
"Mas, tolong bawa Kai ke sini, ASI aku penuh," ujar Nahla merasa tidak nyaman.
"Tapi dia masih bobok sayang, di pumping aja ya biar nggak sakit, nanti bisa distok di kulkas buat Kai."
"Iya Mas, bisa tolong ambilin, aku nggak enak badan gini."
"Iya, tungu di sini." Pria itu langsung beranjak mengambil pemompa ASI agar dipumping.
Saat Hanan keluar, Nahla mendekati Kai dan mencoba membangunkan bayinya. Sebelum dipumping alangkah baiknya Kai nen dulu sampai kenyang. Bayi mungil itu tak kunjung bangun, walaupun Nahla berusaha menyodorkan sumber kehidupannya pada bayi mungil itu.
"Dek, ini. Kai nggak mau bangun?"
"Sepertinya dia masih kenyang Mas, kan belum ada dua jam. Aku keluarin dengan alat bantu saja. Penuh banget dan ini sakit," ujarnya jelas tidak nyaman.
"Iya, sini Kai aku timang," ujar Hanan menggendongnya. Sementara Nahla sibuk sendiri.
"Ditaruh aja nggak pa-pa Mas kalau bobok, kamu bisa istirahat." Hari sudah malam, keduanya masih terjaga dengan kesibukan barunya.
Hanan dengan hati-hati kembali memindah Kai ke box tempatnya. Sementara Nahla baru selesai pumping ASI dan rasanya sedikit lebih enteng. Walau masih agak pening, mungkin masuk angin.
"Biar aku yang ngemas ke freezer, kamu istirahat saja. Ini aku yang beresin."
"Harus dibersihkan dulu loh Mas, terus itu juga dikasih tanggal biar tahu berapa lama nantinya," ujar Nahla mengingatkan.
"Iya sayang, nanti aku kerjakan. Sudah istirahat saja, aku beresin," ujar Hanan pengertian. Merasa kasihan, apalagi ngeluh tidak enak badan. Hanan jelas lebih takut istrinya kenapa-napa daripada dirinya capek.
Usai mengemas semuanya dan menaruh pada tempatnya, Hanan kembali ke kamar lalu menyusul ke ranjang. Mengistirahatkan tubuhnya yang terasa lelah dan penat. Rasanya baru terlelap sejenak, tiba-tiba terdengar suara tangisan bayi yang cukup mengusik. Seketika pria itu terjaga, melihat istrinya masih lelap. Hanan tidak tega membangunkan. Nahla juga baru saja tidur. Pria itu memilih membiarkan saja Nahla tetap tertidur. Dirinya memanasi susu yang baru diperas tadi.
"Cup, cup, sayang, bobok lagi ya, jangan rewel, kasihan mamamu capek," ujar pria itu dengan telaten.
__ADS_1
Merdeka, setelah memberikan ASI dalam botol, akhirnya Kai bisa kembali lelap dan Hanan pun bisa kembali menyusul istrinya ke ranjang. Bersiap mengistirahatkan tubuhnya yang cukup lelah.
Keesokan paginya, Nahla yang terjaga lebih dulu, kaget saat bayi mungilnya nampak anteng dan tertidur pulas. Kenapa semalam tidak bangun lagi dan sekarang ASI Nahla merasa harus dikosongkan.
"Sayang, ayo bangun, nen dulu, kamu pasti lapar," ujar Nahla yang nampaknya tidak direspon dengn baik oleh Kai. Hanya terusik sedikit, lalu kembali lelap dengan nyenyaknya.
Nahla beralih membangunkan suaminya, sebentar lagi subuh dan saatnya pria itu untuk bangun.
"Mas, udah subuh loh, ayo bangun!" ujar Nahla mengelus pundaknya.
Hanan tidak terusik, membuat Nahla kembali membangunkan dengan guncangan lembut.
"Bangun Mas, subuh," ujar perempuan itu lembut.
"Udah pagi?" tanya pria itu separuh mengumpulkan kesadarannya.
"Iya, bangun!"
"Kamu udah baikan?"
"Sepertinya aku masuk angin, minum obat boleh nggak ya?"
"Sebaiknya jangan, konsultasi ke dokter dulu sayang, jangan sembarangan minum obat tanpa resep dokter."
"Iya Mas, cuma agak pening. Aku mau bangunin Kai, dia perlu minum ASI."
"Belum lama udah minum sama aku, terus bobok lagi. Dia nangis, aku nggak tega bangunin kamu baru aja lelap," jelas pria itu membuat Nahla langsung terharu.
"Ya ampun ... segitunya Mas, manisnya suamiku, semoga sehat dan baik selalu. Makasih banyak udah peduli. Bangunin juga nggak pa-pa loh Mas, kan emang harus menyusui Kai."
__ADS_1
"Aamiin ... kamu juga, semangat! Kita akan merawat anak kita sama-sama sampai mereka tumbuh besar nanti."
"Iya Mas, makasih atas waktunya."
Rasanya keraguan itu perlahan sirna dan terkikis habis melihat betapa perhatian dan juga perangainya memperlakukan istrinya sekarang. Nahla semakin yakin dan tentu bertambah sayang, kalau cinta mereka makin kuat. Apalagi dengan kehadiran Kai di tengah-tengah mereka, tentu memberikan warna dan kehangatan tersendiri.
Hanan izin ke masjid pagi itu, sementara Nahla di rumah menjaga putranya. Icha sendiri selama ibunya masa pemulihan lebih sering diurus simbok. Sudah tambah besar, jadi makin mandiri juga. Hanya apa-apa masih perlu disiapkan.
"Pagi sayang, sudah mandi nih?" sapa Nahla menyambangi kamar Icha. Terlihat gadis kecil itu baru saja mandi hendak berganti pakaian.
"Pingin nggak masuk, tapi kata papa harus sekolah, padahal pengen main sama adik," lapor Icha yang sangat senang menungguin adik bayinya.
"Sekolah dulu, sebentar lagi kan udah mau lulus dari TK, nanti main lagi sama adik Kai," ujar Nahla lembut. Jangan sampai gegara kesibukan barunya mengabaikan putri kecil mereka yang juga butuh kasih sayang yang sama.
"Adik masih bobok, kok mama bisa jalan-jalan ke sini?"
"Lagi mau dimandiin sama nenek," ujar Nahla sedikit lebih santai. Ibunya datang pagi-pagi sengaja membantu kesibukan putrinya.
"Aku mau lihat dong!" Icha berhambur keluar dengan semangat menemui adik bayinya yang tengah dimandikan eyangnya.
"Adik Kai mandi? Dia sangat lucu, apa tidak dingin?"
"Airnya hangat sayang, dia senang kalau dimandikan, tidak rewel."
"Itu apa nek?" tanya Icha melihat sesuatu di perut Kai.
"Ini namanya tali pusar, nanti kalau udah kering jatuh sendiri dan adik kamu beranjak besar."
"Kok gitu, sakit?"
__ADS_1
"Ini harus hati-hati, iya kalau ketarik sakit, bisa berdarah. Makanya gantinya harus hati-hati," jelas Bu Kokom masih terampil juga mengurusi cucunya. Nahla hanya mrngimak, karena ia terlalu takut untuk memegang.