
Nahla turun dari mobil dengan wajah bingung, sementara pria itu terlihat santai berjalan ke arah pintu. Menyerukan salam yang langsung disambut ibu mertuanya.
"Assalamu'alaikum ... Bu," sapa Hanan menyalim takzim ibu mertuanya.
"Waalaikumsalam ... alhamdulillah sehat, Nak. Kalian apa kabar? Icha mana?" tanya Bu Kokom setelah meraih uluran tangan putrinya.
"Hanan baru jemput Nahla dari sekolah sekalian mampir, sudah lama tidak main. Icha di rumah tadi tidak ikut," jawab Hanan sopan.
Keduanya masuk hampir bersamaan. Hanan langsung mengambil duduk, sedang Nahla masuk ke dalam. Nahla kembali keluar sembari membawa nampan berisi minuman hasil karya Ibu. Selebihnya perempuan itu masuk lagi setelah menaruhnya tepat di depan meja suaminya.
"Bapak belum pulang, Buk?" tanya pria itu berbasa-basi.
"Sore, mungkin sebentar lagi," jawab Ibu sembari menenteng kue kecil dalam toples.
"Ya sudah sama Ibuk saja nggak pa-pa," kata pria itu membuat Nahla yang di ruang tengah makin penasaran saja. Sebenarnya pria itu mau ngomong apa sih?
"Nak Hanan ada perlu sama bapak?" tanya Ibu siap mendengarkan.
"Sama bapak dan Ibu juga, tapi sama Ibu juga nggak pa-pa. Jadi, rencananya saya dan Nahla mau bulan madu Buk, kasihan Nahla belum sempat aku ajak jalan. Insya Allah dalam minggu ini, kalau Ibu tidak keberatan saya mau titip Icha," ujar Hanan sungguh di luar ekspektasi.
Nahla yang jelas mencuri dengar sampai melongo mendengar keinginan pria itu. Yang benar saja, mereka bahkan tengah bersengketa rasa. Nahla pikir dirinya akan dikembalikan. Bagaimana ceritanya malah berpikir untuk berbulan madu. Menitipkan Icha ke ibuk? Perempuan itu geleng-geleng kepala.
"Aku kan belum libur Mas, terus Icha juga belum bisa ditinggal, memangnya mau liburan ke mana?" sahut Nahla menyembul dari balik pintu. Mulutnya gatal untuk tidak berkomentar. Suaminya itu kenapa suka sekali mengambil keputusan dadakan. Tuman!
"Terserah kamu Dek, maunya ke mana? Bukankah kita belum bulan madu? Siapa tahu kalau kita meluangkan waktunya Icha cepat punya teman baru," jawab Hanan tersenyum kalem.
Ya Tuhan ... rasanya Nahla pengen nimpuk mukanya yang sok bijak itu. Apa pria itu mikir kalau diri ini bahkan masih kesal.
"Aku udah banyak mengambil cuti, jadi tidak mungkin dalam waktu dekat ini."
__ADS_1
"Memangnya kamu cuti kenapa, Ndok? Kok sudah banyak?"
"Eh, iya Buk, kemarin sedikit nggak enak badan, terus Icha juga sempat sakit, jadi kemarin udah banyak mengambil jatah libur. Kasihan anak-anak didik terbengkalai.
Suara salam Bapak yang masuk menginterupsi semua penghuni rumah. Memaksa menengok dan mengucap balasan.
"Baru pulang, Pak?" tanya Hanan langsung berdiri dari duduk. Menyambut mertuanya dengan sopan.
"Iya, kalian sudah lama?" sahut Bapak ramah.
"Lumayan Pak, ini sekalian jalan jemput Nahla."
"Ya sudah duduk dulu, Bapak mau mandi dulu," ujarnya beranjak. Ibu ikut masuk menyiapkan keperluan suaminya. Tersisalah Hanan dan Nahla yang saling diam.
Pria itu mengambil minum, beberapa tegukan membasahi tenggorokannya. Nahla sendiri hanya melirik tanpa minat.
"Kamu maunya liburan ke mana, Dek?"
"Tapi aku udah minat, kalau kamu tidak mau nentuin tempatnya, berarti tempatnya aku yang milih."
"Sana berangkat aja sendiri!" ujarnya bodo amat.
Hanan menghela napas panjang, menatapnya serius. Yang ditatap menunduk tak peduli. Beranjak masuk ke kamarnya. Rindu sekali sebenarnya dengan tempat ini. Namun, hanya untuk kembali saat hati tengah dirundung luka pun kadang canggung. Bingung harus menjawab apa pada kedua orang tuanya jika tengah bersengketa rasa.
"Dek, pulang yuk, aku masih ada acara." Pria itu menyusul Nahla ke kamar.
"Aku mau nginep di sini Mas, kamu pulang sendiri ya?" ujarnya mengambil kesempatan mumpung sudah di rumah.
"Ya sudah kalau gitu, aku juga nginep di sini, nggak pa-pa."
__ADS_1
"Terus Icha gimana? Jadi bapak nggak peka banget."
"Ya makannya ayo pulang, kasihan Icha pasti nanyain lagi kalau aku pulang tanpa kamu."
Giliran Nahla yang melirik sebal sembari menghela napas lelah.
"Sabar Dek, besok aku ajak liburan oke sayang," ujarnya tersenyum.
Nahla tidak menyahut, keluar kamar dan langsung pamit pada Ibu dan bapaknya.
"Sudah mau pulang? Ibu lagi masak banyak ini, nanti bawa sekalian ya tunggu sebentar hampir matang."
"Nggak usah Buk, buat makan besok saja. Kasihan Icha sudah sore pulang dulu," pamit Nahla pada kedua orang tuanya. Diikuti Hanan pamit dengan sopan.
"Beneran nggak kangen sama masakan Ibuk, hati-hati ya!"
"Iya Buk, Pak. Kami pulang," pamit keduanya terlihat kompak.
Sepanjang perjalanan Nahla terdiam. Namun, ia sedikit aneh saat Hanan menempuh jalan yang tidak biasa dilewati.
"Kita mau ke mana?" tanya Nahla mulai waspada.
"Ke suatu tempat rahasia," jawab Hanan dengan senyuman.
"Kalau nggak jelas aku mau turun di sini saja. Males banget ngikutin!"
"Kamu insya Allah seneng kok," sahut pria itu yakin.
Pria itu terus melajukan mobilnya hingga berhenti di depan sebuah hunian yang cukup luas dan mewah.
__ADS_1
"Ayo turun, Dek!" ujar pria itu menginterupsi.
"Ini rumah siapa?"