
"Ini kopinya Mas!" Nahla menaruh mug di meja kerja suaminya.
"Terima kasih sayang," jawab pria itu menghentikan sejenak, lalu meraih pingganya agar lebih dekat.
"Masih lama lemburnya? Memangnya tidak bisa buat besok? Akhir-akhir ini aku perhatikan kamu selalu tidur malam." Nahla sering menjumpai masih sibuk di depan laptop saat dirinya terjaga setengah malam.
"Bentar lagi ya nanggung. Tidurlah ... nanti aku nyusul. Sembari habisin kopinya juga," ujar Hanan mengangkat gelas memperlihatkan pada istrinya.
"Jangan lama-lama, aku nungguin," ujarnya lagi pengen dimanja.
"Iya, ini bentar lagi, sekalian habisin ini."
Belakangan memang Hanan terlihat sibuk di rumah. Bahkan sering tidur larut, setelah menina bobok dirinya. Pria itu merapihkan selimut istrinya, lalu ikut merebah di sampingnya. meninggalkan jejak sayang di keningnya sebelum terlelap.
"Baik-baik ya sayang, sehat selalu sampai nanti kita bisa membesarkan anak kita bersama," gumam pria itu membawa Nahla dalam pelukan. Masih saja tersisa rasa takut yang mendera, walaupun sudah lama terjadi. Bahkan, ingatan itu masih lekat di memorinya, walaupun mencoba menghapusnya.
Hanan mempunyai riwayat kurang mengenakan mengenai mendiang istrinya. Hanan dan almarhum Olive menikah tanpa pacaran, karena suatu kondisi di mana pria itu yang akhirnya menyepakati.
__ADS_1
Awalnya tidak cinta, tetapi perlahan perasaan itu makin tumbuh seiring berjalannya waktu. Mereka dipertemukan dalam situasi yang unik, lalu Tuhan merestui pertemuan selanjutnya di kampus yang sama. Sampai pada akhirnya membawa mereka dalam sebuah ikatan pernikahan.
Banyak hal yang mereka lewati di awal menikah. Mulai dari perekonomian Hanan yang masih gonjang-ganjing, serta persinggungan keduanya yang jelas dari latar keluarga yang berbeda. Namun, keluarga Olive entah mengapa langsung sreg saja dengan dirinya.
Mereka menikah tanpa adanya cinta. Namun, seiring berjalannya hari rasa itu tumbuh dengan sendirinya karena pertemuan intens mereka. Keduanya cukup lama dikaruniai seorang anak. Beberapa tahun berlalu, pejuang garis dia itu akhirnya positif juga. Namun, saat menjelang persalinan entah mengapa Olive sudah terlihat berbeda.
Hari yang paling menakutkan, serta paling menegangkan untuk dirinya sekaligus bahagia karena ingin bertemu dengan anak mereka. Namun, semua berubah setelah melahirkan anak mereka ke dunia. Kondisi Olive pasca melahirkan terus menurun. Padahal sebelumnya bisa melahirkan dengan normal. Entahlah, memang sudah takdirnya. Seminggu setelah melahirkan, istrinya pergi untuk selama-lamanya. Meninggalkan kenangan bersama putri kecil mereka.
Hancur, sedih takut, semua menjadi satu. Pukulan terberat dalam hati Hanan. Hingga kurang lebih enam tahun ia masih entah sendirian membesarkan Icha seorang diri. Banyak yang mendekat, tetapi perasaan itu susah terganti. Berkali menghibur diri, tetap saja tidak ada yang klik dengan isi hatinya.
Sebelumnya Hanan hanya melihat alakadarnya. Namun, seiring kedekatan mereka dengan Icha, membuatnya menyadari kalau perempuan itu bukan hanya cantik, tetapi sangat cocok menjadi ibunya Icha. Setengah hati ia meminta pada orang tuanya. Cinta, tentu saja pria itu tertarik dengan gadis anggun seperti Nahla, walau jujur, hatinya belum bisa move sesungguhnya.
Hanan sadar, itu tidak baik dan tidak boleh. Namun, perasaan itu pun serasa tak bisa dipungkiri begitu saja. Sampai pada akhirnya, Tuhan menyentil dirinya, Nahla marah karena sikapnya yang tidak menghargai keberadaannya. Namun, Hanan bisa membuktikan kalau dirinya memang aslinya sudah sayang, hanya karena terjebak oleh bayangan masa lalunya.
Bahkan sekarang sangat sayang dan takut sekali kehilangan dengan perempuan yang kini tengah dalam pelukannya.
"Mas, kamu kenapa belum tidur?" tanya Nahla merubah posisinya menjadi memunggungi. Mencari kenyamanan di sisa malamnya.
__ADS_1
"Ini udah mau tidur kok, kamu tidurlah," jawab pria itu lirih. Tepat di belakang kepalanya sembari merapat meraih pinggangnya. Memeluk dengan sayang, mengelus perutnya yang membuncit.
Tak berselang lama, Nahla kembali merubah posisinya, perutnya mendadak tidak nyaman. Apakah dia salah posisi tidurnya. Kenapa miring kiri sakit, miring kanan nyeri.
"Dek, kamu kenapa? Kok gelisah gini?" Hanan yang belum tidur sampai terduduk memperhatikan istrinya yang sibuk bolak balik posisi.
"Nggak ada Mas, ini agak sakit, tapi sekarang udah nggak," ucapnya kembali berbaring mencari kenyamanan.
Hanan ikut berbaring, ia kembali mendekapnya seolah ingin selalu dekat. Namun, menit berikutnya Nahla kembali merubah posisinya saat tidak bisa merem dan malah merasakan nyeri di perutnya.
"Ini kenapa sakit ya? Perut aku sakit Mas," keluh Nahla membuat Hanan langsung terjaga.
"Perut kamu sakit? Jangan-jangan mau melahirkan, kita ke rumah sakit aja ya?"
"Masa mau lahiran sih, ini HPLnya masih tiga minggu lagi Mas, tapi ini sakit banget, sebentar nggak?"
"Ayo sayang, kita ke rumah sakit aja biar jelas!" Hanan langsung bergegas menyiapkan apa-apa yang harus dibawa.
__ADS_1