Jodohku Mas Duda Jutek

Jodohku Mas Duda Jutek
Bab 50


__ADS_3

Hanan langsung bergegas ke rumah sakit begitu mendengar kabar dari sekolah kalau istrinya pingsan. Pria yang masih sibuk di kantornya itu langsung bergegas menemuinya dengan perasaan khawatir.


"Apa yang terjadi? Dek, kamu kenapa bisa pingsan?" tanya pria itu begitu sampai di UGD.


"Tadi pingsan Pak, makanya saya bawa ke sini," sahut Pak Agam yang telah membantunya.


"Owh ... kamu yang nolongin, terima kasih," jawab Hanan datar.


Sepertinya Nahla kecapean, dia sempat mengeluh pusing dan tak enak badan. Perempuan itu pun mendapat perawatan selanjutnya untuk mengetahui hasil pemeriksaan.


Nahla yang baru tersadar, mendapati dia pria yang telah menunggunya. Merasa bingung sejenak, tetapi pada akhirnya tersadar kalau dirinya di rumah sakit dan mulai ingat kejadian sebelumnya.


"Kenapa bisa gini? Harusnya kalau sakit langsung izin, jangan dipaksain," omel Hanan penuh rasa kekhawatiran.


Nahla terdiam, saat ini sudah pindah ke ruang rawat. Kondisi tubuhnya terlihat masih lemas walau tidak begitu pucat.


"Kalau begitu saya permisi dulu Bu Nahla, semoga cepat sembuh ya," ucap Pak Agam yang sedari tadi menunggu. Memastikan rekannya itu siuman dan baik-baik saja.


"Terima kasih, Pak. Aamiin ...," jawab Nahla dengan senyuman kecil.


"Mari Pak Hanan!" pamit Agam undur diri.


"Ya, terima kasih Pak Agam. Hati-hati!" ucap pria itu mengangguk kalem.


"Saya temui dokter dulu ya?" pamit Hanan beranjak. Ia menemui dokter yang menangani Nahla untuk mengetahui hasil pemeriksaan yang sudah dijalani.


Nahla mengangguk saja, sebenarnya ia sakit apa? Sungguh Nahla juga takut karena mendadak pingsan begitu. Sebelumnya tidak pernah terjadi.


"Permisi Dok! Saya keluarga dari pasien bernama Nahla," seru Hanan mengetuk pintu putih gading yang sedikit terbuka itu.


"Ya, silahkan masuk Pa!" jawabnya lugas.

__ADS_1


"Jadi istri saya sakit apa, Dok?"


"Melalui hasil pemeriksaan, tidak ditemukan penyakit yang serius. Namun, agar lebih jelasnya alangkah baiknya bapak melanjutkan ke dokter obgyn, karena bisa jadi istri bapak hamil," jelas dokter membuat Hanan tercengang beberapa detik.


"Hah, hamil Dok?" tanya Hanan masih speechless.


"Kemungkinannya begitu, untuk lebih jelasnya kalau melakukan pemeriksaan lebih lanjut pada dokter kandungan."


"Baik Dok, terima kasih," jawab Hanan tentu saja bahagia.


Pria itu pun melakukan sesuai petunjuk dokter. Membawa Nahla periksa ulang ke dokter obgyn sesuai saran yang diberikan.


Dokter yang menangani langsung menganalisa keadaan pasien sebelumnya. Ia pun melakukan pemeriksaan lebih lanjut. Berharap apa yang disangkakan benar, dan mereka akan mempunyai bayi.


"Saya sakit apa, Mas? Kenapa harus pindah ruang rawat dan diloper ke sini?" tanya Nahla masih agak bingung.


"Bukan sakit, tunggu hasil dari dokter ya," ujar Hanan menenangkan. Setelah menunggu beberapa saat, Hanan kembali dipanggil ke ruang Dokter dan hasilnya pun cukup menakjubkan. Nahla benar-benar hamil anak pertama mereka kurang lebih tujuh minggu. Masih sangat kecil dan dokter menyarankan agar calon ibu banyak istirahat dan tidak terlalu capek di awal kehamilan yang rentan ini.


Pria itu kembali dengan wajah sumringah. Sakit membawa berkah, karena ternyata Nahla tengah berbadan dua buah cinta mereka. Tentu saja kabar itu disambut baik dan suka cita oleh Hanan.


"Dokter bilang kamu hamil, dan kita akan mempunyai bayi. Icha bakalan punya adik," jawab Hanan cukup jelas.


Nahla masih terdiam sesaat, hamil?


"Kok respon kamu datar gitu, kamu nggak seneng hamil anak aku?"


"Bukan itu Mas, aku masih sedikit kaget saja," jawabnya bingung.


Hamil? Ya mungkin pantas saja mengingat dirinya tidak pernah di KB. Apakah Hanan akan menyukai anak ini dan peduli dengan perasaan Nahla.


"Kamu kenapa?"

__ADS_1


"Apa kamu bahagia aku hamil?" tanya Nahla masih ada sedikit keraguan yang tersisa.


"Loh, ya seneng lah masa mau punya anak nggak bahagia."


"Cuma bahagia atas kehamilan aku saja Mas? Apa kamu juga mencintai ibunya?"


"Kamu ngomong apa sih, ya cinta lah masa nggak cinta dihamilin, dinikahin," ujar Hanan yakin.


Pria itu pun menenangkan Nahla, mungkin istrinya masih sedikit kaget dengan kondisi tubuhnya saat ini. Walau jujur agak sedikit aneh dengan pertanyaannya.


Kabar bahagia itu pun langsung Hanan bagi pada kedua orang tua Nahla. Bu Kokom dan Pak Subagio sangat senang karena sebentar lagi akan punya cucu.


Kedua orang tuanya langsung bertolak ke rumah sakit keesokan paginya. Mereka langsung menjenguk putrinya dan merasa bahagia.


"Selamat Nak, kamu akan jadi ibu. Sehat-sehat selalu ya!" ucap Bu Kokom saat membesuk putrinya.


"Makasih Buk," jawabnya mengaminkan dalam hati.


Hari itu juga Nahla sudah boleh pulang dan mendapat perawatan di rumah. Namun, Nahla masih harus banyak istirahat.


"Mama! Icha kangen," pekik gadis itu kegirangan mendapati ibunya pulang.


"Iya, mama juga kangen sama Icha," jawab Nahla tersenyum memeluk putrinya.


"Icha, biar mama ke kamar dulu, kasihan mau istirahat!" ujar Hanan sesekali menegurnya.


"Iya Pa," jawab Icha ikut mengantar ibunya ke kamar.


"Istirahat saja, kalau butuh apa-apa bisa ngomong," pesan Hanan tak ingin membiarkan istrinya kerepotan sendiri.


Nahla duduk di kasur sembari menopang punggungnya di headboard beralaskan bantal. Lalu Hanan menyelimuti kakinya.

__ADS_1


"Icha, tahu nggak? Mulai sekarang harus jaga mama. Di perut mama sini!" Tangan Hanan terulur mengelus perut istrinya. "Ada dedek bayinya yang tumbuh dan nanti akan jadi teman Icha."


"Benarkah? Berarti Icha punya teman di rumah dong. Asyik ... Icha bakalan punya teman," pekik gadis kecil itu kegirangan.


__ADS_2