
Nahla dan Hanan menoleh bersama saat putri kecil mereka menyerukan namanya. Keduanya terdiam, mengabaikan pertengkaran mereka lalu mendekat. Merasa bersalah sebab tidak bisa mengontrol diri hingga menyebabkan keributan di ruangan itu.
"Icha sudah bangun, maaf sayang kalau suara kami membuatmu terusik," ucap Nahla mendekat.
"Mama sama papa kenapa marah-marah?" tanya Icha menatap keduanya dengan bingung.
"Mama nggak marah kok sayang, maaf ya Icha jadi kebangun," ucap Hanan menenangkan.
Kedua pasangan yang tengah berseteru itu salingenatap dalam diam, lalu menoleh pada Icha dengan senyuman penuh kepalsuan.
"Ma, Icha mau pulang," ujar gadis kecil itu merasa sudah sehat.
"Besok ya, nunggu pemeriksaan dokter dulu baru boleh pulang. Icha sekarang mau apa? Bobok lagi mama temani," ujar Nahla duduk di tepi ranjang.
Icha mengangguk lalu kembali merebah, begitupun dengan Nahla yang ikut merebah di bad rumah sakit. Sementara Hanan menepi duduk di sofa tunggu. Memperhatikan keduanya yang nampak akrab.
"Ma, Icha mau ke kamar mandi," ucap gadis kecil turun dari ranjang.
"Ayo sayang, mama temani. Mau digendong?"
"Icha bisa sendiri Ma," ujarnya mandiri.
Hanan yang tengah duduk langsung berjalan menghampiri.
"Ayo sama papa sayang," tawar pria itu yang ditanggapi dengan gelengan kepala.
Nahla mengantarnya sampai ke dalam, lalu kembali lagi ke ranjang. Gadis kecil itu nampak berbaring sembari memeluk ibunya.
"Ma, Mama nggak akan pergi lagi kan kalau Icha bobok. Mama temani Icha di sini ya," pinta gadis kecil itu yang langsung diangguki oleh Nahla.
"Iya, mama akan menemani Icha di sini, sudah Icha istirahat ya, besok kita pulang," kata perempuan itu menenangkan.
__ADS_1
Nahla pun tertidur di ranjang menemani Icha. Keduanya terlihat begitu damai dalam pandangan Hanan. Pria itu mendekat, lalu mengusap puncak kepala putrinya. Membenahi selimut untuk keduanya. Baru beranjak kembali ke sofa tertidur di sana.
Keesokan paginya, Nahla terjaga dengan posisi masih sama tertidur seranjang dengan Icha. Ia turun perlahan hendak ke kamar mandi, tak berselang lama Hanan pun terbangun dan mengantri di sana.
"Aku mau ke mushola, titip Icha ya, nanti gantian," pamit Hanan pada istrinya.
"Ya," jawab Nahla mengiyakan tanpa menatap wajahnya.
Tak berselang lama pria itu kembali, giliran Nahla yang keluar karena ia jelas tidak membawa mukena. Perempuan itu kembali ke kamar inap usai sholat.
"Aku mau cari sarapan, kamu mau pesan apa Dek?"
"Belum lapar," jawab perempuan itu benar adanya. Memang belum terlalu lapar seukuran pagi ini.
Hanan beranjak keluar, seperti biasa membeli dua porsi nasi bungkus untuk sarapan berdua.
"Hari ini kamu izin lagi ya, Icha pasti tidak mau ditinggal," ucap Hanan mendahului. Sebenarnya Nahla kepikiran untuk masuk dan sorenya akan kembali. Namun, rasa tak tega pada Icha membuat Nahla akhirnya mengiyakan.
"Icha sayang, mama kan bawa motor, Icha pulang bareng papa ya, nanti mama ngikutin Icha dari belakang," ujar Nahla memberikan pengertian.
"Loh, aku mau bareng mama aja, aku mau ikut mama." Icha ternyata cukup sulit dibujuk hingga Hanan harus turun tangan tentunya.
"Udah kamu ikut mobil aja, nanti biar aku suruh orang untuk bawa motor kamu," kata Hanan penuh solusi.
Karena Icha tidak mau ditinggal, Nahla pun terpaksa mengiyakan. Keduanya duduk di jok belakang terlihat begitu akrab.
"Alhamdulillah udah sampai rumah," ucap Hanan menginterupsi keduanya.
Pria itu menggendong putrinya, sementara Nahla mengekor sembari membawa barang dan printilannya.
"Alhamdulillah ... Icha sudah sembuh," sambut simbok terlihat sumringah melihat anak majikannya kembali ke rumah.
__ADS_1
"Bantuin Mbok, itu baju kotor sama barang-barangnya. Kasihan Ibu kerepotan."
"Siap Pak," jawab simbok bergegas.
Nahla menghentikan langkahnya sejenak sebelum masuk ke rumah. Rumah yang sebenarnya tidak ingin ia sambangi kembali. Namun, rasa iba pada gadis kecilnya membuat Nahla berbesar hati. Ia melangkah masuk dan langsung menuju kamar Icha.
Sementara Hanan langsung membaringkan putrinya ke ranjang.
"Icha istirahat saja ya, papa mau mandi sebentar," pamit Hanan beranjak.
"Kamu kelihatannya capek banget, istirahatlah di kamar," ucap Hanan mencoba membangun komunikasi yang baik dan benar.
"Nanti," jawab Nahla serasa berat menjalani hari. Tubuhnya memang penat, dan ia butuh mandi juga. Dengan langkah bingung menuju kamar. Pertama masuk, Nahla dibuat asing dengan tatanan suasana baru. Terlihat lebih luas dan dengan dekorasi berbeda. Lemari keramat yang dulu tersimpan di sebelah lemari suaminya juga sudah tidak ada. Berganti dengan lemari lainnya yang terlihat masih baru. Namun, Nahla sedikit tidak peduli, percumah juga dengan semua barang yang telah disingkirkan kalau hati suaminya belum juga berubah.
"Eh, Dek, kamu mau mandi juga, pakaian ganti kamu ada di lemari seperti biasa. Sama beberapa potong di lemari yang baru, semoga kamu suka ya," ujar Hanan telah mengisi lemari baru dengan beberapa potong pakaian baru untuk istrinya.
"Makasih," jawab Nahla mengambil ganti. Banyak pakaian miliknya yang jelas masih tersusun rapih di sana. Ia hanya membawa beberapa helai pakaian dan juga seragam mengajar ke kosan.
Perempuan itu keluar dari kamar mandi dengan pakaian lengkap plus hijabnya. Hampir seperti awal mereka menikah. Bedanya kalau dulu malu-malu sekarang terlihat jutek melulu.
"Dek, aku minta maaf, semoga kamu suka ya dengan suasana barunya," ucap Hanan menghampiri istrinya yang masih terlihat dingin.
"Hmm," jawab Nahla hanya dengan gumamam.
Perempuan itu langsung beranjak begitu Hanan mendekati. Membuat pria itu harus lebih sabar lagi.
Nahla memang sengaja menghindari, lebih memilih bermalam di kamar Icha. Terlihat pria itu menghampiri, ikut menemani Icha di kamarnya hingga gadis kecilnya tertidur.
"Icha sudah tidur, ayo Dek balik ke kamar," seru Hanan menginterupsi.
Nahla tidak menyahut, ia pura-pura tertidur saja demi kenyamanan hatinya. Tanpa dinyana, Hanan ikut merebah tepat di belakang Nahla. Tangannya terulur memeluk posesif.
__ADS_1