
Nahla yang belum tidur sepenuhnya jelas tidak nyaman dan merasa risih tangan suaminya memeluknya. Ia sengaja menyingkirkan tangan pria itu dan melemparnya dengan kasar.
Sepertinya Hanan tidak peduli dan tidak sakit hati, sebodo amat tetap bergerak memeluk bahkan menguncinya lebih erat.
Perempuan itu sampai merubah posisinya hingga berhadapan lantaran kesal dan sesak.
"Mas, apaan sih! Tahu kan kalau ak—" Mulut Nahla yang cerewet itu langsung disumpal dengan bibir Hanan agar terdiam. Membuat Nahla mendorong kuat dada suaminya agar berhenti merusuh.
Pria itu sedikit memberi jarak, sementara Nahla terengah hampir kehabisan napas.
Perempuan itu bangkit dari pembaringan karena takut mengganggu tidur Icha. Ia kesal sekali dengan Hanan makanya memutuskan keluar.
Hanan mengekornya, sebenarnya ia tidak suka berkata-kata dan inginnya aksi saja. Bahkan pria itu tak segan langsung mendekati Nahla di sofa dan menatapnya dengan kilatan berbeda.
Nahla yang kesal, jelas menghindari tatapan bentuk apa pun. Ia bahkan menyingkir saat Hanan kembali ingin menyentuh lagi.
"Kamu tuh kenapa sih, aku tuh kesel sama kamu. Bisa nggak jangan dekat-dekat!" omel Nahla sebal sekali.
"Astaghfirullah ... Dek, aku tuh udah sabar banget dari kemarin, kamu tuh istri aku, aku udah minta maaf, bisa nggak kamu nggak menghindar terus kalau aku pengen dekat."
"Ya aku nggak mau, nggak usah ngeyel deh. Orang masih bete tuh nggak minat kaya gitu."
"Terus kamu maunya gimana? Aku udah berusaha memperbaiki ini semua."
"Pikir sendiri, minggir! Kalau Mas nekat maksa, besok beneran aku ngga bakalan pulang. Kamu nggak kasihan sama Icha!" ancam Nahla sengit.
__ADS_1
Rasanya Hanan stress sekali, tidak berhasil membujuk istrinya dan malah berakhir perdebatan yang entah keberapa.
Nahla kembali ke kamar mengunci pintunya. Sedang Hanan mengelus dada dramatis sembari beristighfar banyak-banyak. Kepalanya makin berdenyut tak karuan.
Keesokan paginya, Nahla terjaga dan langsung bersih-bersih di kamar Icha. Ia dibuat kaget menemukan Hanan yang tertidur di sofa. Pria itu terlihat lelap. Nahla sendiri berjalan pelan melewati begitu saja.
Perempuan itu tengah bersiap-siap karena hari ini berniat akan mengajar. Sudah dua hari absen dan hati ini saatnya kembali bekerja.
Sementara Icha yang memang hari ini belum masuk, keluar kamar begitu saja mencari suasana baru. Gadis kecil itu dibuat kaget dengan keberadaan ayahnya yang masih tertidur di ruang keluarga.
"Pa, Papa kenapa tidur di sini? Papa tidak ngantor?" Icha membangunkan ayahnya.
"Papa sedang tidak enak badan sayang, papa pusing, mama?"
Hanan masuk ke kamarnya, terlihat Nahla tengah sibuk di depan meja rias.
"Kamu hari ini berangkat? Aku mandi dulu ya, nanti aku antar," sapa pria itu menghampiri dengan manis. Mengecup pipinya tanpa permisi.
Sedetik membuat Nahla terdiam, tetapi ia tersadar tidak boleh baperan atau akan sakit hati dibuatnya.
Pria itu terdiam lalu beranjak ke kamar mandi. Tak peduli ekspresi masam istrinya yang masih enggan.
Sebenarnya Nahla malas diantar suami, tetapi mengingat motornya belum kembali ia pun pasrah pagi ini. Sebenarnya ia ingin menanyakan motornya tetapi sungkan.
"Ambilin motor aku, katanya mau dibawain orang. Mana sampai pagi nggak balik," ucap Nahla setelah sampai di sekolahan.
__ADS_1
"Udah aku balikin ke bapak, biar dipakai ibu kasihan. Nanti kamu aku belikan yang baru ya, nanti siang biar aku jemput saja."
"Emang kamu nggak ngantor. Nggak usah bikin rumit deh. Aku bisa pulang pergi sendiri, biasanya juga nggak peduli," sindir Nahla ketus.
Perempuan itu hendak keluar begitu saja, membuat Hanan gemas dan langsung menguncinya otomatis.
"Mas, buka apaan sih! Nggak lucu ya ini sudah sampai di area sekolah."
"Kamu seperti bukan Nahla yang aku kenal, bahkan berangkat kerja saja sampai nggak mau pamit begini." Hanan jelas gemas dibuat jengkel istrinya berhari-hari.
"Semua orang bisa berubah Mas, kamu aja awalnya manis, perhatian, eh, nggak tahunya. Aku seperti tidak mengenal suamiku sendiri," sahut Nahla sinis.
"Oke, bisa kita mulai dari awal. Mari kita perbaiki sama-sama apa yang kamu mau, dan yang aku mau. Tolong katakan!"
"Aku sebel, aku kesal, aku kecewa, dan aku nggak mau tinggal di rumah itu. Paham kamu Mas! Kalau belum paham ya sudah terserah kamu saja!" kata Nahla lalu sengaja melewati tubuh Hanan untuk membuka central lock di panel pintu. Perempuan itu keluar dengan hati kesal. Boro-boro pamitan manis, keduanya malah lagi-lagi cekcok berkelanjutan.
Sepertinya Hanan harus membeli rumah baru untuk membuktikan keinginan Nahla. Siapa tahu dengan tempat tinggal baru, perempuan itu mau kembali membuka hatinya.
Siang harinya saat Nahla pulang, benar saja Hanan benar-benar menjemputnya. Seperti tidak ada pekerjaan lain saja. Karena malu di bawah tatapan beberapa guru yang malah tidak tahu menggodanya. Akhirnya Nahla mau pulang tanpa banyak drama.
"Bagaimana hari ini, Dek? Apakah suasana hatimu lebih baik?"
"Capek," jawabnya datar.
Pria itu melajukan mobilnya ke arah kediaman mertuanya. Apakah Hanan ingin mengembalikan Nahla karena sikapnya yang tak kunjung bisa diajak berdamai?
__ADS_1