
"Hati-hati di jalan!" ucap Nahla mengantar suami dan putri kecilnya sampai teras depan.
"Kamu juga hati-hati di rumah, aku berangkat ya." Pria itu mengecup kening istrinya seperti biasa setelah Nahla menyalim takzim.
Perempuan itu melambaikan tangannya. Baru masuk setelah mobil suaminya menghilang dari pandangan.
Nahla langsung masuk menuju kamarnya, waktunya memandikan Kai setelah sarapan.
"Berjemur dulu yuk ... anak pinter," ujar Nahla menggendong bayinya. Sengaja membawa ke halaman belakang bersantai sambil berjemur.
"Mbok! Tolong buatin jus ya!" titah perempuan itu sembari menjemur Kai. Bocah bayi itu nampak anteng terkena matahari pagi yang menyehatkan.
"Ini Buk," ujar Mbok art mempersilahkan di dekat Nahla.
"Makasih ya mbok, tolong jagain Kai bentar Mbok, aku mau siapin airnya," ujar Nahla beranjak, lebih dulu menyeruput jus sebelum akhirnya melangkah.
Keseharian Nahla mulai terbiasa dan enjoy melakukan banyak hal rumah tangga. Terkhusus merawat baby ini memang cukup merepotkan, tapi ada bahagianya tersendiri yang tidak bisa diungkapkan lewat kata-kata.
Perempuan itu ingin menikmati setiap momentnya sebelum nanti kembali sibuk mengajar.
"Sini sayang, waktunya mandi," ujar Nahla mengambil alih putranya.
Bagi mungil itu kegirangan kala menyentuh air. Dia sudah mulai pintar dan banyak merespon hal-hal baru. Sungguh kebahagiaan sendiri bagi seorang ibu bila melihat perkembangan putranya yang makin lucu dan pintar tentunya.
__ADS_1
Sambil mandiin Kai, Nahla berdendang sholawat. Begitupun saat memakaikan bajunya, perempuan itu tak henti menggumamkan kalimat-kalimat kebaikan.
"Eh!" Nahla kaget, saat tiba-tiba Kai pipis saat hendak memakai pampers. Spontan tumpah ke mana-mana.
"Ya ampun ... baru mandi udah basah lagi, pinter sekali anak mama ini," ucap Nahla makin gemas saja. Tidak ada rasa kesal di sana walau jelas terkena pipis Kai.
Nahla menggantinya dengan yang bersih, lalu membawa Kai ke boxnya. Bayi itu dibiarkan sendirian karena Nahla harus mandi. Baru juga membuka baju, dan bersiap mengguyur tubuhnya di air shower. Terdengar suara tangisan bayi yang cukup memekak telinga. Salah sendiri Nahla tidak kasih ASI dulu, sepertinya Kai sudah tidak sabar dan lapar.
"Waduh ... Kai nangis," gumamnya kembali mematikan kran. Belum basah benar, langsung menyambar handuk dan keluar.
"Mbok! Mbok!" Nahla berteriak memanggil pembantu rumahnya dari lantai atas. Hal yang tak pernah Nahla lakukan, apalagi ngluyur keluar kamar hanya memakai handuk saja. Emergency membuat perempuan itu sedikit nekat dengan penampilan seksi.
"Siap Buk!" simbok sedikit berlari menuju lantai dua.
"Pelan-pelan saja mbok, nggak usah lari juga," ujar Nahla menjadi sedikit merasa bersalah.
"Maaf, aku sampai nggak pakai baju, tolong itu Kai dibuatkan susu, maksudku dipanasin ASIku ya mbok, aku mau mandi," ujar Nahla kembali masuk. Sempat menimang Kai sejenak, karena tubuhnya sudah tidak nyaman menanti ASI dari botol saja.
Tak berselang lama simbok membawanya ke kamar. Langsung mengambil alih Kai dan juga menimangnya. Sementara Nahla kembali mandi.
"Akhirnya bisa mandi dengan tenang," gumam Nahla kembali berkutat di kamar mandi.
Sedikit lebih lama perempuan itu menyelesaikan ritual di kamar mandi. Hari ini sudah bersih dan bisa melaksanakan kewajiban lainnya. Namun, kenapa mendadak waswas mengingat suaminya sudah menanyakan hal ini dari kemarin, bahkan jauh hari.
__ADS_1
Hingga menjelang sore, Nahla malah kepikiran sendiri, ia takut kalau tiba-tiba Mas Hanan meminta haknya malam ini, terlebih perempuan itu belum KB.
"Sayang aku pulang!" ujar pria itu memberi salam.
"Eh, sudah pulang ya Mas," jawab Nahla yang baru saja mengemas mukena sehabis sholat.
"Udah sholat ya?" Pertanyaan Hanan terdengar manis dan tidak seperti biasanya. Bahkan cenderung tersenyum menggoda, seakan menyiratkan sebuah harapan besar setelahnya.
"Iya Mas, baru hari ini. Kamu kenapa baru pulang?"
"Ada banyak barang yang datang, jadi tadi sekalian cek dulu. Aku mandi dulu ya," pamit pria itu tiba-tiba mendekat. Menyambar pipinya sebelum melesat ke kamar mandi.
"Duh ... kok aku deg degan ya, padahal udah pernah banyak kali, kenapa takut," batin Nahla melamun.
"Dek, Dek, kenapa sayang? Kok malah melamun? Kai mana? Art baru udah datang, kah?"
"Belum Mas, Kai tadi aku titipin simbok pas mau sholat, itu ganti pakaiannya. Aku siapin makan malam dulu," ujar perempuan itu beranjak.
"Siapin yang lain juga Dek, kayaknya perlu."
"Hah, maksudnya?" Nahla mana paham kalau kode-kodean.
"Nanti Kai sama Icha suruh bobok awal ya, kita mau dinas malam kan?"
__ADS_1
"Hehehe. Kamu gercep amat Mas, boleh nambah hari nggak? Seminggu lagi, masih ngilu, ngeri, dan takut," ucap perempuan itu jujur sekali.
"Jangan dong sayang, kasihan udah lama nungguin, nanti pelan kok, janji!" ujarnya dengan senyuman.