Jodohku Mas Duda Jutek

Jodohku Mas Duda Jutek
Bab 45


__ADS_3

Hari ini Nahla mengajar seperti biasa sampai menjelang sore. Perempuan itu langsung pulang ke rumah tanpa mampir-mampir dulu mengingat Icha di rumah hanya dengan simbok saja.


"Buk, ini tadi ada titipan buat Ibuk," ujar simbok menghampiri Nahla yang baru masuk.


"Titipan? Dari siapa, Mbok?" tanya perempuan itu bingung. Sedikit mengintip isinya.


"Tadi ada kurir yang nganter ke sini, katanya buat Bu Nahla," ujarnya menyampaikan pesan.


"Terima kasih Mbok," jawabnya sambil lalu.


"Eh, ya, Icha mana?" tanya perempuan itu tidak menemukan putrinya.


"Tadi sama bapak, kurang tahu ke mana."


"Owh ... ya sudah nggak pa-pa. Berarti tadi Mas Hanan pulang ya Mbok?"


"Hanya sebentar jemput Icha, lalu pergi lagi."


Nahla langsung ke kamarnya di lantai dua. Kamar yang baru ia tempati dia hari ini setelah pindahan. Perempuan itu membuka paper bag titipan dari asisten rumah tangganya. Ia sedikit aneh ketika menemukan sebuah gaun malam syar'i lengkap dengan hijabnya.


Tak lupa terselip kertas bertuliskan 'nanti malam dipakai ya dari suamimu' Hanan. Dalam rangka apa suaminya memberikan gaun malam muslimah. Haruskah Nahla memakainya, atau mengabaikan saja tanpa minat.


Galau, alhasil memilih untuk memakai saja walau tidak tahu dengan perasaannya yang sekarang seperti apa. Ia juga sedikit berdandan agar makin kontras dengan penampilannya. Apakah suaminya menginginkan sambutan selamat datang sehanis pulang kerja. Sudah lama sekali Nahla mengabaikan kebiasaan baik itu semenjak mereka bertengkar. Bahkan terasa sudah mulai nyaman walau tahu itu salah.

__ADS_1


Kekesalan telah membawanya menjadi pribadi yang sedikit cuek dan masa bodoh. Tentu saja demi menjaga kewarasan dirinya.


Tak berselang lama suara deru mesin mobil memasuki jalan rumahnya. Nahla mengintip dari balkon kamarnya. Mas Hanan sudah pulang dan mendadak Nahla sedikit deg degan.


Pria itu sedikit berlari menaiki anak tangga. Tak sabar ingin berjumpa dengan istrinya di rumah yang mungkin sudah menunggu. Senyum di bibirnya langsung merekah begitu melihat Nahla memakai pakaian pemberiannya.


"Sudah siap?" tanya Hanan menghampiri dengan senyuman.


"Siap apa, Mas? tanya perempuan itu agak bingung.


"Kamu cantik sekali, ayo sayang!" seru pria itu sembari memujinya.


"Ke mana, Mas? Icha bagaimana?" tanya Nahla semakin bingung.


"Udah, ikut aja. Malam ini kita makan di luar ya. Icha sudah berada di tempat yang aman," ujar pria itu santai.


"Malam ini malam kita berdua, aku ingin kamu bahagia menikmatinya, begitupun dengan aku. Mari kita lupakan masalah kemarin dan memulai hidup yang baru. Maaf kalau aku baru menyadari hal itu dan semoga belum terlambat untukku," ucap Hanan sungguh-sungguh.


"Kamu yakin dengan perasaanmu, Mas, akan aku pastikan ini kesempatan terakhir untukmu," sahut Nahla tak kalah serius.


Ia lelah hati menghadapi semuanya. Berharap menikah sekali saja dengan pria yang mencintainya dan juga dicintainya.


"Apa wajahku terlihat sedang bercanda? Tentu saja aku serius, aku bahkan mulai jatuh cinta padamu, Nahla," ucapnya terdengar tulus sembari meraih tangannya.

__ADS_1


"Aku berharap kamu tidak membuat aku kecewa lagi, Mas, aku selalu paham dan tidak akan menuntut untuk kamu melupakannya. Aku hanya minta kamu menghargai orang yang jelas ada di depan matamu. Karena tidak dianggap itu sakit," ujar Nahla mengeluarkan isi hatinya.


"Ssshhtt ... aku paham itu, maafkan aku yang pernah keliru. Berhenti menghukumku karena aku sudah tidak sanggup lagi menahan semua perasaan ini."


"Apa kamu mencintaiku?" tanya Nahla ragu.


"Ya, tentu saja aku mencintaimu."


"Bukan hanya karena Icha saja?" tanya perempuan itu lagi memastikan. Tentu saja harus diimbangi dengan perbuatan nyata sehari-hari.


"Tentu saja bukan, untuk apa aku memenuhi semua keinginan kamu kalau tidak ada rasa cinta. Bisa kita memulai dinner malam ini penuh dengan keromantisan."


"Emang kamu bisa romantis?"


"Bisalah, walau dikit sih. Pahamilah suamimu itu type pria begini. Jadi jangan ngambek lagi."


"Ngambek juga ada sebabnya," ujarnya menyela.


"Iya, iya aku minta maaf. Jadi malam ini kita berdamai bukan?"


"Masih ada keselnya dikit."


"Eh, apa yang masih membuatmu mengganjal sejauh ini kita melangkah."

__ADS_1


"Aku butuh bukti, bukan sekadar janji. Karena perasaan itu yang akan semakin mengikat, bukan hanya sekadar omongan belaka."


"Aku tahu kamu pasti akan sulit percaya, tapi aku akan berusaha untuk membuat kamu dan Icha selalu bahagia hidup bersamaku."


__ADS_2