Jodohku Mas Duda Jutek

Jodohku Mas Duda Jutek
Bab 57


__ADS_3

"Mas, kamu nggak pa-pa? Aku becanda Mas, nggak usah panik gitu," ucap Nahla tentu saja hanya guyonan. Ia tidak minat membeli perhiasan sebanyak itu. Walaupun investasi itu perlu, tetapi dirinya sadar, itu sangat berlebihan.


"Kamu serius? Jangan bikin aku keder, Dek?" ucap pria itu sudah menghitung-hitung dalam angan. Kalau tidak jebol juga, pasalnya pria itu juga baru saja membeli rumah yang harganya lumayan. Jadi, tentu saja permintaan itu membuat Hanan lemas.


"Nggak Mas, becanda, nggak usah spaneng gitu. Udah ayo ah, aku cuma lewat-lewat aja. Kita mau beli perlengkapan baby kan? Kalau ini nggak becanda, beneran mau milih," ujar Nahla menenangkan suaminya yang masih terlihat shock.


"Gimana kalau beli beberapa set saja, kamu bisa pilih sesukamu sayang," ujar pria itu terlihat sedikit lebih lega. Ternyata istrinya hanya ngeprank. Ia tidak bisa membayangkan kalau beneran terjadi, mungkin uang perusahaan akan dipinjam dulu untuk nalangin.


"Belum minat, di rumah juga tidak pernah dipakai. Nanti saja belakangan, kebutuhan kita sedang banyak," ujar Nahla cukup pengertian. Dirinya sebentar lagi melahirkan, anak masuk sekolah dan banyak lagi kebutuhan tak terduga yang sudah ada dalam daftar list otaknya. Tentu saja yang tidak begitu penting diminggirin dulu untuk hal yang lebih dibutuhkan.


Walaupun istrinya menolak, diam-diam Hanan tetap membelikannya satu set perhiasan cantik sebagai hadiah untuk istrinya. Ia sengaja membungkusnya dan akan memberikannya di rumah nanti.


"Mas, aku perlu beberapa daster lagi, yang kemarin dari Mbak Ajeng sudah lumayan sempit, jadi aku butuh beli ya," ujar Nahla sambil melihat-lihat baju bayi dengan ukuran beragam.


"Ambil saja yang kamu mau, terserah Dek," ujar Hanan cukup pengertian. Walaupun istrinya kadang rewel sekali, tetapi pria itu merasakan semakin hari semakin sayang dan susah untuk terlepas darinya. Namun, seiring mendekati persalinan, Hanan merasa takut. Terlebih ia pernah mempunyai pengalaman buruk yang menimpa mendiang istri pertamanya.


"Sehat-sehat kamu ya, ambillah yang kamu suka," ujar pria itu sembari memilih barang-barang yang hendak dibeli.

__ADS_1


"Ma, ini lucu, buat adik pasti cocok," ujar Icha ikut bersemangat memilih barang memasukkan ke keranjang.


"Iya, yang ini juga lucu, duh ... gemes banget sih, bagus-bagus semua," ujar Nahla bingung sendiri. Rempong memilih ini dan itu.


Mereka berpindah tempat dari toko satu ke toko lain. Tanpa terasa sudah menghabiskan waktu berjam-jam dan sangat terasa lapar dan lelahnya. Usai melakukan pembayaran, Hanan sengaja berniat mengajak semua anggota keluarganya untuk singgah ke resto untuk mengisi perutnya yang sudah keroncongan.


"Kamu pengen makan apa Dek, kita cari tempat makan yang nyaman dan enak dulu," ujar Hanan keluar dari mall. Mencari resto sambil mengemudikan arah jalan pulang. Berhubung Nahla lagi pengen makan ayam-ayaman, Hanan menghentikan mobilnya di depan rumah makan lesehan yang terkenal dengan ayam bakar dan sambal penyetnya.


"Duh ... udah nggak sabar pengen nyobain," ujar Nahla menunggu pesanan. Lebih dulu menghabiskan satu gelas jus strawberry karena saking hausnya.


"Duh ... ini sambelnya mantep banget Mas, di sini tuh enak. Ayo Icha makan! Mbok makan mbok, boleh nambah loh," ujar Nahla menginterupsi putrinya.


Mereka nampak menikmati hidangan yang tersaji dengan begitu khusuk. Sesekali Hanan memberikan suapan untuk istrinya, hingga membuat Icha senyum-senyum di depannya.


"Lagi Dek? Mau nambah?" ujarnya menawarkan.


"Alhamdulillah ... kenyang Mas, adiknya pasti seneng kalau ibunya happy gini," ujar Nahla mengelus perutnya sendiri.

__ADS_1


Sembari menunggu Icha yang belum selesai, Nahla memesan dessert untuk menutup jamuan sore ini. Tak terasa acara belanjanya sampai hampir petang begini.


"Masih ada yang mau dibeli nggak, Dek, atau langsung pulang?"


"Nggak ada, udah kenyang tinggal capek ini," keluh perempuan itu berasa sekali. Terlalu antusias ke sana kemari milih belanjaan membuat kakinya kerasa mut-mut tak karuan. Sampai rumah, bahkan perempuan itu sengaja merendamnya di air hangat.


"Capek banget ya, beresin besok saja istirahat langsung, kasihan ini babynya kecapean," ujar Hanan perhatian.


Pria itu mengambil handuk, lalu membantu istrinya mengeringkan kakinya. Baru menyuruhnya untuk istirahat.


"Tidurlah ... kamu tidak boleh terlalu capek," ujar pria itu membantu Nahla berbaring. Mengecup keningnya, lalu mengecup perut istrinya yang telah membuncit sempurna.


Malam-malam berikutnya, Hanan tidak bisa tidur nyenyak, semakin mendekati hari H melahirkan kenapa pria itu semakin tidak tenang. Ia banyak menghabiskan waktunya di rumah, bahkan demi menjaganya pria itu mengerjakan pekerjaannya dari rumah.


"Mas, kamu nggak ngantor?"


"Dari rumah saja sayang, nanti kalau kamu ada tanda-tanda mau melahirkan, aku ada di samping kamu," ujar Hanan tak ingin ketinggalan sedetik pun moment-moment penting dalam hidupnya.

__ADS_1


__ADS_2