Jodohku Mas Duda Jutek

Jodohku Mas Duda Jutek
Bab 67


__ADS_3

Setelah sahabat Nahla pulang, sorenya kedatangan banyak tamu dari rekan guru yang sudah mengabari sedari pagi. Nahla sangat berantusias menyambut mereka semua.


"Masya Allah ... sampai juga akhirnya, selamat datang di rumah kami," sambut Nahla sumringah. Saling berjabat tangan dan yang perempuan tak lupa cipika cipiki.


"Selamat Bu Nahla, ikut senang atas kelahiran putranya," ucap Pak Agam di deretan terakhir.


"Terima kasih Pak, alhamdulillah, mari silahkan duduk," ucap perempuan itu mempersilahkan tamunya.


Hanan yang saat itu ada di rumah ikut menyapa dan menyalim tamu-tamu istrinya. Tak terkecuali Pak Agam yang dulu sempat membuatnya cemburu lantaran perhatian dengan Nahla.


Simbok dan Bu Kokom seketika langsung dibuat repot mengeluarkan jamuan. Sementara Nahla dan juga Hanan nampak duduk menemani tamu mereka.


"Senangnya udah lahiran, ternyata bener ya Bu, tinggal nunggu pagi sorenya aja. Padahal siangnyaasih ngajar loh," ucap salah seorang guru penuh obrolan.


"Iya, berasa banget kaya mimpi, alhamdulillah ... besok masuk kerja udah langsing. Hihihi," jawab Nahla terlihat sumringah.


"Ini dicicipi loh, ibu yang buat," kata Nahla menunjuk kue basah buatan Bu Kokom."


Beberapa di antara mereka mulai mengambil jamuan yang tersedia sembari mengobrol banyak hal. Urusan ibu-ibu mendadak heboh seketika. Tak lupa tekan bapak-bapak ikut nimbrung dengan topik lainnya.


"Besok ngumpul di mana lagi ini, siapa yang mau punya gawe hayo!" Bu Sri menatap beberapa orang di sana dengan candaan.


"Pak San mungkin mantu ya Pak, ceweknya udah selesai kuliah kan?"


"Do'ain aja Bu, sebentar lagi kalau udah waktunya pasti sampai."


"Wah ... Pak Agam ini, udah deket nih pasti!" timpal Bu Sri.


"Jangan pada julid ya ibu-ibu, nanti saya pulang loh!" ujarnya berseloroh penuh candaan.

__ADS_1


Seketika jawaban dengan gaya mrengut itu membuat mereka tertawa riang.


"Mas, lihatin Kai dulu dong, takutnya bangun," kata Nahla setengah berbisik.


Hanan beranjak menurut ke kamar, pria itu tak kembali cukup lama membuat Nahla akhirnya menyusul.


"Dek, kasih ASI dulu itu udah melek dari tadi," ujar pria itu yang baru saja menimangnya.


"Kenapa nggak manggil, aku mana keasyikan ngobrol di bawah."


"Iya, yang ketemu sama pengagum rahasia, sumringah bener," cibir Hanan mengarah pada satu nama.


"Jangan gitu Mas, dia baik loh, kasih kado kemarin."


"Paketan yang besar itu dari Pak Agam? Dih ... pantesan semangat empat lima."


"Astaghfirullah ... orangnya masih ada di bawah loh, jangan ngajak ribut. Cie ... Diam-diam ada yang cemburu." Hanan malah di cie ciein, membuat pria itu sedikit kesal. Namun, tak sampai hati marah juga.


"Udah kenyang, tinggal lihat dedeknya."


"Ayo, siapa yang mau cepet menyusul punya anak, minta bedak loh," ucap Nahla menuruti mitos menjenguk bayi.


"Aku pengen punya anak, tapi belum ada yang siap ini gimana Bu?" sahut Pak Agam ngasal saja.


"Wah, semoga disegerakan ya Pak, ketemunya. Hihihi."


"Aamiinin dulu, sana ibu-ibu yang mau nambah bisa langsung nengok bayinya."


Beberapa ikut menjenguk ke kamar sambil mendoakan untuk putra mereka. Tak lupa bingkisan cantik dan amplop dihadiahkan untuk Bu Nahla.

__ADS_1


"Wah ... jadi ngerepotin nih, makasih banyak udah pada datang."


"Selamat ya Bu, cepet sehat, cepet pulih, Kai jadi anak sholeh," ucap Bu Sri diikuti lainnya meninggalkan doa.


"Aamiin ... terima kasih banyak, harusnya pada main dulu. Senang sekali pada datang."


"Sudah sore, besok kalau Bu Nahla punya anak lagi pasti kita ke sini lagi."


"Wah ... baru aja Bu, jangan cepet-cepet juga."


"Aamiin," jawab Hanan menimpali dengan semangat. Seketika membuat orang-orang tersenyum mengangguk penuh doa.


Sepeninggal tamu-tamu mereka, rumah nampak berantakan. Piring kotor dan semuanya sudah dieksekusi simbok. Giliran Bu Kokom yang mau mandiin Kai dulu sebelum pulang dijemput Bapak.


"Asyik ... aku mau lihat dedek dimandiin nenek," ujar Icha kegirangan. Sedari tadi tertahan di kamar karena banyak tamu di luar.


"Aku mandi juga ah, mumpung ibuk belum pulang ada yang jagain Kai," ujar perempuan itu beranjak.


"Aku juga, gerah ini." Hanan hendak menyusulnya, tetapi langsung dipelototin istrinya.


"Astaga ... serem amat Dek, ini cuma mau mandi loh, gerah."


"Ya udah kamu duluan sana! Ngikutin mulu!"


"Hehe, butuh jasa gosok punggung, kali aja beruntung bisa gosok yang lain," seloroh pria itu menaik turunkan alisnya.


Bugh!


Nahla yang gemas langsung menimpuk tubuh suaminya dengan bantal. Entahlah, kenapa suaminya sekarang mendadak mesum. Baru juga turun mesin belum genap dua minggu, suaminya sungguh meresahkan!

__ADS_1


Pria itu malah cekikikan tanpa dosa.


__ADS_2