Jodohku Mas Duda Jutek

Jodohku Mas Duda Jutek
Bab 52


__ADS_3

"Maaf Dek, udah lagi pesen kok," kata Hanan menatap istrinya yang berwajah masam.


Nahla tidak menyahut, sibuk menekuri isi piringnya. Hingga sampai selesai makan perempuan itu tetap tak menanggapi omongan suaminya.


"Icha, mau bobok di kamar mama nggak?" tawar perempuan itu sengaja mengajak putrinya lantaran malas dengan suaminya. Masih mode ngambek dan kesal.


"Emang boleh ya Ma?" tanya Icha tentu senang hati. Namun, saat menoleh ke arah papanya, seketika Hanan menggeleng. Gadis kecil itu pun mengerti dengan kode yang diberikan ayahnya.


"Boleh dong sayang, ayo masuk!" ajak Nahla ke kamar utama.


"Maaf Ma, Icha lagi pengen bobok sendiri. Nggak pa-pa kan ma?"


"Eh, nggak pa-pa sih, kalau gitu selamat tidur sayang," ucap Nahla mencium keningnya.


Perempuan itu beranjak ke kamar, niat hati mengajak Icha lantaran tengah malas dengan suaminya, malah gagal gegara putrinya sedang ingin sendiri.


Nahla langsung tidur dengan pose memunggungi suaminya. Membuat pria itu gegana tak tenang.


"Dek, masih marah? Jangan gini dong, janji kalau besok pesanannya belum datang, aku bakalan nyari sampai dapat," ucap Hanan setengah berbisik.


Nahla tidak menyahut, pura-pura tidur lebih tepatnya. Padahal dalam hati kesal dan masih kepikiran manisan yang sepertinya lezat sekali.


"Aku nggak bisa tidur," keluh Nahla mengambil duduk.


Hanan ikut bangkit dari pembaringan. Lalu mengusap perut Nahla yang masih datar.

__ADS_1


"Adek sayang, maafin papa ya, janji deh besok dicariin. Anak pinter yang tenang ya, biarkan mama istirahat malam ini," ujar pria itu berbicara di depan perut istrinya. Seolah tengah berkomunikasi tingkat tinggi dengan janinnya.


"Tidur dulu, besok dicariin," bujuk Hanan sembari mengelus mahkotanya yang hitam legam.


Nahla kembali merebah dengan hati gundah. Ah, kenapa hanya perkara manisan saja rasanya sedih sekali. Apa orang hamil sesensitif ini perasaannya.


Perempuan itu masih betah memunggungi suaminya. Berharap bisa lekas tidur, tetapi kantuk tak kunjung menyapanya.


Pria itu memberanikan diri merapatkan tubuhnya, memeluk posesif sembari mengelus-elus perutnya. Sesekali mencium belakang kepalanya dengan sayang.


Entah di jam berapa Nahla dan Hanan tertidur, keduanya hanya saling diam tanpa kata.


Keesokan paginya, Hanan yang masih berselimut manja mendengar seseorang yang tengah muntah-muntah. Pria itu langsung membuka matanya, turun dari ranjang masuk ke kamar mandi.


"Eneg banget Mas, ini gimana?" keluh Nahla sampai lemas.


Hanan memapah istrinya yang hampir tumbang. Rasanya tidak tega sekali melihat Nahla setengah putus asa begini. Tidak ada semangat, terlihat tidak baik-baik saja.


"Izin lagi aja ya, nggak bisa kalau kaya gini masuk, aku yang khawatir," ujar Hanan jelas tidak setuju.


"Ini masih pagi, siapa tahu nanti sembuh," ujar Nahla tidak etis banyak izinnya.


Benar saja, agak siangan dikit, mual dan eneg mendadak hilang, ia merasa sangat lapar dan ingin segera makan.


"Aku lapar, Mas?" keluh perempuan itu ingin makan sesuatu.

__ADS_1


"Iya, kamu mau sarapan apa, Dek? Biar nanti dibuatkan simbok. Aku buatkan susu dulu ya sambil nunggu," ujar Hanan beranjak.


Setiap pagi Hanan telaten membuatkan susu, terus pria itu akan berangkat kerja. Pria itu juga mengantar Nahla ke tempat sekolahan. Semenjak tahu hamil, Hanan tidak memperbolehkan membawa motor sendiri. Walaupun awalnya Nahla tidak setuju karena menjadi repot. Tetapi demi keselarasan dan keamanan bersama, Nahla akhirnya nurut juga.


"Aku pulan!" seru Hanan sembari mencari-cari istrinya. Pasalnya, ia membawa pesanannya yang sempat tertunda.


"Bapak sudah pulang? Bu Nahla belum pulang, Pak," sahut simbok sesuai situasi yang ada.


"Loh ... Kok jam segini belum pulang," ujar Hanan jelas khawatir. Pria itu langsung mengambil ponselnya, segera menghubungi istrinya


Tak berselang lama, panggilan itu langsung diterimanya. Istrinya tengah ada kegiatan bersama rekan kerjanya. Salah satu dari anggota keluarga guru di sana ada yang tengah berduka, jadi, semua guru dan stafnya melayat bersama-sama siang itu.


"Sekarang di mana? Biar aku jemput," seru Hanan di ujung telepon.


"Aku kirim alamatnya Mas, masih di rumah duka ini." Nahla mengakhiri panggilan lalu mengirim lokasi di mana dirinya berada.


Tak harus menunggu lama, pria itu sudah mengabari menunggu di depan. Hana sengaja tidak turun dari mobil, hanya mengabari istrinya saja agar perempuan itu menyusul ke mobilnya.


Nahla pun pamit lebih dulu, berjalan pelan menghampiri mobil suaminya.


"Ada kegiatan di luar kenapa tidak bilang? Apa hari ini anak kita masih rewel? Mangga mudanya buat asinan udah dapat," lapor Hanan beruntun. Lega sekali rasanya sudah berhasil menemukan buah dicarinya.


"Udah nggak pengen Mas, aku mau yang lain aja. Bisa tolong belikan aku buah kedondong, sepertinya itu lebih enak untuk dimakan tanpa apa pun. Mual-mual aku bisa ilang kalau makan yang seger-seger."


"Sabar-sabar," batin Hanan menatap tak percaya. Adakah buah kedondong sore-sore begini yang masih buka. Pria itu kembali resah takut tidak dapat lagi.

__ADS_1


__ADS_2