
Hanan langsung mengunci pintunya, sepertinya pria itu salah paham, ini bahkan waktu maghrib.
"Hehe. Ayo Dek, siap!"
"Ayo apanya Mas, mandi sana airnya sudah kusiapkan. Pakaian ganti nanti menyusul," ujarnya menginterupsi.
"Bukannya itu bisa nanti, nanggung udah kepalang hidup!"
"Apanya?"
"Yang di bawah Dek," ujarnya menaik turunkan alisnya.
"Hah! Jangan ngadi-ngadi! Nah kan, waktunya nggak tepat!" kata Nahla demi mendengar pintu kamarnya diketuk dari luar. Rupanya Icha yang berseru memanggilnya.
Nahla mengangkat bahunya acuh, lalu melangkah membukakan pintunya. Sementara Hanan menatap dengan gemas.
"Papa sudah pulang?"
"Sudah, lagi mandi, Icha ada perlu?"
"Nggak ada, mama nanti temani Icha di kamar ya, biar Kai sama encus."
"Boleh, sholat dulu, terus makan malam. Icha mau bareng mama," ujarnya menawarkan. Sembari menunggu suaminya selesai mandi, Icha lebih dulu ke bilik mushola sementara Nahla masih di kamarnya menyediakan ganti.
"Mas cepetan, sudah ditunggu anak gadis," seru Nahla sedikit tak sabar. Suaminya sedikit lama di kamar mandi.
Hanan keluar dari kamar mandi hanya dengan handuk sebatas pinggang. Melihat istrinya sudah rapih memakai mukenanya, membuat Hanan tidak bisa jail menggodanya.
"Cepetan, aku tunggu di mushola ya Mas!" ujar Nahla beranjak.
"Hmm ...," jawab pria itu segera memakai pakaiannya.
Usai sholat, Nahla menemani Icha di kamarnya. Tak lupa Kai juga disandingkan di ranjang sembari menemani Icha belajar.
"Ma, ini bener nggak ngitungnya?" tanya Icha tengah mengisi kolom buah-buahan di majalahnya dengan tulisan dan juga angka.
"Bener, udah pinter berarti." Nahla mengoreksi pekerjaan Icha.
"Mama ambil minum dulu ya haus," ujar Nahla beranjak. Perempuan itu keluar bersamaan dengan Hanan yang keluar dari kamarnya.
"Anak-anak di kamar?"
__ADS_1
"Iya, Mas mau kopi?"
"Boleh, bawa saja ke ruang kerja," ujar Hanan berjalan ke kamar Icha. Sementara Nahla menuju dapur, menyeduh kopi sesuai request suaminya.
"Masak apa, Mbok? Hmm ... enaknya," kata Nahla mencium aroma masakan yang tengah disiapkan artnya untuk makan malam.
"Cumi Buk, masakan kesukaan Pak Hanan."
"Bener, ini suamiku suka yang agak pedesan, ditambahin mbok," ujarnya sembari menyiapkan kopi.
Nahla membawanya ke ruang kerja, suaminya nampak sibuk di depan laptopnya.
"Kopinya Mas," ujar Nahla menaruh tepat di meja.
"Makasih sayang, aku sudah menemukan jawabannya," sahut Hanan tiba-tiba.
"Jawaban apa, Mas?"
"Tentang yayasan seperti yang kamu minta. Bukankah ini bagus, sesuatu yang harus diapresiasi."
"Serius? Oke, kalau Mas setuju, aku akan kirim surat resign aku juga. Siap mengabdi padamu Mas."
"Nanti juga sibuk, calon ibu pejabat."
"Aku bisa handle pekerjaan kantor dari rumah. Selebihnya biarlah berjalan sesuai arah."
"Kalau gagal? Kan banyak dana buat kampanye juga."
"Anggap saja belum rezeki. Aku ingin mencoba hal baru."
"Nggak sekadar coba mencoba dengan sebuah janji."
"Doakan aku amanah, semuanya akan baik-baik saja. Aku hanya perlu dukungan kamu dan tetap setia menemaniku."
"Kayaknya aku deh yang harusnya ngomong gitu, di luar kan banyak godaan."
"Percayalah, di luar bahkan tidak ada yang menarik. Bagaimana bisa aku berpaling, kalau yang di rumah bohay begini." Hanan menarik pinggang istrinya hingga mendekat.
"Ck, papa Icha ngegombal, udah aku mau balik kamar Kai dan Icha nungguin."
"Mama ...!"
__ADS_1
"Nah, tuh Icha udah manggil."
Nahla langsung keluar mencari-cari ibunya. Kai mulai rewel mungkin karena haus.
"Kai rewel Ma, udah dimana boboin nggak mau," lapor Icha membuat Nahla gegas menyusul ke kamar.
"Eh, kok udah tengkurap anak mama!" seru Nahla kegirangan mendapati Kai yang sudah pindah posisi.
"Iya, kok adek bisa gitu." Icha ikut duduk di sebelahnya, menyaksikan ibunya memberikan ASI untuk adiknya.
"Ma, punya Icha besok bisa montok kaya punya mama nggak? Terus keluar susunya?"
"Bisa, setiap perempuan nanti bakalan gini juga."
"Wah ... ajaib ya Ma, susu adek Kai nggak usah beli, enak ya Dek? Nyem nyem nyem!" Icha mencium-cium pipi gembul adiknya ang masih sibuk menyusu.
Tak berselang lama Hanan menyusul ke kamar, ikut merebah tepat di belakang istrinya yang masih sibuk mengASIhi.
"Ikutan dong, seru banget kayaknya," ujar pria itu memeluk istrinya begitu saja dari belakang.
"Pa, Kai lucu ya, masa minum terus, nanti langsung bobok."
"Bayi memang pekerjaannya begitu sayang, tidur, mik cucu, terus gede."
"Udah Kai, ditungguin kakak Icha itu, main sana! Papa ada perlu sama mama," seloroh Hanan sembari menciumi belakang kepala istrinya.
"Yang bener Mas, geli ... ya ampun ... bulu kudukku merinding semua," protes Nahla mendapati suaminya sengaja menggigit kecil belakang telinganya. Membuat tangan kanannya yang bebas meluncur gemas ke pinggangnya.
"Adoh sayang, jangan, sakit!" adu pria itu terkikik geli.
"Papa kenapa?"
"Nakal Cha!"
"Mana ada, mama ini yang nakal!" seru Hanan membuat kegaduhan di ranjang.
.
TAMAT
Hallo all ... terima kasih yang sudah mengikuti cerita ini sampai akhir. Silahkan mampir di cerita terbaru author. Kisah Kaisar putra Hanan dan juga Miss Nahla yang tak kalah seru di judul
__ADS_1
Suamiku Muridku