Jodohku Mas Duda Jutek

Jodohku Mas Duda Jutek
Bab 66


__ADS_3

"Ini Kai rewel, minta ASI," ujar Hanan menyerahkan bayi mungil itu pada istrinya.


Nahla langsung menimangnya, lalu mengambil duduk dengan tenang. Memberikan ASI pada Kai yang memang terlihat kehausan.


"Tuh kan laper, makanya ngeruling. Wah ... Kai semangat sekali." Hanan ikut duduk di dekat istrinya. Mengamati putranya yang tengah menyabotase benda favorit dirinya.


Pria itu ikut usil di dekat Nahla, mengamati dengan senyuman devil.


"Kamu ngapain Mas? Tolong bilangin ke ibuk kalau makanannya sama lauknya pesan saja, kasihan harus ke pasar udah jam segini, mending beli di warung yang sudah mateng."


"Sekarang?" tanya pria itu masih betah berlama-lama di dekat istrinya.


"Iya Mad, masa besok, kan tamunya sekarang," ujar Nahla gemas.


"Oke deh," ujar pria itu beranjak.


"Boy, papa turun dulu ya, jangan dihabiskan, sisain untuk papa ya," seloroh pria itu beranjak, membuat Nahla geli saja. Suaminya itu random sekali, benar-benar meresahkan!"


Hanan menurut, turun menemui mertuanya. Menyampaikan amanat sesuai apa yang dikatakan istrinya.


"Buk, kata Nahla nggak usah belanja ke pasar, beli yang udah mateng aja, biar nggak repot," kata Hanan sambil mengeluarkan lembaran merah dari sakunya.


"Buk, Hanan nggak tahu, bawa segini dulu semoga cukup, kalau kurang telepon saja Buk, nanti biar Pak Ahmad ambilin."


"Cukup, cuma beli lauk sama sayur doang kan? Ini lebih dari cukup Nan."


Sengaja Hanan lebihkan mengingat apa-apa mahal, barang kali di jalan ibu kepingin dawet ada buat beli tidak harus mengeluarkan uang dari dompet sendiri.


"Ya sudah biar ibuk langsung berangkat saja, tolong panggilin yang mau nganter," pinta Bu Komariyah.


Hanan menelpon Pak Ahmad, tak berselang lama pria suruhan menantunya itu datang ke rumah.

__ADS_1


"Pak, anterin ibuk beli makanan ya, tolong sekalian nanti terserah ibuk milih tempatnya ngikut aja," ujar Hanan berpesan.


"Siap Pak Boss," jawab Pak Ahmad mengangguk setuju.


Setelah urusan penyampaian amanat selesai, Hanan langsung kembali ke kamar. Melihat istrinya tengah rebahan di kasur, pria itu langsung menyusulnya.


"Wah ... enak sekali ada yang bersantai, ngikut sayang," ujar pria itu memeluk perut istrinya. Merebah dengan telungkup.


"Eh, Mas, bukannya tadi lagi sibuk? Itu laptop kamu masih nyala."


"Sebentar, lagi nunggu hasil penjualan hari kemarin sama barang yang keluar," jawab pria itu tanpa merubah posisinya.


"Mas, jam berapa ini, sebentar lagi jemput Icha loh jangan sampai lupa."


"Aku ngantuk sayang, tidur bentar ya," sahut pria itu nampak kelelahan. Semalam ikut jagain Kai jadi dia tidak bisa tidur dengan tenang.


"Eh, beneran tidur Mas?" tanya Nahla mengusak rambutnya dengan sela jemari yang tak membuat pria itu membuka matanya. Hanan benar-benar tertidur pulas siang itu. Ia bahkan terbangun saat rumah sudah nampak ramai dan langsung tergeragap begitu mendapati belum menjemput Icha.


Pria itu terkesiap begitu menilik jam di ponselnya sudah menunjuk di angka hampir dua.


"Loh Mas, sudah bangun?" tanya Nahla yang saat itu tengah menggendong Kai hendak memindah ke box.


"Kamu kok udah dandan cantik gini, mau ke maba?" tanya pria itu menatap pangkling.


"Ya nggak ke mana-mana, masa mau banyak tamu harus pakai daster," sahut Nahla benar juga.


"Tamunya udah datang?"


"Itu yang di depan teman aku Mas, dia sama suaminya, temuin sana!"


"Bentar belum sholat, kamu kenapa nggak bangunin, yang jemput Icha siapa?"

__ADS_1


"Astaghfirullah ... aku lupa Mad, Icha belum dijemput," seru Nahla membuat Hanan ikut kaget.


"Serius, ya Allah ... anak sholehah aku bagaimana nasibnya," ujarnya langsung panik.


"Becanda Mas, becanda, ya ampun ... makanya kalau disuruh jemput jangan tidur, bagaimana kalau aku lupa beneran."


"Beneran udah pulang? Bikin orang jantungan aja, syukurlah kalau udah pulang. Namanya orang ketiduran ya bagaimana lagi. Sekarang di mana?"


"Ada di bawah, lagi main sama anak temen aku, dia hampir seumuran jadi berasa punya teman baru."


"Owh ... ya sudah aku mau sholat dulu, nanti aku ke depan," ujar Hanan beranjak.


Nahla sendiri kembali ke depan menemui tamunya. Disusul Hanan yang ikut menyapa ke ruang tamu. Mereka bercakap-cakap cukup asyik, kebetulan sahabat Nahla itu membawa suaminya jadi mereka seperti klop. Dua Bapak yang saling mengobrol.


"Kayaknya kita sudah harus pulang Na, sehat-sehat terus ya."


"Apaan buru-buru, masih jam segini juga. Ayo makan dulu, itu udah disiapin."


"Duh ... jadi ngrepotin banget ini mah, kita langsung aja pamit."


"Aku ngambek loh kalau nggak mau makan, itu anak kamu juga masih asyik main, sekalian disuapin, ayo cepetan makan dulu."


"Jadi ngerepotin beneran ini," ujarnya sungkan.


"Nggaklah emang udah ada, jangan sungkan ambil yang banyak. Ayo Mas, itu diambil monggo!" seru Nahla pada suami dari sahabatnya.


Akhirnya mereka makan siang bersama mumpung ada bestie. Kebetulan memang Nahla dan Hanan juga belum makan siang.


.


TBC

__ADS_1


Hallo gengs ... author punya cerita baru kepoin ya ... cari saja judulnya "Bad Romance" atau klik Asri Faris. Mohon dukungannya jangan lupa meninggalkan jejaknya 😘😘😘


__ADS_2