Jodohku Mas Duda Jutek

Jodohku Mas Duda Jutek
Bab 71


__ADS_3

Nahla menyiapkan makan malam untuk keluarga kecilnya. Sementara Kai dititip ke simbok lebih dulu.


"Icha mau sama apa?" tanya perempuan itu mengisi piring putrinya.


"Ayam aja Ma, sayurnya dikit aja," ujarnya sembari menanti.


Perempuan itu bergantian mengambil untuk suaminya. Mereka nampak makan dengan khusuk.


"Katanya ada pembantu baru Mas, kok nggak jadi datang?" tanya Nahla sedikit penasaran.


"Kemarin udah telpon yayasan, udah dapat tapi masih muda, aku kurang sreg jadi minta diganti aja yang sudah ibu-ibu," kata pria itu kurang nyaman.


"Owh ... emangnya kenapa kalau masih muda?" tanya Nahla ingin tahu alasanya juga.


"Merusak pemandangan dan kadang nggak serius kerja, banyak megang ponsel, aku nggak mau kalau Kai dititipin ke orang yang salah," jelas pria itu cukup cermat.


"Kalau boleh minta sih, diasuh sendiri aja, tapi kamu kan sibuk nggak mungkin," ujar pdia itu mencari solusi paling bijak.


"Iya, maaf ya, mengajar itu keinginan aku dari dulu, atau kamu mau aku berhenti jadi guru? kata Nahla membuat Hanan mrnatap kaget sekaligus penuh harap.


"Serius kamu mau?" tanya Hanan tentu dengan senang hati. Belum lagi kalau dirinya jadi maju mencalonkan diri menjadi anggota dewan, sudah pasti keduanya sibuk dan susah untuk membagi waktu untuk keduanya.


"Aku pertimbangkan dulu, tapi ada syaratnya," ujar Nahla meminta imbalan.


"Apa sayang?" tanya pria itu menatap serius.

__ADS_1


"Kamu harus mendirikan yayasan untuk sekolah setara SMA, dan kalau perlu SMP dan juga di bawahnya. Jadi gimana?" pinta Nahla yang harus disanggupi.


Sebenarnya hal yang baik dan juga membantu memberikan tempat untuk mencerdaskan anak-anak bangsa.


Bapak dua anak itu nampak manggut-manggut, ide istrinya tidak main-main. Mendirikan tempat pendidikan yang di dalamnya melibatkan tenaga pendidik yang cukup besar.


"Akan aku pikirkan, asal kamu mau berhenti dan cukup mengurus anak-anak dan aku saja," jawab Hanan menerima masukan istrinya.


Nahla pun dengan siap mendedikasikan seluruh hidupnya untuk keluarga kecil mereka. Tidak masalah di rumah, ia juga bisa menjadi guru untuk putra dan putrinya sendiri.


"Jadi di acc nih, siap Pak Hanan?"


Pria itu baru mau menambah cabang otomotifnya di luar daerah, tetapi sepertinya ini adalah satu-satunya ide agar istrinya fokus di rumah. Bukan apa-apa, ia type pria yang senang diurus, jadi istri rumahan lebih diidamkan kalau memang istrinya berkenan.


"Hahaha. Iya Mas, kalau kamu deal, aku juga siap resign," tantang Nahla yakin.


Sementara Icha hanya menjadi pendengar setia obrolan kedua orang tuanya yang belum begitu paham.


"Belum deal, tapi mau aku pertimbangkan." Pria yang belum genap tiga puluh tujuh tahun itu harus menyiapkan dana yang besar tentunya untuk mewujudkan keinginan istrinya.


"Oke Mas, masih ada waktu kurang lebih satu setengah bulan sampai masa cutiku habis. Setelah masuk, aku mau fokus bekerja dan juga keluarga. Tapi kalau kamu deal, aku full di rumah," ujarnya tersenyum.


Hanan balas tersenyum, mungkin ia akan membahasnya nanti dan menunda cabang usahanya dulu agar bisa terealisasi.


"Icha sudah selesai? Masuk kamar, gosok gigi dan boleh tidur kalau sudah ngantuk."

__ADS_1


"Tapi pingin main dulu sama Kai, Ma, seharian adek bobok terus, giliran aku udah pulang, malah adek lelap."


"Icha, adek Kai juga mau bobok, ini ksn sudah malam."


"Boleh kok sayang, mau di kamar mama atau kamar Icha?" Hanan menekan pandangan tak setuju, dirinya bahkan berencana membuat agenda kunjungan khusus dan tidak bisa diganggu.


"Emang adik Ksi boleh dibawa ke kamar Icha?" kata gadis kecil itu kegirangan.


"Boleh," jawab Nahla tersenyum santai.


"Sabar dong Mas, masih jam segini, biarkan mereka tidur dulu, nanti kalau dipaksa malah nggak mau, kamu mau digangguin," bidik Nahla membuat Handn mendengus sabar. Ngalah dulu sama anak, dan harus sabar. Begitulah ultimatum yang digumamkan istrinya.


Nahla beriringan dengan Icha meninggalkan meja makan.


"Icha naik duluan, mama jemput Kai dulu di simbok," ujarnya berjalan ke ruang keluarga.


"Mbok, gantian makan dulu, sini Kai sama aku. Makasih ya mbok, aku ke kamar dulu." Nahla mengambil alih Kai dari mbok, lalu membawanya ke kamar.


Sementara Hanan sudah menunggu istrinya di kamar utama. Namun, kenapa mendadak lama sekali tak kunjung kembali.


"Jangan-jangan aku ditinggal tidur di kamar Icha, masa iya sih Nahla lupa," batin pria itu gegas turun dari ranjang. Menyusul istrinya ke kamar putrinya.


"Belum tidur?" tanya Hanan membuka pintu cukup berisik lalu mendekat.


"Sshhttt ... jangan kenceng-kenceng, Icha baru saja tidur, Kai sebentar lagi KO, kamu tunggu aja di kamar Mas," ujar Nahla tersenyum melihat wajah mupeng suaminya.

__ADS_1


__ADS_2