
Rasanya Nahla begitu lelah, tubuhnya pegal di sana sini. Bahkan tak bergairah sekali untuk aktivitas pagi. Kalau tidak sadar pagi ini mempunyai tanggung jawab di sekolah. Mungkin ia akan tidur lagi.
"Pagi Dek, perlu bantuan ke kamar mandi?" sapa Hanan yang pagi ini terlihat begitu sumringah. Rambutnya setengah basah dengan pakaian rapi, bahkan sudah bangun lebih awal dan merapihkan dirinya sendiri.
"Kamu udah rapih aja Mas, emangnya bangun jam berapa?" tanya perempuan itu turun dari ranjang perlahan. Terlihat jelas tanda merah di sepanjang leher jenjangnya. Hanan tersenyum melihat hasil karyanya yang masih begitu jelas membekas.
"Subuh tadi, kamu mandi dulu ya, biar aku siapkan sarapan," ujarnya beranjak. Nahla tidak menyahut, masuk ke kamar mandi dengan pelan.
"Ya ampun ... banyak banget," keluh Nahla geli sendiri melihat gambar dirinya lewat pantulan cermin di kamar mandi. Suaminya benar-benar membantainya tanpa ampun. Jejak pria itu ada di mana-mana. Bisa dibayangkan permainan semalam panasnya seperti apa.
Perempuan itu mandi agak lama. Lalu lebih dulu menunaikan kewajibannya dua rakaat yang sedikit tertinggal. Saat masih sibuk di depan meja rias, Hanan datang ke kamar membawa sarapan. Hal yang tak pernah terduga, dan belum pernah pria itu lakukan berbulan-bulan menikah. Sehingga cukup membuat Nahla kaget dan merasa terharu diperlakukan spesial pagi ini.
"Dek, ini sarapan dulu. Kamu pasti udah lapar banget kan?" ujar pria itu membawa nampan.
Nahla mendekat, ia hampir tidak percaya Mas Hanan bisa semanis ini. Memperlakukannya dengan penuh perhatian. So sweet sekali.
"Ini siapa yang bikin Mas?" tanya Nahla jelas kurang percaya.
"Akulah ... ayo makan!" seru pria itu berbinar bahagia. Full senyum pastinya setelah mendapatkan asupan vitamin semalam. Walaupun hasilnya membuat istrinya tak berdaya dan remuk tubuhnya.
__ADS_1
"Beneran? Emang bisa? Sejak kapan kamu terjun ke dapur?" Nahla masih setengah percaya.
"Sejak hari ini, tenang, aku pakai bumbu instan sesuai takaran digambar, jadi sepertinya rasanya tidak hancur-hancur amat. Sekalian latihan nanti siapa tahu kalau kamu hamil ngidamnya pengen masakan aku, kalau gitu kan aku udah bisa," ujarnya berbangga hati.
Nasi goreng homemade hasil karya paksu yang cukup langka dan perdana. Nahla mulai menyuap walau agak ragu. Kebetulan memang sudah lapar jadi pas dan semoga rasanya juga sesuai ekspektasi.
"Gimana rasanya, Dek?" tanya pria itu mendadak deg degan. Bukan ajang kontes tetapi kenapa perdana untuk dirinya itu merasa bangga dengan sendirinya.
Nahla mengunyah perlahan, tidak terlalu buruk walau masakan dirinya jelas menang jauh. Tetapi usaha suaminya pagi ini harus diapresiasi dengan bangga. Bahkan cukup membuat dirinya terharu dengan perubahan sikap suaminya yang mendadak so sweet dan tentu saja memanjakan dirinya dengan perhatian dan kasih sayang. Apakah kali ini mereka tengah jatuh cinta kembali dengan pasangan. Nahla berharap, dirinya bukan orang satu-satunya yang bahagia atas kejadian ini semua. Hanan juga merasakan perasaan yang sama. Bukan kamuflase yang sengaja tersaji atas dasar dibutuhkan saja.
"Kalau enak habisin dong! Besok aku buatkan lagi. Icha juga harus cobain," ujarnya semangat.
"Aku udah kenyang lihat cara makan kamu, Dek," ujar pria itu tersenyum.
"Bareng dong," ujarnya memberikan suapan ke suaminya.
"Hmm ... enak juga. Walaupun masih enakan kamu yang buat sih," kata pria itu setelah mencicipi masakannya sendiri.
"Enak kok," puji Nahla tersenyum. Harus diapresiasi, kapan lagi suaminya lagi bolong begini.
__ADS_1
Keduanya makan bersama dalam satu porsi. Menghabiskan, bahkan saling menyuapi satu sama lain.
"Berpangkatnya agak pagian ya jemput Icha sekalian bawa ganti seragamnya," ujar Hanan agar tidak bolak-balik.
"Aku pakai motor saja Mas, kamu jemput Icha, aku langsung berangkat," ujar Nahla simple.
"Loh kok gitu, kenapa nggak bareng aja. Anterin Dek!" seru Hanan penuh permohonan.
Nahla pun tidak bisa menolak, ia akhirnya mengiyakan.
"Nanti pulangnya naik taksi aja ya, aku pulang seperti biasa."
"Iya Mas, tolong ngabarin, biar aku nggak masak kalau makan di luar. Nanti udah capek-capek masak nggak kemakan, mubadzir," ujarnya masih ingat-ingat saja kejadian menyakitkan tempo lalu.
"Iya, maaf Dek, aku ngabarin. Tapi mulai sekarang kayaknya aku lebih betah makan di rumah. Kalau nggak capek masakin ya, tapi kalau capek ya beli aja nggak pa-pa."
"Nggak usah, aku bisa masak kok, asal dimakan aja. Sekalinya enggak, mungkin bakalan aku buang," sahutnya ketus. Membuang muka ke arah luar kaca jendela.
"Siap Bu guru, jangan sensian lagi dong, kita kan udah baikan," ucap pria itu mengelus puncak kepalanya dengan sayang.
__ADS_1