
Gus Mukhlas tidak membahas tentang Kitab Al-Hikam. Khawatir nanti Faisal menjadi penghalang misinya.
Sambil bertepuk tangan, Faisal memuji keistimewaan Asrul. "Luar biasa! Ternyata temanku Asrul adalah ujung tombak perjuangan Mbah Jena yang mulia. Aku salut kepadamu teman."
Gus Mukhlas kaget mendengar sanjungan dari Faisal terhadap Mbah Jena. "Maaf, kalau boleh tau sejauh mana yang tuan Faisal ketahui tentang perjuangan Mbah Jena?"
"Kenapa Imam bertanya demikian? Bukankah semua orang telah mengetahui bahwa Mbah Jena memiliki sebuah kitab yang dapat merubah dunia? Jujur saja aku juga menginginkan kitab itu, seandainya tidak ada yang mengetahuinya. Sayangnya Mbah Jena telah mengajarkan kandungan kitab itu kepada khalayak ramai. Inilah yang di perebutkan oleh semua orang, akhirnya menjadi bumerang bagi Mbah Jena sendiri."
Tidak lama setelah Faisal memasuki tendanya, sosok berjubah hitam muncul dari bayangannya. Sosok tersebut memakai penutup muka.
"Oh? Aku hampir tidak pernah mendengar Guru Kawamatsu memuji ksatria lain." Faisal tersenyum tipis pada sosok bertutup muka tersebut. Faisal baru saja mendengar sosok bertutup muka itu sedang memuji Asrul dan Gus Mukhlas.
Pria bertutup muka dihadapannya adalah Kawamatsu. Dia adalah salah satu ksatria ternama yang bekerja untuk keluarga Teratai. Kawamatsu adalah seorang Illuminator, Dengan teknik khususnya dia dapat bersembunyi di dalam bayangan seseorang. Faisal merupakan satu-satunya generasi muda keluarga Teratai yang berbakat sehingga Kawamatsu selalu melindunginya setiap waktu.
"Tidak hanya Imam bersorban yang menyadari kehadiranku bahkan muridnya yang begitu muda juga bisa melihatku bersembunyi di bayangan Tuan Muda..." Jantung Kawamatsu sempat berhenti sejenak ketika menyadari Asrul menatap dirinya sambil tersenyum lebar.
Mata Faisal melebar, dia sulit percaya perkataan Kawamatsu. Faisal akhirnya hanya bisa tersenyum canggung dan bersyukur dirinya tidak bersikap arogan di depan pasangan Guru dan Murid yang luar biasa tersebut.
Kawamatsu juga menambahkan jika dirinya harus bertarung berhadapan dengan Gus Mukhlas, dia rasa kecil kemungkinan dirinya bisa keluar sebagai pemenang. Kawamatsu sendiri tidak menduga bahwa Bukit Siguntang memiliki pesilat muda yang begitu berbakat.
__ADS_1
"Guru, Aku ingin berlatih sebentar sebelum tidur." Biarpun hari sudah gelap tetapi masih belum begitu malam bagi Asrul untuk beristirahat, dia ingin mencari tempat sepi dan melatih pernafasan seperti biasanya.
"Jangan pergi terlalu jauh, tempat ini tidak terlalu aman." Gus Mukhlas tidak melarangnya, dia merasa Asrul memiliki kemampuan untuk melindungi dirinya sendiri sampai batasannya.
Asrul mengangguk pelan sebelum meninggalkan Gus Mukhlas sendirian, dia mengetahui bahwa setiap malam selama perjalanan mereka, Gus Mukhlas melatih tenaga dalamnya kembali. Makanya Asrul membiarkan Gus Mukhlas sendirian agar dapat melakukan latihan pernafasan tersebut.
"Kondisi Guru memang menjadi lebih baik dibandingkan hari -hari sebelumnya, tetapi masih butuh waktu cukup lama untuk memulihkan diri sepenuhnya." Pikir Asrul sambil menggelengkan kepala.
Luka dalam yang dialami oleh Gus Mukhlas memang begitu serius, jika bukan karena kualitas fisik yang kuat serta tenaga dalam dan tingkat kultivasi lumayan tinggi yang dimilikinya saat menerima luka tersebut mungkin Gus Mukhlas akan tewas dalam beberapa hari atau setidaknya menjadi lumpuh.
