
Pagi-pagi sekali Nahla sudah kedatangan Hanan. Pria itu sengaja menjemput istrinya sebelum berangkat kerja.
"Kamu kenapa pagi-pagi begini sudah di sini Mas? Emangnya nggak ngantor apa?" tanya Nahla ketus. Kesal sekali rasanya melihat wajahnya yang seolah menyesal itu. Entah benar begitu atau hanya kamuflase saja.
"Aku ingin menjemputmu, ayo pulang Dek!" ajak pria itu sungguh-sungguh.
"Aku kan sudah bilang jangan memaksaku, sebaiknya selesaikan dulu urusan hatimu itu, aku tidak mau menjadi bayang-bayang semu kalian."
"Aku mohon Dek, ikutlah denganku, Icha sakit dan dia terus nanyain kamu, sekarang Icha di rumah sakit."
Mendengar itu, Nahla terdiam. Sebenarnya Nahla juga tidak setega itu kalau dengan Icha, nalurinya sebagai ibu tergugah. Ikut sakit mendengar putrinya sakit.
"Sakit apa? Kok malah ditinggal ke sini?"
"Karena aku harus menjemputmu. Dari kemarin dia tidak mau makan, demam tinggi dan semalam karena panasnya nggak turun-turun aku bingung langsung aku bawa ke rumah sakit. Kalau kamu belum bisa memaafkan aku, datanglah untuk Icha, aku mohon," pinta pria itu setengah frustrasi. Dia tidak tega sekali melihat putrinya begitu merasa kehilangan ibunya.
Nahla menghela napas panjang. Ia tidak setega itu, sebagai seorang perempuan dan calon ibu, dirinya akan mengesampingkan egonya dan akan menemuinya.
"Di rumah sakit mana? Nanti aku ke sana. Sekarang aku harus kerja."
"Kamu izin saja ya untuk sehari saja, biar aku yang bilang dan bertemu langsung ke sekolahan. Kalau bisa sekarang saja ke rumah sakitnya. Aku rasa dia terlalu rindu denganmu makanya sampai demam."
Mendadak Nahla galau sendiri mendengar penuturannya. Kasihan sekali putri kecilnya sampai sakit. Walaupun dengan bapaknya teramat kesak, tetapi tidak dengan anaknya. Sedari kecil Icha bahkan belum sempat mendapatkan kasih sayang dari seorang ibu, dengannya mereka merasa nyaman.
"Gimana, aku berharap kamu mau. Tolong bujuk dia agar mau makan. Dia terus nanyain kamu."
Setelah beberapa menit hanya ada keheningan di antara keduanya. Dengan berat hati Nahla pun memahami. Ia akan datang untuk Icha tentunya.
__ADS_1
"Aku akan ke sana. Di rumah sakit mana, ruangan apa?"
"Alhamdulilah ...." Senyum lega nampak terukir di wajah Hanan.
"Ayo, kita langsung ke rumah sakit Dek!" ajak pria itu semangat sekali.
"Maaf Mas, aku bawa motor sendiri," tolak Nahla saat Hanan mengajaknya untuk bersama.
"Kenapa tidak satu mobil saja, kita datang searah dan pergi ke tempat tujuan yang sama."
"Tapi hati kita tidak sama Mas, dan sebaiknya aku cukup tahu diri dengan berangkat sendiri saja," sindir Nahla blak-blakan.
Rasanya ingin ngeyel, tetapi takut istrinya malah berubah pikiran. Membujuk untuk pulang saja setengah frustrasi. Yang penting mau dulu menemui Icha, sisanya nanti bisa dinego itu pun kalau mujur.
Nahla mengekor mobil suaminya yang menuju rumah sakit. Setelah perjalanan kurang lebih lima belas menit, Nahla masuk ke basement rumah sakit. Memarkirkan motornya dengan benar, lalu masuk mengikuti langkah Hanan yang sedari tadi jelas sudah menunggu.
Keduanya masuk ke ruangan di mana Icha dirawat. Gadis kecil itu terlihat tengah menutup matanya dengan infus menghiasi tangan kirinya.
Nahla mendekati ranjang, sepertinya Icha tengah tertidur. Mungkin baru saja minum obat setelah dilakukan pemeriksaan. Perempuan itu menatap sendu, kasihan sekali rasanya melihat putri kecilnya terbaring lemah di rumah sakit.
"Duduk dulu, dia pasti senang banget kalau bangun nanti kamu ada di sini," ujar Hanan menyediakan kursi.
Nahla menatapnya datar, tak mengambil duduk di mana Hanan mempersilahkan. Selebihnya sedikit menepi membalas pesan lebih dulu atas izin dirinya hari ini.
Hanan sendiri hanya menatapnya tanpa berani menyela. Membiarkan sesuai kenyamanan istrinya saja.
"Mama," lirih Icha mengigau. Matanya memejam, tetapi mulutnya terus memanggil ibunya.
__ADS_1
Mendengar itu, Nahla yang sebelumnya tengah duduk berjarak di sofa tunggu langsung mendekat. Begitupun dengan Hanan yang langsung menghampiri ranjang.
"Icha sayang, bangun, ini mama," ucap Nahla mengusap lengannya. Menenangkan agar putri kecilnya terjaga.
"Mama beneran ada di sini?" balas gadis itu lalu dengan tubuh lemas mencoba duduk.
"Iya sayang, ini mama di sini," jawab Nahla meraih tangannya.
Gadis kecil itu terulur menyentuh pipi ibunya.
"Bener Mama di sini? Icha kangen Ma," ucap gadis kecil itu menubruk tubuh ibunya. Nahla yang sedari tadi sudah membentangkan tangannya membalas pelukan hangatnya dengan penuh kasih sayang.
Melihat keduanya saling memeluk mata Hanan berkaca-kaca. Iya memberi jarak, menepi sembari memperhatikan keduanya dengan haru. Betapa mereka sangat dekat selama ini.
"Mama juga kangen sama Icha, cepet sembuh sayang," ucap Nahla sendu.
"Mama ke mana? Kenapa mama nggak pulang. Icha minta maaf kalau buat mama nggak suka," kata gadis itu dengan celoteh lembutnya.
"Icha anak baik dan pinter, tidak pernah buat mama kesel kok, cepet sembuh ya. Hari ini mama bakalan temani Icha," ucap perempuan itu iba.
"Mama nggak akan pergi lagi kan? Icha mau ikut kalau mama pergi," ujarnya sungguh-sungguh.
Perempuan itu terdiam, mendadak ia ragu untuk menjawab itu. Kasihan dengan Icha, tetapi masih sangat sebal dengan ayahnya.
"Iya, Mama nggak akan pergi lagi, mama akan selalu ada menemani kita," sahut Hanan menghampiri. Tangannya merangkul pundak Nahla dengan manis.
Nahla yang masih begitu enggan dengan sentuhannya bergerak menyingkirkan tangan suaminya agar tidak merangkulnya. Rasanya masih begitu kesal dengan sentuhan apa pun darinya.
__ADS_1