
"Duh ... kenapa jadi horor ya ditempelin paksu mulu," batin Nahla merinding disko. Entahlah, perasaan takut saja setelah melahirkan untuk melakukan hubungan suami istri.
"Dek, kenapa tidurnya jauhan, sini dong," ujar pria itu mendekat lalu memeluk istrinya.
Nahla belum bisa terpejam setelah mengASIhi putranya.
"Ada yang mau aku omongin, sebenarnya masih rencana sih, tapi ini serius," ujarnya sembari menarik dalam pelukan.
"Apa? Katakan saja Mas?" ujarnya penasaran.
"Aku mau nyalon menjadi anggota dewan," kata pria itu cukup jelas.
"Hah, serius Mas? Tanggung jawabnya besar, belum lagi nanti menangani orang banyak."
"Sedang aku pertimbangan, menurut kamu bagaimana?" tanya Hanan meminta pendapat.
"Duh ... aku nggak paham masalah begituan." Nahla tidak tahu harus jawab apa, yang jelas selama ini sudah cukup menjadi istri dari Hanan Ramahendra yang begini saja.
"Aku sebenarnya masih bingung, makanya butuh dukungan kamu sayang." Obrolan sebelum tidur mereka cukup serius. Nampaknya pria itu bukan hanya terjun di dunia bisnis, ingin melebarkan sayapnya di dunia politik.
"Aku selalu mendukung keputusanmu, Mas, apa pun itu asal di jalur yang baik dan benar," jawab Nahla benar adanya.
"Oke, berarti aku maju ya, saat pemilihan nanti," ujarnya setengah yakin.
"Terserah kamu Mas, tapi aku sebenarnya juga ada yang mau diomongin, serius," ujarnya ragu. Takut suaminya tidak mengizinkan.
__ADS_1
"Aku mau lanjut S2 boleh? Setelah Kai agak gedean dikit. Tapi itu cita-citaku yang sempat tertunda."
"Boleh, asal bisa membagi waktu untuk pekerjaan, pendidikan, dan keluarga. Kamu sendiri yang bisa mengerti seberapa besar kemampuan kamu dalam meng-handle semuanya."
"Beneran? Serius kan Mas?" tanya Nahla menyakinkan.
"Iya, serius, asal tetap bisa membagi waktu, terutama untuk aku dan anak-anak."
"Aku pertimbangkan lagi Mas, terima kasih sebelumnya," ujar Nahla tersenyum sumringah. Apa salahnya jadi ibu plus wanita karir, kalau semua bisa dikerjakan, walau pasti tidak semudah membalikkan fakta.
"Udah nggak ada lagi yang mau kamu omongin kan? Sekarang tidur lah," ujar Hanan mengecup keningnya.
"Belum ngantuk, tapi capek banget hari ini," jawab Nahla membalas pelukan suaminya dengan mengusak lembut di dada bidangnya.
"Besok ada art baru yang khusus buat jagain Kai, biar kamu nggak capek lagi. Biar semua pekerjaan rumah tidak usah ikut membereskan. Cukup ngurusin aku, anak-anak dan dirimu sendiri."
Hanan sadar betul apa yang sudah menjadi keputusannya, walaupun sejatinya tidak mudah, terlebih jujur ia lebih menyukai kalau istrinya di rumah saja. Namun, ia juga tidak boleh egois mengungkung diri untuk menjadi sesuai apa yang ia minta. Nahla juga punya cita-cita, bukan karena menikah lantas semuanya terhambat. Sebagai suami yang baik, ia harus memberikan suport yang positif untuk istrinya.
Malam ini keduanya tidur cukup larut, bahkan saat malam harinya Kai bangun meminta susu, Hanan ikut terbangun membantu Nahla yang senantiasa terjaga.
"Tidur Mas, kamu kan besok mau kerja, bagaimana ceritanya ikut begadang begini," ujar Nahla merasa kasihan.
"Ini lagi tidur, tapi susah merem kalau nggak ada kamu, gimana dong," ujarnya mendrama.
"Ish ... aku di sini lah, Kai belum ngantuk kayaknya. Siang aku kan bisa tidur, kamu kerja jangan ikut begadang."
__ADS_1
Nahla merasa kasihan juga kalau suaminya ikut melek. Perempuan itu akhirnya memindah Kai ke ranjang agar suaminya bisa memeluk dirinya. Jadilah mereka tidur bertiga. Hanan, Nahla, dan Kai.
"Sayang, kamu udah tidur?" bisik pria itu memeluk manja.
Nahla hanya bergumam pelan, netranya sungguh berat untuk dibuka. Ia pun terlelap damai dalam dekapannya.
Sementara Hanan, lebih dulu bangkit dari pembaringan, memindah Kai di box, lalu kembali ke ranjang untuk tidur. Menjelang pagi, pria itu lebih dulu bangun, membiarkan istrinya masih tetap terlelap menemui mimpinya.
"Sayang, bangun, ASI kamu penuh tuh, Kai mau nen," ujar pria itu sedikit merusuh.
Nahla yang masih bergelung selimut membuka matanya. Merasakan bibirnya yang sedikit basah akibat ulah suaminya.
"Jam berapa ini?" Nahla menyambar ponsel di nakas, menyipit melihat jam yang tertera di layar sana.
"Hah, setengah enam?" Nahla tergeragap.
"Kai mana? Kok nggak ada?"
"Udah aku pindah di box sayang, baru kukasih ASI dari botol karena kamu cukup pulas."
"Ya ampun ... apakah aku ini, kesiangan Mas maaf. Aku siapin sarapan dulu ya."
"Nggak sayang, kamu pompa dulu ASInya nanti sakit loh penuh." Hanan memperingatkan. Pasti sudah penuh karena dua kali Kai terjaga minum dengan botol.
"Iya Mas bener, sakit," ujarnya beranjak.
__ADS_1
Perempuan itu lebih dulu mengurus diri sendiri, lalu baru turun setelah mandi. Semua dilakukan serba cepat dan mulai terbiasa dengan hal-hal tak terduga begini.