Jodohku Mas Duda Jutek

Jodohku Mas Duda Jutek
Bab 54


__ADS_3

Suasana di rumah Hanan cukup ramai hari ini. Bu Kokom dan Pak Subagio bahkan sudah datang pagi-pagi. Terlihat kerabat jauh Hanan sebagai kakak satu-satunya juga turut hadir di tengah-tengah kebahagiaan mereka.


"Mbak Ajeng, makasih sudah datang," ucap Nahla melihat kedatangan kakak iparnya yang belakangan menjadi tempat curhat seiring tingkah adiknya yang kadang bikin senewen.


"Alhamdulillah ... suamiku mau, padahal kalau sibuk banget juga aku tetep usahakan datang, dia mana boleh aku jalan sendiri," ujarnya menunjuk suami kakunya itu.


"Budhe ... Icha mau punya adik. Di perut mama sini ada dedek bayinya," ujar gadis kecil itu kegirangan.


"Icha sudah besar berarti ya, nggak boleh lagi ngrecokin mama terus, kasihan!"


"Budhe ... tante Uby nggak ikut?" tanya gadis kecil itu menanyakan tantenya.


"Nggak, tante ubynya lagi sibuk, besok kalau Icha punya adik, baru Budhe ajak."


"Asyik ... rumah Icha bakalan ramai ... banget. Budhe bobok sini kan?"


"Ayo Mbak masuk!" ujar Nahla mempersilahkan. Tak lupa saling bertegur sapa ramah dengan kedua orang tua Nahla juga.


"Acaranya mulai jam berapa? Ini Dek, buat kamu, semoga pas." Ajeng memberikan paper bag yang diduga isinya adalah beberapa potong baju hamil.


"Duh ... makasih banyak Mbak, jadi repot-repot," ujar Nahla tersenyum senang.


Hari ini keluarga besar Hanan sengaja dikumpulkan bersama di rumahnya dalam rangka empat bulanan kehamilan Nahla. Tak ada rasa syukur yang lebih berharga dari apa yang telah mereka dapat. Semuanya begitu indah dan rasanya luar biasa. Bahagia, bersyukur, mendapatkan kesempatan untuk menjadi orang tua dengan hadirnya zuriat di perut istrinya. Semoga Nahla selalu diberikan kesehatan beserta janinnya.

__ADS_1


"Ini sebentar lagi acara dimulai Mbak, nunggu beberapa tamu undangan saja."


Nahla, Icha, dan juga Hanan terlihat memakai pakaian yang senada. Siap menyambut tamu-tamu mereka yang dikhususkan untuk kerabat dekat dan tetangganya saja. Sekalian mengenal kompleks di sana karena belum lama mereka pindah.


Acara berlangsung cukup lancar dan penuh khidmat. Lebih dulu diisi dengan pengajian dan doa bersama untuk kesehatan Nahla dan janinnya. Mereka juga mengundang anak yatim untuk mengikuti doa bersama di kediamannya.


"Dek, ini kerudungnya kenapa?" tanya Hanan menyibak hijab putih Nahla yang sedikit ternoda.


"Eh, iya ini, tangan kamu kotor tadi pegang-pegang," tuduh Nahla menatap curiga.


"Eh, astaghfirullah ... kenapa sih, tadi aku rapihin sayang, bukan dikotorin," ujarnya gemas. Terkadang walau sudah berjalan sejauh ini ibu hamil itu masih terlihat sensi.


Nahla tidak menyahut lagi, bersalaman dengan tamu-tamu perempuan yang hadir. Tak lupa menyapa ramah semua orang yang memberikan doa.


"Semoga sehat selalu Mbak Nahla, sampai nanti melahirkan," ucap seorang kerabat yang ikut hadir.


Acara selesai siang hari menjelang sore. Setelah acara syukuran, masih terlihat beberapa orang dekat dan sahabat dari Hanan masih duduk hangat bersama tamu yang lainnya.


"Nduk, Ibu sama bapak pulang ya? Sudah sore," pamit Ibu pada putrinya.


"Loh, udah mau pulang? Ibu sama bapak tidur di sini saja ya?" pinta Nahla pada kedua orang tuanya.


"Kapan-kapan ke sini lagi Nduk. Ibu pulang dulu, kamu sehat-sehat ya?" ucap Bu Kokom sembari mengelus perut putrinya. Seakan menyapa calon cucunya dengan penuh kasih sayang.

__ADS_1


"Iya Bu, tidur di sini saja, masih banyak kamar yang kosong," timpal Hanan sembari meraih pinggang istrinya.


"Jadikan adikmu sendirian, kapan-kapan ke sini lagi aja," ujar Bu Kokom yang diangguki Pak Subagio. Mereka pulang menjelang maghrib. Rencananya Hanan mau mengantar karena kasihan memakai motor, tetapi kedua orang tuanya menolak dengan halus.


"Nak Ajeng, ayo main-main ke rumah ibu," kata Bu Kokom ramah.


"Wah ... terima kasih, Bu, kapan hari ya insya Allah," sahutnya mengangguk tak kalah sopan.


Nahla mengantar kepulangan ibu dan bapaknya sampai teras depan. Rasanya masih sayang melihat mereka pulang. Namun, bapak dan ibuk sepertinya sudah tidak betah dan ingin segera pulang. Dekat, jadi mungkin kalau kangen bisa mampir kapan aja. Pada kenyataannya walaupun demikian suka tidak sesuai ekspektasi lantaran kesibukan masing-masing.


Suasana rumah terlihat sepi, tamu-tamu sudah pulang dan tinggal Mbak Ajeng saja beserta suaminya.


"Istirahat saja Mbak, nanti biar diberesin simbok," ujar Hanan menginterupsi kakaknya.


Abi dan Hanan sendiri masih berbincang hangat di ruang keluarga. Sementara Nahla mengantar putrinya tidur.


"Beruntung sekali kamu bertemu Nahla, Nan, dia sangat menyayangi Icha seperti anak kandung sendiri," ucap Ajeng ikut duduk di antara mereka.


"Iya Mbak, makasih udah selalu diingatkan. Mereka terlihat sangat dekat satu sama lain," ucap Hanan baru benar-benar menyadari dan paham. Dia telah memilih orang yang tepat, tidak hanya untuk dirinya, tetapi untuk putrinya. Walaupun sekarang semenjak hamil, Nahla banyak rewelnya dan Hanan harus ekstra sabar menghadapi kemauannya.


"Dek, pindah kamar, ayo jangan bobok di sini?" bujuk pria itu sengaja membangunkan istrinya yang sebenarnya belum tidur.


"Aku mau tidur di sini Mas, kamu kenapa jadi ribet sih, aku males jalan."

__ADS_1


"Ya udah, aku gendong ya?" ujar pria itu perhatian.


"Nggak usah Mas, aku bisa jalan sendiri. Di luar masih ada Mbak Ajeng sama suaminya, masa kita gendong-gendongan."


__ADS_2