
"Kita perlu bicara Dek, tolong jangan begini," ucap Hanan menahan pintunya. Nahla yang masih mode enggan jelas kesal, tetapi tak punya cukup tenaga saat Hanan berusaha mendorongnya hingga terbuka.
Perempuan itu menghela napas lelah, menatapnya malas. Sementara Hanan berusaha mendekatinya dengan lembut.
Setelah beberapa menit dalam keheningan, pria itu akhirnya membuka suaranya.
"Aku minta maaf atas sikapku yang sekiranya kurang berkenan di hatimu. Ayo pulang, tidak baik tinggal di luar begini sendirian. Semua masalah bisa dibicarakan dengan baik," bujuk pria itu sungguh hati.
"Aku masih nyaman begini, maaf Mas, tapi pandanganku terhadap kamu telah berubah. Aku minta maaf, aku tidak bisa," jawab Nahla seperti mati rasa. Untuk apa kembali kalau tidak ada cinta di antara mereka, sedang ia hanya merasa memenuhi kebutuhannya saja.
"Aku tahu sikapku kemarin mungkin tanpa sengaja menyakitimu, sungguh tidak ada niatan seperti itu. Aku juga berusaha menjalaninya, walaupun jujur aku juga belum bisa lupa sepenuhnya dengan apa yang telah terjadi dengan masa laluku."
"Tidak usah bersusah payah untuk melupakannya Mas, karena aku juga tidak akan memintamu untuk melupakan. Aku udah ikhlas dengan hubungan kita, tolong bicaralah baik-baik ke bapak, aku ingin pulang. Aku ingin kita berpisah," ucap Nahla setelah dua hari merenungi semuanya.
"Kamu masih emosi, sebaiknya jangan mengambil keputusan tanpa berpikir dulu, aku tahu mungkin di antara kita belum banyak cinta, tapi kita sekarang terikat, dan aku berusaha untuk menjaganya. Mulai sekarang aku janji bakalan lebih memahamimu, tolong jangan begini."
"Aku sudah memikirkannya, dan aku tidak bisa menjalani sebuah hubungan dengan orang yang belum tuntas dengan masa lalunya. Aku tidak mau menjadi bahan perbandingan atau bayang-bayang antara dirimu dan cinta terbaikmu. Aku ada Mas, tapi tidak pernah hadir di dalam hatimu, dan aku tidak akan pernah bisa bersaing dengan almarhumah istrimu. Maaf, sebaiknya jangan pernah memintaku untuk pulang, kalau hatimu saja masih gamang."
__ADS_1
Hanan menelan saliva dua kali untuk membasahi tenggorokannya yang terasa kering. Sepertinya hati Nahla terlanjur sakit, hingga bujukan darinya tak mampu membuat hatinya terusik.
"Aku akan berusaha untuk itu, pulanglah! Icha terus menanyakan kamu, kalau kamu belum bisa pulang untukku, aku mohon pulang untuk Icha," bujuk pria itu terasa sesak. Setidaknya ia sudah berusaha, dan berharap Nahla bisa berubah.
Nahla terdiam untuk beberapa detik. Ia sesungguhnya tidak tega dengan Icha, terlebih kedekatan mereka begitu murni, tetapi mengingat rasa kecewa yang ditorehkan ayahnya, membuat perempuan itu enggan untuk mengiyakan.
"Dia akan terbiasa tanpa aku seperti dulu, bukankah kamu pandai mengurusnya seorang diri. Aku hanya ibu sambung yang tidak berarti apa pun," sindir Nahla masih begitu membekas dengan perkataan Hanan tempo lalu. Pria itu bahkan mengatakan tentang sebuah keikhlasan dalam mengurus putrinya.
Sungguh Nahla tidak pernah berpikir seperti itu, ia bahkan dekat karena benar-benar menyanyangi. Namun, ketika keberadaannya bahkan tidak pernah dihargai, rasa ikhlas pun seakan tiada guna tak terlihat sama sekali. Karena pria itu tidak pernah melihatnya dengan cinta, tertutup dengan perasaan masa lalunya.
"Berapa waktu yang kamu minta untuk memperjelas semuanya. Apa kehadiran aku ke sini tak cukup bukti kalau aku masih ingin mempertahankan rumah tangga kita."
Hanan menghela napas berat, ia bahkan enggan beranjak sama sekali kalau tidak mengingat sore hari dan Icha di rumah sendirian karena simbok harus pulang.
"Aku akan menunggu kabar baikmu, semoga masih ada jodoh untuk kita berdua," ucap Hanan beranjak setelah berjam-jam berjibaku dalam kerumitan hati. Karena obrolan keduanya hingga kini belum menemukan titik temu.
Nahla tidak menyahut, sungguh ia pun berat dan merasa kasihan soal Icha, tetapi ia juga tidak ingin kembali kalau pria itu hanya soal butuh. Perempuan itu benar-benar ingin tahu sejauh mana Hanan memahami perasaannya. Sejauh mana pria itu belajar mencintainya. Karena hidup bersama tanpa cinta itu jatuhnya nyesek namanya. Sedang ia berusaha untuk memberikan segenap perasaannya. Sakit sekali rasanya.
__ADS_1
Perempuan itu langsung menutup pintunya rapat-rapat begitu Hanan keluar. Perasaannya masih terasa sakit, walaupun harus berakhir seperti sekarang, biarlah dulu begini. Ia sudah menyiapkan hati, seandainya perpisahan yang terjadi.
Sementara Hanan pulang dengan langkah lesu. Hatinya mendadak sakit, perasaannya kacau, ia bahkan seperti kehilangan sebuah harapan untuk bisa kembali. Apakah Nahla benar-benar ingin berpisah? Kenapa mudah sekali ia mengatakannya.
"Bapak sudah pulang? Maaf Pak, Icha dari tadi masih rewel, tidak mau makan dan mengurung terus di kamar. Simbok takut Icha kenapa-napa."
"Iya, makasih Mbok, biar nanti aku yang bujuk. Sekarang simbok boleh pulang."
Hanan yang baru masuk rumah langsung menemui putrinya. Terlihat gadis kecil itu tengah tiduran sambil berselimut.
"Icha, Icha sayang, kamu jangan rewel terus, makan ya?" bujuk Hanan setengah frustrasi.
"Astaghfirullah ... badan kamu panas begini sayang, kamu sakit?"
"Mama mana, Pa? Icha kangen, kok mama nggak pulang. Padahalkan Icha nggak nakal, kenapa mama pergi ninggalin Icha. Icha nggak punya ibu lagi." Gadis kecil itu menangis tersedu.
Hanan langsung menariknya dalam pelukan, sedalam itu rasa sayang putrinya dengan ibu sambungnya. Kalau Icha saja bisa merasakan kasih sayangnya yang tulus, kenapa dirinya bahkan menyakitinya hingga membuat luka dan kecewa.
__ADS_1
"Maafkan papa sayang, besok papa janji bakalan bawa mama pulang," ucap pria itu sendu. Sesakit ini ternyata rasanya.