku mau curhat, kenapa ini buah kenyalku terasa kencang dan sakit, asinya kepenuhan."
"Kok besar banget, asinya sampai netes Dek, sakit?"
"Iya Mas, tubuhku jadi pegel semua ini, gimana?" Nahla merasa meriang dan tidak nyaman.
__ADS_1