
"Nduk, ibu pulang dulu ya, mungkin besok nggak ke sini. Baik-baik, sehat ya cucu ibuk," pamit Bu Kokom terhadap putrinya.
Setelah hampir satu bulan perempuan itu wira-wiri ikut mengurusi Kak, lagaknya sore ini mengumumkan yang membuat Nahla mewek. Kalau boleh meminta, pengennya ditungguin terus, tetapi apalah daya, ibuk jiga punya kesibukan dan lain hal juga yang harus diurus.
"Sebentar lagi Buk, nunggu Mas Hanan pulang, sebentar lagi juga pulang," ujar Nahla masih terasa abot ditinggal pulang.
"Gimana Pak, nungguin Hanan ini? Nahlanya masih keder."
"Ya sudah nggak pa-pa," sahut Bapak mengiyakan sembari menghabiskan kopinya.
Menjelang maghrib Mas Hanan baru sampai rumahnya. Pria itu mengucap salam, lalu menyalim takzim kedua mertuanya.
"Assalamu'alaikum ... Pak!" sapa Hanan sopan.
"Waalaikumsalam ... baru pulang?" balas Bapak mengangguk ramah.
"Berhubung Hanan sudah pulang, ibuk sama Bapak pulang dulu ya, kalau ada apa-apa telefon saja."
"Loh kok buru-buru Pak Buk, sudah mau maghrib, setidaknya nunggu sholat dulu sekalian makan malam."
"Pengennya gitu Nak Hanan, tapi kasihan Tio di rumah sendirian. Dia bisa sampai malam nggak pulang keenakan nggak ada yang mantau," ujar Bapak benar adanya.
Hanan pun mengangguk maklum, adik iparnya itu tengah masa remaja jadi sangat wajar kalau kadang agak sedikit telat-telat pulang.
"Makasih banyak Bu, sudah banyak membantu kami di sini, sudah banyak ngerepotin ibu, maaf tidak bisa balas apa-apa."
"Ngomong apa sih, selama ibu masih bisa dan sehat, tentu akan sangat senang bisa diberikan kesempatan melihat cucu-cucu ibu lahir."
Hanan merasa beruntung mempunyai mertua yang begitu baik dan perhatian. Pria itu tak lupa memberikan sedikit rezekinya untuk dikirim kepada kedua orang tuanya yang dititipkan ke Nahla lebih dulu.
__ADS_1
"Hati-hati ya Pak, Buk, besok kalau udah boleh ke rumah ibu aku mau nginep," ujar Nahla berantusias sekali.
"Udah dikasih ke Ibu, sayang?" tanya pria itu setelah kedua mertuanya balik.
"Ibu nggak mau, katanya kebanyakan, buat beli susu Kau saja."
"Terus?" tanya pria itu sambil berjalan beriringan menuju kamar.
"Ya aku bilang dari Mas Hanan, jadi harus diterima. Makasih loh Mas, udah aku paksa kok."
"Owh ... syukurlah, biar buat tambah modal usaha Bapak juga," ujar Hanan merasa senang.
"Kamu mandi dulu Mas, terus makan!" Nahla memindah Kai dari gendongan ke box. Perempuan itu menyiapkan pakaiangan ganti untuk suaminya.
Sementara Hanan mandi, Nahla juga meyinggahi tas kerja suaminya dan jam tangan ke tempatnya. Pria itu keluar dari kamar mandi hanya berbalut handuk saja dengan rambut setengah basah.
"Iya sayang," jawab Hanan lekas memakai bajunya lalu bertugas menunggu Kai yang masih anteng.
Nahla sendiri lebih dulu ke kamar putrinya, terlihat gadis kecil itu tengah sibuk di meja belajar dengan kertas lipat warna warni. Lalu beranjak ke dapur meminta mbok art-nya untuk memasak makan malam.
"Eh, bikin apa Icha cantik, ayo keluar sayang, makan dulu, Icha mau makan sama apa?"
"Iya Ma, Icha pengen apa ya, nggak ada yang dipengenin Ma. Papa udah pulang?"
"Sudah, lagi sama dedek di kamar."
"Aku mau ke kamar ya Ma," ujar Icha antusias menyusul. Nahla mengangguk lalu meninggalkan kamar.
Perempuan itu nampak sudah mulai terbiasa dengan kesibukan barunya. Dibantu art di rumahnya menyiapkan semuanya.
__ADS_1
"Mas, Kai ditinggal?" tanya Nahla melihat suaminya hanya berdua dengan Icha saja menuruni anak tangga.
"Tidur sayang," jawab Hanan sambil menuntun Icha.
"Mbok, tolong temani bayiku dulu ya," pinta Nahla meminta tolong.
"Siap Buk," jawabnya bergegas ke kamar.
Mereka hendak makan malam, sudah berkumpul di ruang makan. Nahla menyiapkan untuk suami dan anaknya.
"Mulai besok ada yang bantuin jagain Kai, sayang, aku sudah meminta yayasan penyalur kerja untuk mengirim ke rumah kita. Biar ada yang bantuan jagain Kai, kamu punya banyak waktu untuk diri kamu sendiri dan semuanya."
"Harus besok ya Mas, cutiku kan masih lama."
"Nggak pa-pa, kasihan kamu capek," unatnya pengertian sekali.
"Iya deh, terserah Mas aja."
Mereka makan dengan khusuk, setelahnya kembali ke kamar, lebih dulu menemani Icha agar bisa tidur dengan nyaman dan tenang. Sementara Kai sudah bersama ayahnya di kamar utama.
"Icha bobok ya selamat tidur!" ucap Nahla meninggalkan jejak sayang di keningnya. Lalu beranjak ke kamar sebelah yang sudah ditunggu suaminya.
"Icha sudah tidur?"
"Sudah Mas, kamu kenapa tidak istirahat, Kai juga sudah tidur."
"Nungguin kamu, udah bersih belum?" tanya pria itu langsung menarik istrinya mendekat.
"Belum Mas, masih dikit, sabar ya, mungkin besok," ujar Nahla yang sebenarnya masih harap-harap cemas. Kalau bisa dinego, mau entaran aja nunggu dua atau tiga bulan bila perlu. Masih takut mengingat perdana setelah melahirkan.
__ADS_1