Jodohku Mas Duda Jutek

Jodohku Mas Duda Jutek
Bab 65


__ADS_3

Plak!


Dengan gemas pria itu menabok bokong istrinya yang bohay, membuat Nahla mencibir kesal.


"Ish, apa sih Mas, resek!" ujarnya lalu keluar dari kamar. Pria itu mengekornya dengan senyuman nakal.


"Kamu nggak ngantor?" tanya Nahla melihat suaminya masih santai.


"Ngantor dari rumah, biar bisa jagain kamu sama Kai," jawabnya sesantai itu.


Owner dari perusahaan manufaktur itu mensejajarkan jalannya sambil merangkul istrinya menuju kamar utama.


"Kenapa?" tanya Nahla demi melihat suaminya yang nempelin terus.


"Nggak ada, pengen deket aja, emang nggak boleh?"


"Boleh sih, tapi jangan terlalu dekat juga. Kamu meresahkan!" ucap Nahla jujur. Mengingat dirinya masih masa nifas, agak horor juga kalau suaminya mepetin mulu.


Hanan hanya menanggapi dengan senyuman pernyataan jujur istrinya. Apakah dirinya se meresahkan itu? Sepertinya pria itu tengah puber kedua, jadi bawaanya ingin selalu dekat dan dekat. Masalahnya istrinya baru melahirkan, jadi harus sedikit sabar agar aman lancar terkendali.


Perempuan itu mengecek barang belanjaan yang tadi dipesan. Apakah sesuai dengan yang diminta atau malah memilih produk lain.


"Mas, ini kok merk yang ini, aku kan udah bilang kurang lembut sampingnya," protes Nahla tidak sesuai ekspektasi.


"Eh, berarti aku salah dong," jawab Hanan ikut melongok ke kantong belanjaan.


"Salah sih enggak, tapi ya sudahlah sudah dibeli juga," kata perempuan itu tak mempermasalahkan lagi. Lalu menyingkirkan dari ranjang. Biarkan nanti simbok yang membereskan.


Suara ketukan pintu kamar membuat keduanya menyahut.


"Bu Nahla, ini jamunya," ujar simbok membawakan jamu-jamuan rekomendasi dari ibunya.


"Iya makasih Mbok," jawab Nahla menerima dengan ragu. Kata ibuk harus minum jamu setelah melahirkan biar sehat, rasa hati tak suka tetapi ia menurut saja.


"Sama-sama Bu," jawab simbok undur diri sambil mengemas pakaian kotor di ruangan itu.

__ADS_1


"Mbok, tolong itu nanti nyuci bajunya Kai dipisah ya, terus juga memakai detergen khusus."


"Yang kemarin itu kan Bu?" tanya mbok memastikan.


"Iya Mbok, jangan sampai keliru," pesan Nahla yang memperhatikan detail putra mereka.


Nahla mengamati cangkir berisi jamu yang siap disedu, belum minum saja kerongkongannya sudah getir lebih dulu.


"Kenapa sayang? Minum!" ucap Hanan memperhatikan istrinya.


"Pahit, kalau nggak diminum ibuk marah nggak ya?"


"Nggak tahu, bilang ke ibuk aja kalau nggak mau minum," saran Hanan bijak.


"Duh ... ribet nih, aku coba dulu deh," ujarnya sambil mengucap bismillah dan siap-siap lebih dulu.


Perempuan itu menutup hidung dengan tangan kirinya agar terhindar dari bau yang menyengat, mencoba menenggak sekali tegukan. Namun, baru saja masuk melewati tenggorokan rasanya mau muntah. Sepertinya perut Nahla mengalami penolakan. Perempuan itu langsung berjalan cepat ke kamar mandi memuntahkan isinya di sana.


"Dek! Ya ampun ... nggak usah dipaksa kalau nggak bisa? Kamu nggak pa-pa?" Hanan langsung mengejar istrinya. Menyusul ke kamar mandi yang tengah muntah-muntah.


"Udah ayo keluar, sampai gini banget." Pria itu mengambil tisu lalu mengelap bibirnya yang basah.


"Minum air putih dulu!" ujar pria itu kembali memberikan air mineral yang tersedia di kamar.


"Udah Mas, aman. Besok nggak mau lagi ah, nggak enak," ujarnya merasakan pahit yang tak berkesudahan.


Perempuan itu sampai makan banyak hal, dan buah-buahan segar karena rasanya masih seperti tertinggal.


"Nahla kenapa?"


"Nggak bisa minum jamu Buk, dimuntahin semuanya," jawab Hanan sesuai kronologi yang ada.


"Loh, beneran? Jamu emang pahit, Nduk. Dikasih gula aren kalau mau agak manisan dikit."


"Nggak maulah Buk, tobat," jawabnya tak ingin mencoba lagi.

__ADS_1


"Ya sudah nggak pa-pa, yang penting cepet sehat," kata Ibu tak masalah.


Nahla kembali sibuk dengan kegiatannya sebagai ibu baru, Hanan juga nampak sibuk membantu sekaligus bekerja.


"Eh, ini nanti teman rekan guru pada mau datang Mas, harus masak banyak ditambahin," ujar Nahla membaca pesan di grub keguruan di sekolahnya.


"Teman kerja kamu mau datang?" timpal Hanan sembari sibuk di depan laptop.


"Iya Mas, ini ada yang ngabarin." Nahla keluar kamar lalu turun mencari simbok yang ternyata sibuk di belakang.


"Eh, Buk, simbok mana?"


"Ada tadi di belakang, kenapa Nduk?" tanya Ibu memastikan.


Perempuan itu tengah ikut sibuk menyajikan kue kering ke toples.


"Mau banyak tamu Buk, ini rekan guru Mau pada ke sini," jawab Nahla sambil menilik persediaan kulkas.


"Owh ... ya tinggal ditambahin aja masaknya."


"Lauknya cuma ini ya Buk?"


"Sepertinya iya, Mau nambah lagi?"


"Iya Buk, nanti kurang."


"Jam segini pasar udah tutup belum ya sekalian ngirimin makan siang buat bapak, mumpung lewat."


"Mau ibuk aja yang ke pasar? Dianterin Pak Ahmad, Bu, nanti aku panggil," ujar Nahla menyebut orang suruhan suaminya.


"Siap," jawab Bu Kokom mengiyakan.


"Dek! Dek!" seru Hanan dari lantai dua. Memanggil-manggil istrinya yang tak kunjung kembali.


"Nduk, itu suamimu manggil," interupsi Bu Komariyah pada putrinya yang masih sibuk di belakang.

__ADS_1


Nahla langsung bergegas, menghadap suaminya. Terlihat pria itu tengah menimang Kai yang terjaga dan sepertinya butuh ASI dari induknya.


__ADS_2