Gus Mukhlas masih mampu bertahan hidup seperti sekarang dan hanya mengalami batuk ringan setiap malam sudah menunjukkan kehebatan bakat yang telah dia miliki.
"Selama luka dalam Guru dapat disembuhkan, dia tetap bisa mencapai puncak dari ilmu bela diri, hanya saja lebih lama dari seharusnya..." Asrul bergumam pelan sambil mencari tempat yang sepi. Sepertinya para pengawal terlihat tidak peduli dengan keberadaannya.
Setelah mengetahui dirinya adalah murid dari padepokan Kun Billah, cara pandang para pengawal pada Asrul menjadi berbeda. Apalagi ketika mereka menyadari Gus Mukhlas adalah seorang ksatria ternama, sosok yang dapat mengakhiri nyawa mereka semua tanpa kesulitan.
Asrul pergi ke tempat sepi yang letaknya tidak terlalu jauh dari perkemahan rombongan tersebut. Dia kemudian duduk bersila dan mulai melakukan latihan pernafasan. Tanpa mempedulikan sekitar, Asrul memulai latihannya.
Pada saat pertama kali melakukan latihan pernafasan, Asrul butuh waktu delapan jam untuk meningkatkan kultivasinya, namun sejak memiliki tingkat grand master dirinya hanya membutuhkan dua jam untuk melakukan latihan pernafasan.
__ADS_1
Jika Asrul berlatih tanpa henti, dia bisa meningkatkan kultivasinya hingga ke tahap great grand master, tetapi Asrul khawatir akan ada efek samping. Sejauh yang Asrul ketahui, tidak ada pesilat manapun yang mampu setiap hari rutin melakukan tekhnik latihan pernafasan.
Beberapa padepokan besar mungkin memiliki kemampuan yang cukup untuk melakukannya tetapi tidak ada yang akan menghabiskan waktu sebanyak itu untuk satu orang saja, mereka lebih mementingkan latihan fisik dan ilmu pengetahuan.
Sebenarnya Asrul berniat melakukan latihan pernafasan sepanjang malam ini, namun ketika dia baru melakukannya selama dua jam, dia merasakan ada gerakan di pepohonan tidak jauh dari tempatnya duduk bersila.
"Satu.. Dua.. Tiga... Tiga orang pesilat kelas dua..." mata Asrul dapat melihat cukup baik dalam kegelapan, dia bisa melihat ada tiga orang memakai topeng berwarna keperakan sedang memantau perkemahan Faisal dari atas pohon.
Salah satu dari ketiganya menyadari kehadiran Asrul yang masih dalam posisi duduk bersila, dia berpikir Asrul belum menyadari keberadaan mereka, lagipula jarak Asrul dan mereka cukup jauh. ksatria kelas satu sekalipun tidak akan mampu mendeteksi keberadaan ketiganya dalam jarak sejauh ini. Apalagi pemuda biasa yang tidak memiliki kemampuan seorang pesilat.
Ketiga pesilat bertopeng tersebut masih mengamati perkemahan beberapa saat sebelum pergi meninggalkan tempat tersebut tanpa suara.
"Dari gerakannya, mereka bukan hanya mata-mata melainkan terlatih untuk membunuh..." Asrul menghela nafas, dia kemudian teringat sebuah organisasi pembunuh yang sesuai dengan ciri-ciri ketiga orang yang dilihatnya.
Silver Hawk, organisasi pembunuh terbesar di kota Mallorca. Mereka akan membunuh siapapun selama mendapatkan bayaran yang pantas. Anggotanya dibagi menjadi beberapa tingkatan yaitu topeng perunggu, topeng perak, topeng emas dan topeng ungu.
Pembunuh yang memakai topeng perunggu memiliki kemampuan setara dengan pesilat kelas tiga, topeng perak setara dengan pesilat kelas dua, topeng emas memiliki kemampuan pesilat kelas satu sementara topeng ungu, anggota paling elit memiliki kemampuan setara dengan great grand master.
Organisasi ini masih terbilang muda, baru berusia sekitar seratus tahun tetapi catatan pencapaian mereka begitu panjang dan Silver Hawk ditakuti oleh banyak orang.
__ADS_1
"Seingat aku Silver Hawk hancur karena mereka membunuh murid utama dari salah satu padepokan terkuat aliran putih beberapa tahun sebelum era kekacauan dimulai..." Asrul mengelus dagunya sambil berusaha mengingat.