Jodohku Mas Duda Jutek

Jodohku Mas Duda Jutek
Bab 49


__ADS_3

"Pagi sayang," sapa Hanan dengan posisi masih sama-sama tertidur dan saling berhadapan.


"Pagi Mas, ini jam berapa?" tanya perempuan bergerak menyambar ponsel di nakas. Ternyata menjelang subuh, masih cukup pagi dan Nahla ingin melanjutkan tidurnya sebentar lagi.


"Belum mau bangun? Temani mandi yuk!" ajak pria itu sembari mengelus mahkotanya lembut.


"Bentar Mas, kamu duluan aja," ujar Nahla belum niat bangun.


Hanan mendekat, lalu sengaja menyambar bibirnya hingga membuat Nahla kembali membuka matanya.


"Bareng aja Dek," ujarnya mulai rusuh. Tangannya bergerak sedikit nakal.


"Jangan Mas, kalau pagi aku nanti nggak nyaman. Sekarang kan aku masuk," tepis Nahla menyingkirkan tangan suaminya yang terdeteksi gratilan.


Pria itu tersenyum, kalau ada maunya ditolak kaya apa juga bakalan dipepetin terus. Membuat Nahla yang awalnya sedikit kesal itu perlahan pasrah saat suaminya mengaktifkan tangan lincahnya.


"Tapi aku pengen Dek, semalam kamu tidur duluan. Berarti gantinya pagi ini nggak pa-pa," ujarnya tersenyum kalem.


Ingin menolak tetapi tidak mungkin juga. Alhasil pasrah dan membalas sentuhan nakal suaminya yang pagi ini cukup meresahkan. Tak perlu menunggu lama, keduanya kembali mengulang sungai cinta di peraduan terkasih. Hingga Hanan tersenyum puas menyambut pagi mereka. Sementara Nahla, tentu saja tepar tak berdaya setelah berhasil mengacak sprei agi itu.


"Kamu nakal, aku tuh suka nggak nyaman kalau pagi gini," kata Nahla setelah sesi panas mereka.


Hanan hanya terkekeh tanpa dosa. Macam kejar tayang saja istrinya tidak boleh menganggur selama ada kesempatan.


"Maaf, habiskan nggak bisa ditahan, gimana dong, tubuhmu udah candu buat aku," ucap Hanan sembari mencium baju polosnya.

__ADS_1


"Mandi yuk!" ajak pria itu semangat sekali. Adzan subuh juga sudah terdengar, hari makin beranjak pagi.


"Bentar, aku mau mandi sendiri," sahut Nahla takut dieksekusi lagi demi melihat wajahnya yang tersenyum menghanyutkan.


"Lihatinnya gitu banget, enggak kok beneran cuma mandi. Mandi bareng itu berpahala loh," ujarnya menyakinkan.


"Beneran cuma mandi kan?" tanya Nahla menatap horor suaminya.


"Iya, janji," ujarnya menyakinkan. "Kalau nggak khilaf," sambung pria itu kembali tersenyum.


"Tuh kan nggak mau ah, kamu mandi duluan!" tolak Nahla yang masih betah menghuni ranjang.


"Astaghfirullah ... nggak Dek. Ayo sayang!"


Hanan menggendong istrinya begitu saja, lalu membawanya ke kamar mandi.


"Kamu mau sarapan, apa Mas?" tanya perempuan itu bingung memilih menu. Kalau suami atau anak yang menentukan sendiri lebih simple dan murah membuatnya.


"Mau bilang terserah Dek, apa pun yang kamu buat akan aku makan," ujarnya apa pun.


Nahla sibuk di dapur, sementara Hanan membangunkan Icha. Gadis kecil itu mandi dengan asisten rumah tangganya yang pagi itu sudah stay. Semenjak berpindah rumah, Nahla meminta simbok untuk menginap. Tentu saja untuk meng-handle kerepotan di rumah.


Sarapan bersama itu merupakan menu wajib untuk anggota keluarganya. Sebelum berangkat diusahakan mengisi perutnya terlebih dahulu.Apalagi menu yang Nahla sajikan cukup beragam untuk setiap harinya. Membuat baik Hanan maupun Icha sangat betah makan di rumah.


"Dek, besok libur jalan-jalan yuk!"

__ADS_1


"Ke mana? Sama Icha atau berdua?" tanya perempuan itu memastikan.


"Kamu maunya gimana? Sama Icha emang nggak pa-pa?"


"Iya nggak apa Mas, kita bisa datang ke tempat yang ada wahana anaknya. Pasti Icha seneng," ujar Nahla bersemangat sekali. Sebelumnya memang mereka belum pernah piknik sekeluarga. Minggu ini sepertinya waktunya sangat tepat.


"Mendengar itu tentu saja Hanan merasa senang. Rasa sayang Nahla terhadap putrinya tidak bisa diragukan lagi.


" Makasih Dek, tapi emang nggak pingin bulan madu gitu. Semenjak nikah kan belum."


"Pengen sih, tapi nunggu sekolah libur Mas, biar aku nggak absen banyak. Kamu juga tentukan waktunya yang sekiranya nggak mengganggu pekerjaan kamu."


"Aku mah harus disempetin, kalau kamu bisa aku juga pasti siap."


Nahla mengangguk setuju, sepertinya memang mereka perlu waktu berdua untuk saling melengkapi rasa. Membuat kenangan indah sebelum nanti direpotkan dengan urusan hamil.


"Aku berangkat pakai motor Mas," ujarnya agar tidak harus repot.


"Iya, hati-hati ya. Pulang tepat waktu dan tunggu aku kembali," ujarnya tengah semangat di rumah.


Sehabis pulang kerja Hanan rasanya ingin cepat sampai. Pandangannya pada perempuan itu juga sedikit berubah. Mungkinkah Nahla sudah merasa lebih nyaman dan keduanya pun benar- benar jatuh cinta.


Pria itu langsung menuju kantornya setelah mengantar Icha. Sementara Nahla pagi ini berkendara sendiri dengan motornya setelah mendapat izin suami. Entah mengapa sejak pagi tadi rasanya kurang semangat fit.


"Bu Nahla kurang sehat? Pucet sekali?" tanya Pak Agam cukup jeli memperhatikan rekannya.

__ADS_1


"Nggak tahu ini Pak, rasanya saya sedikit tak enak badan," ujar Nahla agak pusing dan kliyengan.


Perempuan itu masih harus mengajar di kelas terakhir, tetapi sepertinya kondisi tubuhnya tidak memungkinkan. Bahkan saat hendak beranjak dari kursi, Nahla tiba-tiba pingsan tak sadarkan diri.


__ADS_2