
Hanan mrmijit pelipisnya yang makin berdenyut. Beruntung ada simbok yang pagi itu sudah berangkat, jadi pria itu bisa sedikit menepi.
"Mbok, Icha di kamar lagi rewel, tolong bujuk ya mbok, belum makan juga," ujar Hanan meminta tolong. Ia butuh minggir sejenak mengumpulkan kesabaran agar tidak khilaf memarahinya lagi.
"Iya Pak," sahut simbok bertanya-tanya. Mengiyakan dengan hati penasaran. Tumben sekali pagi-pagi Icha ngambek, tidak seperti biasanya yang bahkan sudah berangkat bersama ke sekolah.
Sementara Hanan kembali ke kamar, mengambil handphone miliknya lalu kembali menghubungi Nahla. Namun, tetap saja panggilan darinya tidak diangkat, bahkan satu pesan pun tidak ada balasan sama sekali.
Tak kehabisan akal pria itu pun mengunjungi sekolahan Nahla. Perempuan itu pasti sedang mengajar diang begini.
"Pak, Bu Nahla apa hari ini masuk?" tanya Hanan pada satpam yang pasti mengetahui keluar masuk orang ada di sana.
"Iya masuk, Bapak bukannya suaminya ya? Kok nanyain Bu Nahla?" tanya Pak Satpam penuh selidik.
"Iya Pak betul, memastikan saja apakah istri saya hati ini ke sekolahan atau tidak," ujarnya kalem.
Pria itu tidak mungkin menyusul ke dalam saat proses belajar mengajar. Ia akan menunggunya nanti sampai perempuan itu pulang. Tentunya pria itu akan kembali lagi nanti menjelang sore.
Hanan kembali pulang, berharap simbok sudah dapat mengatasi putrinya atau sekadar membujuk Icha untuk makan. Ternyata perempuan yang sudah cukup lama bekerja dengannya itu tak berhasil membujuk putrinya. Hanan sampai membuka kamar Icha dengan kunci cadangan karena pintunya dikunci dari dalam.
"Belum mau keluar?" tanya Hanan sedikit frustrasi. Kenapa putrinya menjadi pembangkang dan susah diatur, dulu padahal sangat penurut.
__ADS_1
"Belum Pak, saya udah ketuk-ketuk pintunya, tetep nggak mau dibuka juga," jawab simbok ikut bingung juga.
"Mbok, sini ikut saya sebentar?"
"Ke mana Pak!"
"Tolong beresi kamar saya, Mbok, aku ingin suasana baru," ujar Hanan merubah tatanan dalamnya. Ia ingin suasana baru untuk mendamaikan suasana hatinya.
"Ini jadinya digeser begitu Pak, atau gimana?"
"Iya, ini mudah kok, mari saya bantu. Gini aja, terus rapihin ya mbok. Sama satu lagi, nanti minta tolong siapa suruh mindahin ini lemari ke belakang aja."
Hanan membongkar barang-barang Olive, lalu memberikan pakaian dan semua pernak perniknya untuk orang yang mungkin membutuhkan. Jelas saja pakaian layak pakai dan terawat. Sementara foto-toto mereka Hanan singkirkan di gudang belakang yang mungkin tidak akan dijangkau Nahla.
"Maafkan aku Olive, bukan berarti aku melupakanmu, hanya saja kenangan kita akan selalu kusimpan rapih di hatiku saja. Kamu cinta terbaik yang pernah ada. Terima kasih sudah membersamai hidupku, kurasa Tuhan sangat menyayangi kamu. Bahagialah di sana, begitupun aku di sini, yang akan melanjutkan hidupku bersama anak kita dan istri aku," batin Hanan membenahi foto-toto kenangan keduanya.
Pria itu baru sadar saat meneliti lemari Nahla banyak barang yang berkurang. Rupanya perempuan itu membawanya sebagian sebelum pergi.
Usai menginterupsi art rumahnya untuk berbenah, dirinya kembali ke kamar Icha. Gadis kecil itu tengah tertidur ketika pintunya dibuka. Membuatnya makin ngerasa bersalah saja tadi pagi sudah membentaknya.
"Maafkan papa sayang, papa janji bakalan bawa mama pulang," ucap pria itu mengelus mahkotanya dengan sayang.
__ADS_1
Menjelang sore, lebih tepatnya siang hari jam saat pergantian pulang sekolah anak SMA, Hanan bergegas ke Tunas Bangsa. Dari kejauhan, sengaja mengawasi orang yang berlalu lalang melewati pintu gerbang hendak pulang. Sengaja diam- diam agar pergerakan Nahla terbaca dengan jelas.
Setelah menunggu cukup lama dan hampir membuatnya putus asa. Orang yang ditunggu-tunggu keluar dengan motornya.
"Mari Bu, saya duluan!" pamit Pak Agam merangguk ramah.
"Iya Pak!" sahut Nahla tak kalah ramah. Tersenyum manis tanpa beban. Seolah sedang tidak ada masalah apa pun. Membuat hati Hanan sedikit memanas. Apakah perempuan itu tidak merasa berdosa meninggalkan rumah tanpa pamit.
Hanan mengikuti motor Nahla yang tentu saja bukan pulang ke rumah orang tuanya. Ternyata benar, perempuan itu tidak pulang ke rumah orang tuanya.
Pria itu menepikan mobilnya, lalu turun agak berjarak dari halaman rumah yang ditempati istrinya. Nahla sendiri tidak curiga sama sekali, setelah mengajar ia pulang ke kosan.
Perempuan itu baru saja masuk ketika pintu kosan diketuk. Nahla yang sedikit parno itu tak lantas membukanya. Ia membiarkan lebih dulu siapakah gerangan yang bertamu sedang di sana perempuan itu penghuni baru.
"Siapa sih?" tanya Nahla dalam hati meragu untuk membukanya.
Perempuan itu terkesiap mendapati Hanan yang bertamu ke kosan. Tidak siap, sakit hati, dan kecewa kembali mendera hatinya saat setelah hampir dua hari merasa sedikit nyaman.
"Dek, kita perlu bicara? Izinkan aku masuk!" ucap Hanan menahan pintunya. Nahla langsung menutup begitu saja saat tahu yang mengetuk suaminya.
"Maaf Mas, aku capek, tolong jangan ganggu aku dulu, aku butuh pikiran yang tenang."
__ADS_1