
Pagi harinya kerempongan terjadi di kediaman Hanan Ramahendra. Nahla sedikit kesiangan sebab begadang dan cukup lelah karena aktivitas semalam.
"Jam berapa ini Mas, kamu udah mandi? Kok nggak bangunin aku?" ujar Nahla tergeragap.
"Kamu capek, Kai aku kasih ASI botol, nggak pa-pa udah nyiapin ganti sendiri," jawab Hanan tak masalah. Cukup maklum mengingat istrinya yang sudah bekerja keras membuat dirinya bahagia lahir batin.
"Aku mandi dulu Mas, eh ya bentar, kamu mau sarapan apa? Aku minta tolong simbok dulu buat bikinin."
"Apa aja, biar aku yang bilang sayang, kamu kalau mau mandi dulu, mumpung Kai masih tidur."
"Iya Mas, tunggu dulu, ini buah kenyal ku penuh, aku harus kosongkan dulu," keluh Nahla repot sendiri. Balada ibu menyusui emang Serempong ini.
"Ya udah dipompa dulu aja nanti kamu sakit, itu gede banget," tunjuk Hanan tersenyum.
Nahla pagi ini benar-benar cuma mengurus dirinya sendiri sebab sudah kesiangan. Beruntung Icha sudah dimandikan simbok dan suaminya itu cukup pengertian dengan mengurus dirinya sendiri.
Usai mandi, Nahla lebih dulu memompa ASInya yang sudah penuh. Rasanya begitu plong dan terasa nyaman. Menyusul ke meja makan dengan tampilan yang lebih fresh nan cantik.
"Pagi sayang, maaf mama kesiangan," sapa Nahla pada putrinya. Memberikan satu kecupan sayang di pipi kanannya.
"Pagi Ma, cantik banget," puji Icha membuat senyum Nahla menyala.
"Icha doang yang dikasih sun sayang, papa nggak nih," seloroh Hanan membuat ibu dan anak itu saling tersenyum.
"Semalam lebih dari kecupan loh Mas," bisik Nahla sambil beranjak.
"Dek, curang, pagi belum!" Hanan menarik istrinya untuk melakukan hal yang sama seperti pada putrinya.
"Astaga Mas, kamu iri sama anak kamu sendiri. Dasar bayi gede!" ujarnya mengikis jarak, lalu mengecup pipi kiri suaminya yang sedikit gaje itu.
"Udah, aku mau nyiapin sarapan. Masak apa, Mbok?" tanya Nahla menuju dapur.
"Bikin roti panggang Bu, sesuai request bapak," ujar simbok terlihat sibuk.
"Aku terusin mbok, simbok bisa pegang yang lain." Nahla mengambil alih urusan sarapan.
"Kai belum bangun? Nanti melek nggak denger." Ditinggal sarapan di bawah membuat Hanan sedikit khawatir.
__ADS_1
"Tadi masih lelap, nggak pa-pa, aku urus kalian dulu," ujar Najla membagi waktu.
Usai menyajikan di meja, Nahla kembali ke kamar mengambil Kai yang ternyata sudah melek. Hanya saja tidak rewel danainan sendiri.
"Anak mama udah bangun, pinternya nggak rewel." Nahla langsung menggendongnya dan membawa turun bergabung ke meja makan.
"Tuh kan bener bangun," kata Hanan demi melihat putranya melek.
"Hallo dedek Kai, mau sekolah ya. Ayo ikut kakak Icha." Icha langsung gemesin adiknya.
"Cha, jangan digituin, adiknya sewot tuh jadi kesel."
"Gemes pa, habisnya comel. Itu pipinya kaya bakpao dua ribuan. hahaha." Icha nyemol pipi Kai dengan gemasnya. Membuat bayi yang kurang dua bulan itu terlihat kesal.
"Icha habisin dulu sarapannya, itu udah siang!" Mama Nahla memperingatkan.
Icha kembali duduk, menggeser kursinya agar bisa makan sambil menggoda adiknya.
"Adik mau, roti ini enak, mau." Gadis imut itu memainkan rotinya di depan Kai.
"Cha, jangan, adik belum boleh!" seru Hanan memperingatkan putrinya yang jail bin usil.
"Ayo berangkat sayang! Kesiangan nanti kamu godain Kai mulu."
"Aku berangkat dulu ya sayang." Hanan mencium putranya baru ibunya yang tengah sibuk mengunyah sarapan.
"Nanti pulang jam berapa, Mas?" tanya perempuan itu memastikan.
"Seperti biasa aja, kenapa sayang?"
"Nggak ada, cuma pengen nanya aja."
"Hmm ... udah nggak sabar ya pengen sayang sayangan, sampai belum berangkat udah ditanya kapan pulang," seloroh pria itu menggoda.
"Mana ada, cuma nanya emang nggak boleh. Ya mana tahu bisa pulang lebih cepat."
"Biar makan siang di rumah kah?"
__ADS_1
"Mau nangi aku bawain?" tawar Nahla sesekali.
"Mau banget lah ... nanti aku tunggu ya, aku nggak makan di luar kalau kamu mau ke kantor."
"Nanti aku kabari aja, Mas, kalau nggak repot banget aku datang."
"Iya, berangkat ya," pamit pria itu bersama Icha. Melambaikan tangan dan masuk ke mobil.
"Dada Kai, kak Icha berangkat dulu ya!"
"Iya, hati-hati kakak, papa!" sahut Nahla balas melambaikan tangan.
Setelah mengantar suami dan anaknya, Nahla baru masuk. Namun, tak berselang lama pintu rumahnya kembali diketuk. Rupanya baby sitter yang akan mengasuh Kai yang datang.
"Pagi, permisi, dengan kediaman Bapak Hanan?" sapa perempuan dengan seragam kerjanya. Lengkap menenteng kertas alamat di tangannya.
"Iya benar, saya istrinya."
"Owh ... salam kenal Ibu, saya utusan dari yayasan tenaga kerjaan yang akan membantu Ibu mengurus putranya," ujarnya memberi salam.
"Owh bentar ya, saya konfirmasi ke suami dulu," ujar Nahla tak serta merta langsung menerima begitu saja.
Perempuan itu menelpon suaminya, baru suaminya menghubungi yayasan dan memastikan yang datang sesuai yang dikirim dari sana. Dengan begitu Nahla pun merasa lega dan mempersilahkan perempuan bernama Tantri itu untuk langsung bekerja.
"Sus, itu kamar suster di belakang sebelah simbok, bisa mulai kerja dari sekarang. Kebetulan Kai belum mandi, kamu mandiin bayiku dulu," ujar Nahla meloper bayi mungilnya.
"Siap Buk," jawab perempuan kisaran empat puluhan tahun itu. Sesuai dengan request suaminya.
Menjelang sore pekerjaan Nahla hanya tinggal beresnya saja menimang Kai. Perempuan itu lebih banyak waktu untuk kedua anaknya.
"Mama ke kamar dulu ya, sebentar lagi papa pulang," pamit Nahla ingin memberikan penyambutan dengan sedikit dandanan yang berbeda.
Nahla memang sengaja berpakaian rapih, suaminya yang capek dari kantor harus disambut dengan penampilan dirinya yang fresh.
"Siapa? Kok beda?" tanya Hanan sengaja menggoda.
"Ish ... aku mau ganti daster aja kalau gitu."
__ADS_1
"Jangan, habisnya cantik banget mamanya Kai dan Icha," ujar pria itu tersenyum meraih pipinya. Mereka beriringan melangkah ke kamar.