
"Kita jemput Icha dulu Mas," ujar Nahla saat perjalanan pulang.
"Besok saja, ini sudah malam paling juga sudah tidur," jawab Hanan santai.
"Kamu nggak kasihan? Nanti kalau malam kebangun terus nyariin gimana?" Nahla malah yang khawatir.
"Enggak, ibuk pasti bisa atasi," ujarnya tenang.
"Ibuk? Emang Icha di mana? Nggak dititipin sama simbok," ujar Nahla bingung.
"Bukan, Icha sama ibu kamu, ibu kita maksudnya. Tadi aku titipin ke ibu."
"Eh, masa sih, kamu tega banget."
"Loh, ya nggak lah. Kan udah aku titipin, kecuali ditinggal baru namanya tega. Biar terbiasa kalau nanti kita ada acara berdua. Mana tahu nanti ditinggal bulan madu Icha udah paham dan ngerti kalau bakalan lama."
Nahla tidak menyahut lagi, mengikuti omongan suaminya pulang ke rumah. Tentu saja rumah baru mereka yang nampak sepi. Karena Icha tidak ada di rumah sedang art mereka hanya sampai sore hari saja.
Nahla langsung menuju kamarnya, diikuti Hanan yang malam itu terlihat lebih lega. Mendadak seperti ada sesuatu yang aneh saat di dalam ruangan hanya berdua. Sikap Hanan yang terus menatapnya, membuat Nahla jelas salah tingkah. Bahkan berusaha menghindari tatapan suaminya yang terpusat padanya.
"Duh ... Mas Hanan kenapa sih!" batin Nahla sengaja berlama-lama di ruang ganti. Kenapa jadi salting begini, bukankah mereka bahkan bukan pengantin baru lagi. Kenapa harus sekaku ini.
"Dek, lagi ngapain? Buka dong, aku juga mau ganti!" Hanan mengetuk pintunya.
Nahla tidak menyahut, tetapi beranjak membuka pintunya.
__ADS_1
"Udah? Kenapa lama banget?" ujarnya tersenyum.
"Udah Mas,"'jawab Nahla seraya berlalu. Mengabaikan muka Hanan begitu saja langsung menuju ranjang.
Suara derit pintu yang terbuka membuat perempuan itu makin deg degan saja. Apalagi saat Hanan menyusul merangkak ke kasur, Nahla dibuat deg degan seperti malam pertama.
"Dek, kamu udah tidur?" bisik pria itu memeluknya dari belakang.
Nahla berbalik, jangankan untuk tidur, mengantuk pun tidak.
"Belum Mas, tapi udah ngantuk," jawab Nahla jujur.
"Aku kangen, boleh nggak?" pinta pria itu dengan lembut. Merapihkan anak rambutnya yang menjuntai ke pipi.
"Emang kamu nggak capek? Apa tidak sebaiknya kita tidur saja Mas," ujar Nahla bingung.
Nahla terdiam, ia bingung mau jawab apa. Haruskah dia bilang kangen dan rindu juga, padahal kalau boleh jujur standar saja. Walau sempat kesal, tetapi menyikapi hasrat tubuhnya kenapa biasa saja.
"Dek, kok diem? Boleh kan?" ulang Hanan dengan nada berat. Sepertinya hasrat pria itu tak bisa ditahan lagi.
"Iya Mas, boleh," jawab Nahla pada akhirnya. Mereka suami istri jadi sudah sewajarnya melakukan hubungan seperti itu.
Terlepas masalah hatinya yang masih merasa abu-abu, bismillah saja dan berusaha untuk memperbaiki diri agar diberikan rumah tangga yang sakinah dan bahagia.
Mendengar Nahla mengiyakan, sontak senyum itu langsung terbit dari bibirnya. Seperti tak ingin menunda lebih lama, pria itu langsung bertandang memagut penuh kerinduan. Mengabsennya dengan penuh gairah setelah hampir dua pekan lebih keduanya saling diam dalam masalah. Akhirnya malam ini Hanan kembali bisa memeluk istrinya tanpa protes dan jutek.
__ADS_1
Malam itu, setelah berkongsi dengan hati. Sempat memberi jarak, hingga akhirnya benar-benar tidak saling bertatap.Seperti mendapat angin segar dan segala aral terkikis oleh sikap manisnya yang begitu teduh. Nahla kembali menyerahkan seluruh jiwa dan raganya untuk suaminya. Kembali merasakan aroma tubuhnya dalam tetesan peluh yang sama, bahkan Hanan beberapa kali mengulangnya. Seakan kalap karena telah absen terlalu lama.
Mereka kembali mereguk indahnya madu pernikahan. Seakan semua rasa yang tak enak di dalam hati tersalurkan bersama rasa nikmat yang mereka rasakan. Bahkan, sesekali pria itu membisikkan kata cinta yang begitu menggebu dalam setiap helaan napasnya.
Rumah baru, kamar baru, dan mungkinkah cinta mereka telah diperbaharui? Hingga terasa damai lagi lega telah melewati hari ini dengan penuh gairah.
"Terima kasih sudah memberikan aku kesempatan kedua, aku berdoa semoga segera hadir adik Icha di sini," kata leia itu mengelus perut istrinya. Berharap setelah ada anak keduanya akan semakin terikat dan saling menyayangi tentunya.
"Kamu pingin punya anak dari aku?" tanya Nahla yang masih santai dalam urusan momongan.
"Iyalah ... tentu saja aku ingin kamu mengandung benih cinta kita. Rumah ini pasti akan sangat ramai dengan datangnya adik Icha."
"Semoga saja keinginanmu lekas disegerakan ya Mas."
"Keinginanmu juga, emang kamu nggak pingin punya anak?"
"Pingin sih, tapi aku takut kalau hamil kamu nggak bisa sayang sama anak aku nantinya."
"Anak kita Dek, terkecuali kamu hamil dengan orang lain."
"Tidak mungkin lah, kamu yang nidurin aku masa hamil sama orang lain."
"Ya, akan aku pastikan sendiri anak yang kamu lahirkan berasal dari hasil kerja kerasku semua. Semoga Allah menyegerakan doa kita."
"Aamiin ...."
__ADS_1
"Aamiinin dong Dek, jangan diem aja. Doa baik itu harus diaminkan."
"Iya Mas, aamiin."