Jodohku Mas Duda Jutek

Jodohku Mas Duda Jutek
Bab 51


__ADS_3

"Ma, Icha boleh bobok sini nggak? Icha kangen," pinta gadis kecil itu enggan beranjak sama sekali.


Nahla mengangguk, tentu saja perempuan itu membolehkan.


"Icha nggak boleh gangguin mama ya, kasihan biar istirahat." Pak Hanan memperingatkan.


"Nggak pa, kan cuma menemani mama," ujar gadis itu benar adanya.


Nahla sendiri hanya tiduran saja di kamar, tanpa melakukan aktivitas lainnya. Semua dikerjakan orang lain, dan Nahla terima beres.


"Mau ke mana, Dek?" tanya Hanan melihat pergerakan istrinya. Pria itu tengah sibuk di depan laptop bekerja dari rumah.


"Bosen di kamar terus Mas, pengen ke bawah. Aku pengen makan asinan Mas," pinta perempuan itu jenuh juga. Turun dari ranjangnya.


"Owh ... biar aku minta simbok bikinin. Kamu kan harus bedrest," ujarnya beranjak. Tidak mengizinkan istrinya naik turun tangga yang akan membuatnya banyak bergerak.


Nahla yang hampir beranjak pun urung dan kembali duduk.


"Aku nggak pa-pa Mas, aku tuh cuma hamil bukan sakit yang serius," protes Nahla memberengut.


"Naik turun tangga itu capek sayang, mau asinan kan? Biar simbok yang bikinin."


"Kenapa nggak kamu aja."


"Aku?" tunjuk Hanan pada diri sendiri.


"Iya Mas, kamu. Isinya mangga muda sama nanas ya, terus jangan lupa kasih gula garam sama bon cabe level 15," ujar perempuan itu membayangkan saja sudah membuat air liurnya meruah.


"Aku? Ya bisa sih ... kamu mau aku yang buat?"


"Iya, mau lihat juga cara buatnya. Aku mau turun Mas, males di kamar," rengek perempuan itu membuat Hanan yang sejatinya khawatir mengiyakan.

__ADS_1


"Oke deh boleh. Ayo turun!" ujar Hanan menuntunnya.


Keduanya turun menuju dapur. Berhubung tidak ada bahan asinan di kulkas, pria itu pun harus membeli bahan-bahannya dulu.


"Mbok, tolong beliin bahan asinan sama bumbunya. Aku mau bikin asinan request Mama Nahla."


"Siap Pak," jawab simbok mengiyakan.


Nahla sendiri menunggu di rumah sembari menyalakan TV di ruang keluarga. Sementara Hanan memboyong laptopnya ke bawah. Kerja plus mengawasi istrinya.


"Simbok kenapa lama amat ya," gumam Nahla sedikit tak sabar. Membayangkan asinan segar itu, rasanya pasti sangat enak.


Setelah beberapa jam, motor simbok memasuki halaman rumah. Perempuan itu langsung menghadangnya di depan pintu.


"Dapat Mbok? Nanas madu sama mangga ranum setengah matang."


"Nanasnya dapat Buk, tapi mangganya nggak ada yang setengah matang. Punten ini gimana Buk?"


"Duh ... nggak ada ya. Bentar deh aku bilang ke Nas Hanan dulu biar nyariin."


"Mas!" panggil Nahla mendekat.


"Iya, bentar aku selesaikan ini dulu, nanggung," ujarnya tanpa menoleh.


"Ayo! Mas buatin," ujarnya berdiri. Lebih dulu menutup laptopnya.


"Mangganya nggak ada yang mateng, minta tolong cariin bisa nggak?"


"Di pasar nggak ada? Tempat rujak gitu?"


"Nggak ada Pak, sudah habis," sahut simbok menghadap majikannya.

__ADS_1


"Duh ... nyari ke mana? Di mall ada nggak?" Mendadak pria itu sedikit bingung.


"Mana aku tahu, nyari sana!" ujar Nahla tidak mau tahu. Mendadak kepengen banget asinan yang buat sendiri.


"Iya Dek, iya bentar. Sabar ya?" ujar pria itu mengambil ponselnya.


Pria itu pun mulai berselancar di sosial media. Mencari mangga muda di beberapa toko online, dan ternyata hasilnya cukup memuaskan. Banyak yang jualan juga. Tinggal memesan dan menunggu pak kurir datang.


"Mas, kok malah nyantai, ada nggak?"


"Ada kok, tenang. Aku minta yang paket kilat dibayar di tempat. Tenang Dek," ujarnya dengan senyuman. Padahal dalam hati mulai gelisah, takut datangnya lama dan istrinya kadung ngambek.


Nahla masih menunggunya dengan sabar, sementara Hanan sibuk sendiri.


"Pa, kok pada di sini? Mama kenapa tidur di sofa. Bukannya lagi sakit?" Icha turun menghampiri.


"Icha udah bangun? Eh ... iya, mama ketiduran nungguin papa kerja," ujarnya jelas berdusta. Pria itu kepedean sekali, yang ada nungguin pesanan tak kunjung datang.


"Icha udah makan belum? Minta tolong sama simbok buat ambilin Nak," ujar Papa Hanan sibuk sendiri.


"Belum, iya deh Pa, padahal pengen makan bareng mama," ujarnya cemberut.


"Nanti ya, kasihan mama bobok, ditemani papa dulu mau? Tapi bentar, papa ambilin selimut dulu buat mama."


Pria itu menyelimuti istrinya dan memastikan tidurnya nyaman. Baru beranjak menemani Icha makan. Setelah beberapa saat kemudian, Nahla pun terbangun dan merasa lapar.


"Pa! Mama udah bangun!" seru Icha melapor.


"Icha, mama ketiduran," ujarnya beranjak.


"Dek, udah bangun? Sebentar ya pesanannya lagi otw. Sebentar lagi sampai," ujarnya kebingungan. Takut istrinya ngambek.

__ADS_1


"Kamu mah suka nggak jelas Mas, tahulah udah nggak mood," omel Nahla beranjak. Perutnya terasa lapar bagi memilih makan saja.


"Mbok, tolong masakin cumi pedes ya mbok, lagi pengen makan itu," pinta Nahla mengabaikan Hanan yang mendadak dicemberutin istrinya. Entah dosa apa, yang jelas gegara asinan belum terealisasi.


__ADS_2