Jodohku Mas Duda Jutek

Jodohku Mas Duda Jutek
Bab 59


__ADS_3

"Kita ke rumah sakit sekarang ya?" ucap pria itu jelas khawatir.


Nahla hanya mengiyakan sembari menahan rasa sakit yang sering tiba-tiba muncul, dan beberapa menit hilang.


Pria itu lebih dulu menitipkan Icha pada mbok art kalau dirinya dan Nahla mau ke rumah sakit.


"Mbok, istriku mau melahirkan, tolong jagain Icha ya Mbok, titip Icha," pesan Hanan. Lebih dulu menilik putri kecilnya yang tengah tertidur, lalu menciumnya seraya berpamitan.


"Ayo Dek! Jalan pelan aja sayang!" ujar pria itu memapah istrinya masuk ke mobil. Mereka langsung ke rumah sakit malam itu juga.


Setengah berlari pria itu menyusul tepat di belakang kemudi. Berusaha tenang membawa mobil walau hatinya cemas luar biasa melihat Nahla yang jelas ketakutan.


"Sakit lagi? Sabar ya sebentar lagi sampai," ujar pria itu dilanda rasa cemas.


Sepanjang perjalanan Nahla merasakan sakit perut yang kadang menghilang, tetapi akan muncul beberapa menit kemudian. Rasanya sungguh sakit membuat Nahla berkali-kali istighfar menenangkan diri.


Pria itu langsung menurunkan istrinya pelan begitu sampai di depan IGD rumah sakit.


"Sus, tolong istri saya sepertinya mau melahirkan!" seru pria itu sembari membimbing istrinya masuk. Nahla langsung diperiksa, sementara Hanan mengurus prosedur pendaftaran.


Setelah semua beres, pria itu lebih dulu memarkirkan mobilnya di tempat khusus parkiran pengunjung dengan benar, lalu segera menyusul Nahla yang kini langsung mendapatkan penanganan di ruang persalinan.

__ADS_1


Sakit perut yang dialami Nahla ternyata sebuah kontraksi. Masih harus sabar karena baru pembukaan tiga. Masih awam, Nahla tidak tahu betul, tetapi ia mulai merasakan sakit secara berangsur-angsur dan akan hilang sebentar muncul lagi. Dengan disertai punggung yang begitu panas.


"Mas, ini kenapa sakit banget sih. Sini pegel, panas, sakit ya Allah ...," keluh perempuan itu tak tenang.


"Sabar ya, istighfar lagi." Hanan mencoba menenangkan, walau sebenarnya hatinya tak karuan dihinggapi kekhawatiran yang besar. Dalam hati terus berdoa, semoga persalinannya diberikan kemudahan dan kelancaran.


Tidur miring kiri sakit, kanan sakit, berdiri apalagi, semua serba tak nyaman. Nahla memilih mondar-mandir kalau kontraksi itu muncul lagi dan lagi.


"Sini pegel banget Mas," kata Nahla merengek menahan rasa yang luar biasa sambil memijit pinggangnya sendiri.


"Sini aku elus Dek," ucap Hanan mencoba memberikan sentuhan lembut. Mengusap-usap pinggangnya yang serasa mau patah.


"Lebih keras Mas, nggak kerasa apa-apa makin sakit aja," omel Nahla merasakan panasnya tak terkira. Pinggangnya pegel, dan rasanya tak tahan. Ini benar-benar luar biasa bagi Nahla yang baru merasakan. Kalau tidak malu, serasa ingin nangis saja saking sakitnya.


Tentu saja rasanya makin luar biasa, bahkan menepis segala malu yang ada. Diperiksa sedemikian rupa agar tetap terpantau dan tahu kalau bayi di dalam sudah waktunya.


"Mas, ini tambah sakit Mas," rintih perempuan itu sambil tiduran miring ke kiri. Hanan tak beranjak sedikit pun, terkecuali untuk sholat. Dari semalam hingga subuh, belum juga adiknya keluar. Prosesnya terasa lama, dan itu benar-benar membuat pria itu makin gelisah saja. Memasrahkan semuanya pada Sang Pencipta.


Pria itu terus di samping Nahla, memijit, mengusap, mengelus, dengan batin tak pernah absen dari do'a agar disegerakan.


"Mas ... ini kenapa makin sakit, aku rasanya nggak kuat," desis Nahla merasakan sakit yang main hebat. Membuatnya tak tahan dan rasanya tak karuan.

__ADS_1


"Tarik napas Dek, buang, istigfar sayang. Sebentar lagi, kuat pasti bisa," kata Hanan dengan wajah khawatir.


Dokter kembali memeriksa, tak berselang lama air ketubannya pecah. Nahla merasa basah dan seketika ia kaget sendiri.


"Ibu ikuti aba-aba saya ya ... jangan mengejan dulu nanti tenaganya habis." Intruksi Dokter agar Nahla mengikuti arahannya dengan benar.


Nahla hanya mengangguk tanpa kata. Rasanya sudah tidak katu-karuan. Hanan menemaninya di samping ranjang. Sementara Dokter dan juga perawat yang membantu bersiap membimbing persalinam dengan pakaian siap.


"Ibu tarik napas, keluarkan! Jeda dulu, nanti kalau terasa ada dorongan, ambil ancang-ancang mengejan yang kuat," ucap Dokter memberi arahan.


"Dok, sakit lagi Dok!"


"Oke, siap ada kontrakai dari dalam, dorong yang keceng dengan mengejan Bu!"


"Ayo bisa, sambung terus ... terus ... lepas dulu. Ambil napas!" Nahla tidak kuat hingga terputus dan kembali rileks sejenak mengumpulkan tenaga. Ia mencari pegangan suaminya yang terus menemani dengan hati gerimis doa.


Sudut matanya berembun, kasihan, cemas, dan takut luar biasa.


"Bisa sayang! Kamu pasti bisa!" Hanan kembali mencium kepalanya memberikan kekuatan.


"Don, ini makin kenceng!" kata Nahla bersiap mengikuti intruksi Dokter kembali.

__ADS_1


"Kenceng, tarik napas dorong yang kenceng Bu! Ayo bisa! Terus ... bagus ... sambung ... sedikit lagi!"


Ya Allah ... mudahkanlah mudahkanlah ....


__ADS_2