
Hanan menanti dengan cemas. Tepat di sampingnya, ia mendampingi dengan batin tak pernah putus dari doa. Takut, perasaan itu kembali mendera. Bahkan, setitik embun bening menetes di sudut matanya. Terharu, bahagia, takut, gelisah bercampur menjadi satu. Saat tangisan seorang bayi terdengar memenuhi ruangan.
Setelah perjuangan panjang beberapa jam lamanya, akhirnya bayi laki-laki dengan berat 3,2 kg itu lahir ke dunia dengan selamat. Pria itu langsung mencium istrinya dengan haru.
"Terima kasih, kamu pasti kuat dan bisa melewati ini semua," ucap pria itu mengusap kepalanya dengan sayang lalu kembali mencium keningnya.
Bahagia yang dirasakan keduanya, rasa sakit luar biasa yang dirasakan Nahla seketika terbayar sudah dan membuncah bahagia kala mendengar tangisnya. Ternyata begini perjuangan seorang ibu, dan dia baru saja melewati fase paling krusial dalam hidupnya.
Putra mereka langsung ditangani dokter anak, sementara Nahla masih dalam pemeriksaan dokter yang bertugas menemani persalinan. Tentu saja melewati serangkaian lagi pasca melahirkan, masih deg degan dan sama sekali belum melegakan. Walaupun rasanya tidak setegang tadi. Rumit sekali ternyata. Pasrah saja lebih tepatnya, memang sudah begini kodrat wanita.
Perempuan itu mendapat beberapa jahitan, setelah selesai dan dibersihkan. Nahla dipindahkan di ruang observasi dalam pemantauan selama kurang lebih dua jam. Setelahnya baru dipindah ke ruang rawat mengingat semuanya baik-baik saja.
Hanan juga terlihat mendampingi di sana. Tak jemu menatap keduanya. Istri dan juga putra mereka.
"Mas, kamu udah kabari ibu?" tanya Nahla ingin berbagi kabar bahagia ini tentunya.
"Astaghfirullah ... aku lupa, iya aku kabari ibu sama bapak dulu," ujar pria itu saking paniknya. Apa-apa sendiri sampai tidak kepikiran atau bahkan lupa menghubungi orang rumah.
Pria itu langsung menyambungkan ke ponsel ibu, tetapi lama tidak diangkat. Beralih ke HP bapak mertuanya yang masih sibuk di pasar. Beruntung panggilan di sering pertama langsung mendapat tanggapan.
Pak Subagio nampak sumringah mendengar cucunya sudah lahir. Pria itu langsung menutup tokonya dan bergegas pulang mengabari istrinya. Mereka akan segera ke rumah sakit menjenguk putri mereka.
"Buk! Buk!" seru Bapak begitu masuk ke rumah.
"Apa to Pak teriak, teriak! Masuk tuh salam, Bapak kenapa jam segini sudah pulang?" tanya Bu Kokom keberanian.
__ADS_1
"Ayo Bu, cepet kita ke rumah sakit, cucu kita sudah lahir," ucap Bapak begitu antusias.
"Yang bener Pak, kok Nahla nggak ngabari? Malah Bapak yang tahu duluan."
"Nak Hanan tadi yang telpon Bapak, sudah to Bu ayo! Ngapain masih sibuk di dapur."
"Ini gimana masakan ibu, Pak, belum matang."
"Ya sudah, Bapak mandi dulu saja sembari nungguin masakan ibu yang nanggung itu."
"Alhamdulillah ... seneng dengernya kalau udah lahiran gini. Cewe apa cowok Pak?" tanya Bu Kokom heboh sendiri. Cucu pertama yang begitu dinantikan tentu saja berita ini sangat menggembirakan.
"Eh, bapak kok malah lupa nggak nanya, Bu, tadi perempuan atau laki."
Usai mengabari kedua orang tuanya, Hanan kembali mendekati ranjang. Putra mereka sehat, jadi bisa langsung disandingkan dengan ibunya.
"Udah Dek, mereka lagi ke sini," lapor Hanan pada istrinya.
"Iya Mas, makasih," jawab Nahla tersenyum.
Hanan juga mengabari putrinya yang saat ini menanti di rumah dengan simbok. Pria itu mengirim gambar bayi mungilnya pada Icha yang disambut senang pastinya oleh gadis kecil itu.
"Mas, aku harus, tolong!" pinta Nahla bangkit dari pembaringan. Duduk perlahan walau masih terlihat lemas.
"Iya," jawab Hanan langsung beranjak.
__ADS_1
"Minum sayang, makan ya aku suapin," ujarnya memulihkan tenaga ibu bersalin.
"Aku bisa makan sendiri kok, nggak pa-pa," ujar Nahla merasa baik-baik saja.
Hanan tidak membiarkan itu, pria itu dengan telaten menyuapinya. Bahkan memastikan kondisi Nahla tetap terpantau baik dan kembali pulih.
"Apa yang kamu rasakan setelah anak kita lahir?" tanya Hanan sembari menyuapinya.
"Bahagialah pastinya, nggak nyangka aku udah jadi seorang ibu, rasanya seperti mimpi," ujar Nahla terharu dan bangga. Setelah melewati proses yang membuatnya masih terngiang, ia benar-benar telah melahirkan penerus bangsa.
"Kamu seneng nggak Mas?" tanya Nahla balik. Tanpa harus menjawab, pancaran bahagia dari wajahnya cukup terlihat mewakili semuanya.
"Baik-baik dan sehat selalu ya sayang, aku sangat bahagia, kita akan membesarkan anak kita bersama sampai menua bersama," ucap Hanan dengan sepenuh hati.
"Aamiin ... terima kasih sudah menemaniku, Mas, kamu pria yang baik," ucap Nahla merasa bersyukur. Hanan terus mendampingi dirinya. Orang pertama yang memeluk bayi mungil mereka seraya mengadzaninya.
"Kira-kira, anak kita mau dikasih nama siapa, Mas?" tanya Nahla yang belum ada ide sama sekali. "Kamu sudah punya nama?"
"Mm ... siapa ya? Aku ada beberapa, tapi nanti kalau kamu nggak suka, kita bisa menggantinya."
.
Tbc
Teman2 spill nama yang cocok untuk putra Mas Hanan dan Mbak Nahla dong. Dikomen ya ....
__ADS_1