
Nahla melirik suaminya dengan sebal, memberi jarak dan enggan menanggapi apa pun perkataannya. Ia lebih menjaga perasaan Icha dan tentu saja bertahan di ruangan itu karena Icha.
Perempuan itu bahkan tak beranjak sedikit pun terkecuali untuk sholat, karena Icha tidak mau ditinggal.
"Aku mau cari makanan, kamu mau pesan apa, Dek?" tawar Hanan pada istrinya yang tengah telaten menyuapinya.
"Nanti aku bisa beli sendiri," tolak Nahla dingin.
Pria itu menghela napas sepenuh dada, tak menawarkan lagi, tetapi setelah kembali sudah membelikannya untuk Nahla.
"Icha disuapin papa ya, biar mama makan dulu, kasihan dari tadi jagain Icha belum makan. Nanti mama capek."
"Mama belum makan? Mama sini makan bareng Icha, Ma, Icha bisa makan sendiri," ujar gadis kecil itu terlihat bersemangat. Bahkan demam yang semalam tak kunjung turun pagi ini terlihat normal dan pulih dengan cepat. Mungkin ini yang dinamakan sakit rindu, obatnya hanya dengan bertemu. Terbukti setelah bertemu dengan Nahla, Icha terlihat lebih sehat.
Hanan beranjak mengambil goodie bag berisi makanan pesanannya.
"Ini Dek, makan dulu," ujar Hanan memberikannya pada istrinya.
Nahla menerimanya lalu menaruh di nakas. Ia belum terlalu lapar, entahlah. Sebenarnya ia merasa tidak nyaman, tetapi demi Icha, Nahla tahan-tahan. Merasa sangat kasihan dengan putri kecilnya.
"Mama nggak makan? Nanti Mama sakit kalau nggak makan. Mama makan bareng Icha ya," pinta gadis kecil itu pengertian sekali.
"Iya, mama makan. Icha juga harus habisin biar cepat pulih. Biar bisa pulang lagi ke rumah."
Nahla baru makan setelah menyuapi putrinya. Sengaja duduk di sofa tunggu. Tak jauh berbeda dengan Hanan yang duduk di sebelah Nahla. Makan dalam diam sembari terus mengamati pergerakan istrinya.
"Makasih udah mau datang. Aku berharap bukan hanya untuk Icha, tapi juga untuk hubungan kita," ujar Hanan penuh harap.
Perempuan itu tidak menanggapi, ia terdiam menekuri box nasi di depannya. Malas sekali rasanya walau hanya sekadar ngobrol.
__ADS_1
Karena tidak ada tanggapan, Hanan pun terdiam. Ia kembali membuai putrinya yang hampir terlelap. Suasana sudah sore, sejujurnya Nahla ingin pulang. Tetapi bagaimana kalau Icha bertanya.
"Mau ke mana?" tanya Hanan mendapati pergerakan istrinya keluar. Icha sendiri sedang tidur, jadi perempuan itu tidak harus meminta izin keluar.
"Mushola," jawab Nahla sebatas itu.
"Nanti balik lagi ke sini, 'kan?" tanya pria itu lagi sedikit khawatir Nahla meninggalkan ruangan.
"Hmm," jawab Nahla hanya dengan gumamam.
Hanan sedikit bernapas lega, walau ada rasa cemas takut istrinya tidak kembali dan tiba-tiba minggat seperti kemarin. Icha pasti akan menanyakan terus dan akan berpengaruh dengan kesehatannya.
"Sudah hampir petang kenapa Nahla belum juga balik ya, ke mana sebenarnya Nahla pergi," gumam Hanan resah. Ia terpaksa meninggalkan Icha dan turun menuju mushola rumah sakit. Istrinya sudah tidak ada di sana.
Pria itu menghubungi ponsel istrinya yang sengaja diabaikan. Aktif, tetapi tidak diangkat sama sekali. Nahla memang sengaja, ia malas saja berhubungan apa pun dengan pria itu. Kalau bukan karena Icha, mungkin lebih baik berpisah daripada harus jalan dengan orang yang bahkan tidak pernah mencintainya. Merasa sia-sia saja selama ini pengorbanannya di rumah itu.
"Itu ponselnya bunyi, kok nggak diangkat," kata Gilang teman semasa SMA mereka.
"Jadi pasien gadis kecil bernama Icha itu anak kamu? Aku pikir kapan nikahnya. Terakhir ketemu masih kuliah kok anaknya udah sebesar itu. Kaget dong," ujarnya merasa heran. Gilang seorang dokter yang bekerja di rumah sakit itu.
"Iya, gitu lah ceritanya. Pernikahan aku cukup kilat dan undang orang terdekat saja kok. Ya sorry kalau kamu nggak kenotice."
"Aku berasa nggak dianggap, apakah aku terlupakan?" Keduanya pun terkikik bersama.
Pemandangan itu tak sengaja terlihat oleh Hanan yang memang sedang mencari Nahla. Tak terasa hatinya memanas seketika. Dengan orang lain bisa begitu terbuka bahkan tertawa lepas, sementara ditanya dirinya saja yang masih sah menjadi suami berasa ogah-ogahan dan juteknya minta ampun. Jelas ini membuat Hanan kesal seketika.
Pria itu menatap tajam keduanya. Hatinya bergemuruh kesal.
"Aku cari dari tadi di sini rupanya?" ucap pria itu datar.
__ADS_1
"Ya sudah, sampai ketemu nanti Gil," ucap Nahla mengangguk ramah.
"Iya, mari," jawabnya dengan senyuman. Mengangguk ramah dengan Hanan juga yang hanya dibalas senyuman tipis.
Nahla langsung berlalu mengabaikan Hanan tanpa kata. Sontak saja Hanan mengekor dengan gemas.
"Dia siapa?" tanya pria itu begitu sampai di ruangan Icha.
"Teman," jawab Nahla makin membuat pria itu makin kesal.
"Kamu kenapa sih, nggak menghargai banget keberadaan aku. Aku ini masih suami kamu, setidaknya angkat telepon aku."
"Aku tahu kok Mas, tidak usah khawatir, Mas menyuruhku untuk menjaga Icha, 'kan?"
"Bukan hanya itu, Dek, bisa tidak pikiran kamu sedikit dirubah tentang pandangannya terhadapku. Bukan hanya tentang Icha, tapi tentang kita juga."
"Masa sih, aku pikir kamu tidak peduli dengan aku. Karena hidupmu hanya tentang Icha dan masa lalumu. Benar begitu kan, Mas?"
"Oke, aku minta maaf, aku minta maaf."
"Aku sudah memaafkan dirimu Mas, tapi aku tidak bisa hidup di antara bayang-bayang masa lalumu, terlebih tidak ada cinta bukan?"
"Siapa bilang tidak ada cinta, kalau bukan karena cinta untuk apa aku menikahimu."
"Tapi perlakuanmu tidak menunjukkan itu, bagaimana bisa aku percaya."
"Terus sekarang maumu bagaimana?"
"Aku di sini hanya karena Icha, Mas! Jadi, terserah selanjutnya padamu."
__ADS_1
"Apa maksud kamu?"
"Mama, Papa!" panggil Icha menatap keduanya.