
Icha terus mengekor neneknya yang saat ini tengah memakaikan baju Kai. Gadis kecil itu memperhatikan sambil menanyakan banyak hal. Sesekali mengelus kepalanya dengan gemas.
Sementara Nahla baru saja mandi, ibunya sudah mengundang tukang pijat yang akan memanjakan Nahla setelah ini.
"Icha sayang, ayo sarapan dulu terus berangkat! Keburu siang ini," ajak Hanan pada putrinya yang masih betah menunggu Kai. Hanan sendiri masih absen ke kantor, bekerja dari rumah sambil menunggu istrinya pulih yang masih butuh dirinya.
"Nanti, masih pengen nungguin adik," ujar gadis kecil itu enggan beranjak.
Nahla yang baru keluar dari kamar mandi ikut membujuk Icha agar putri kecilnya mau menurut.
"Sayang, sekolah dulu, nanti pulangnya bisa nungguin adek lagi, ayo sarapan bareng mama," ajak Nahla lembut.
Jika ibu suri sudah bertitah, Icha pun menjadi sangat penurut, langsung mengiyakan begitu saja. Keduanya turun menuju ruang makan.
"Icha sarapan sama papa ya, kasihan mama kalau harus naik turun gini, mama masih sakit," tegur Hanan tidak bisa membiarkan istrinya terlalu lelah.
"Mama masih sakit?" tanya Icha menatap ibunya dengan wajah menyesal.
"Nggak kok, ini udah sehat. Sekarang Icha makan ya, sebelum berangkat sekolah harus sarapan dulu, nanti bisa main lagi sama dedek."
"Iya Ma," jawab gadis kecil itu mengiyakan.
"Emang beneran udah nggak sakit?" bisik Hanan kepo.
"Ish ...," cebik Nahla gemas. Kenapa suaminya itu tidak paham juga. Tentu saja masih sakit, tetapi kasihan juga kalau merasa tidak diperhatikan.
"Habisnya bilangnya gitu, ya mungkin saja." Hehehe." Hanan berkata sembari mengecup pucuk kepalanya.
"Kamu mau kopi? Sarapan sekalian ini kan udah waktunya."
"Bentar, aku buat sendiri aja. Kamu jangan banyak gerak, katanya jahitannya masih ngilu."
"Butuh Mas, mau panggil ibu suruh sarapan bareng."
__ADS_1
"Eh, jangan, biar aku suruh simbok aja!" cegah Hanan beranjak meminta tolong pada pembantu di rumahnya.
"Mbok, tolong panggilian ibuk ya buat sarapan bareng!" pinta Hanan pada art-nya.
"Siap Pak," jawab simbok bergegas.
Belum sempat perempuan itu beranjak, Bu Kokom sudah turun duluan sambil menggendong Kai yang sedikit rewel, sepertinya harus mau nen. Apalagi baru saja mandi biasanya lapar.
"Buk, nangis? Sarapan dulu, sini Kai sama aku," ujar Nahla menaruh piring tengah menyuapi Icha.
"Rewel, laper ini," ujarnya menyerahkan pada ibunya Kai.
"Icha sini suapin nenek, biar mama kasih ASI dulu," ujar Bu Kokom berpindah tugas.
"Iya Nek," jawab gadis kecil itu langsung menurut.
Nahla langsung memberikan ASI pada putranya yang jelas merengek rewel meminta susu. Setelah menemukan sumber kehidupannya, Kai langsung terdiam anteng menikmati dengan mata mengantuk.
"Icha suapin nenek, Kai suapin mama, mamanya biar disuapin papa," ujar Hanan menyodorkan roti panggang yang masih hangat beberapa menit lalu matang ke mulut istrinya.
"Pinter, ayo habisin sarapannya," ujar Bu Kokom nampak begitu telaten.
"Sudah kenyang Nek, aku mau berangkat dulu. Ayo Pa anterin, aku nggak mau sama Pak Ahmad," ujar Icha pemilih sekali. Kesempatan ayahnya ada di rumah ya kenapa tidak.
"Iya. Sayang, aku anter Icha dulu ya? Ada yang mau dibeli nggak? Sekalian keluar." Mumpung sekalian jalan tidak bolak balik.
"Iya Mas, tolong diapers Kai yang ukuran bayi, merknya yang kemarin aja, itu nggak kurang lembut. Terus nitip punyaku sekalian ya, yang panjang khusus untuk malam, udah mau habis. Bisa kan?"
"Bisa," jawab Hanan langsung paham.
"Dada adik Kai, kak Icha berangkat dulu ya, salim, salim. Mana tangan kamu? Duh ... kecil banget." Icha meraih tangan Kai lalu menciumnya. Seolah berpamitan. Tak lupa gadis itu juga menyalim semua anggota keluarga.
"Yang pinter ya, hati-hati!" ucap Bu Kokom mencium cucunya menyemangati.
__ADS_1
Hanan pamit mencium putranya lalu istrinya. Nahla sendiri hanya tersenyum tengah repot sendiri sembari menghabiskan sarapan.
Saat Hanan dan Icha melangkah keluar, tepat tukang pijat panggilan Bu Kokom datang.
"Rumahnya Bu Nahla?" tanya seorang ibu mendatangi Pak Hanan.
"Iya benar, siapa ya?"
"Bu Endah, Pak, tukang pijat utusan Bu Komariyah."
"Owh ... panggilan ibu? Masuk saja Bu, ada di dalam," ujarnya lalu masuk ke mobil.
Kedatangan Bu Endah juru pijat langsung disambut hangat oleh Bu Kokom dan juga Nahla.
"Mari Bu, masuk! Ini anak saya yang baru lahiran," ujar Bu Kokom memperkenalkannya.
"Iya, selamat ya Nduk, sudah menjadi ibu. Jadi mau langsung saja."
"Iya, sebentar, minum dulu, itu sekalian biar Nahla kasih ASInya."
Bu Kokom membuatkan minum teh hangat untuk tamunya, sementara keduanya ngobrol santai, Nahla memindah Kai yang sudah tertidur pulas ke box.
"Mari Bu, ikut saya di atas aja," ujar Bu Kokom menginterupsi tamunya ke kamar sebelah yang belum terpakai.
"Nduk, itu mau di sini atau di kamar tamu aja."
"Kamar sebelah aja Buk, aku mager mau turun," ujar Nahla sudah bersiap melepas pakaiannya. Menyisakan yang perlu disisakan.
Nahla nampak menikmati pijatan demi pijatan tangan empuk Bu Endah. Pegal-pegal yang mendera setelah melahirkan terasa rontok semua tersentuh tangan trampilnya yang bertenaga, bahkan Nahla ketagihan dan meminta kalau besok datang lagi.
"Dek, aku cariin di sini?" tanya pria itu masuk ke kamar sebelah. Nahla baru saja selesai pijat masih membenahi pakaiannya. Sementara Bu Endah dan Bu Kokom sudah keluar kamar.
"Iya, kan baru dipijat, pesenan aku dapat nggak?"
__ADS_1
"Dapat, ya ampun ... setelah melahirkan montok banget, jadi kangen," celetuk Hanan demi melihat body bohai istrinya.