
Asrul tersenyum lebar ketika melihat pintu masuk padepokan Kun Billah, meskipun hanya beberapa bulan sejak terakhir dia melihatnya tetapi dadanya terasa lega karena kembali ke tempat yang bisa dia anggap sebagai rumah.
"Imam Gus Mukhlas, adik ini merindukanmu..”
"Imam Gus Mukhlas, sudah kuduga kita akan bertemu hari ini setelah dirimu muncul di mimpiku semalam..."
"Imam Gus Mukhlas, sehari lagi kau tidak pulang pasti aku menyusul kamu ke Mallorca.."
Seperti biasa, Gus Mukhlas dikelilingi belasan gadis saat menginjakkan kakinya ke dalam padepokan Kun Billah. Taimiyah hanya menggelengkan kepalanya melihat semua ini, para gadis ini bahkan tidak peduli dengan keberadaan ketua padepokan mereka.
"Hei! Bukankah kau Asrul? Beberapa bulan tidak bertemu dirimu bertambah tampan."
"Asrul, andaikan kau seumuran denganku, kakak ini akan bersedia menjadi pasanganmu." Perhatian sebagian gadis teralih ketika menyadari perubahan pada Asrul yang diakibatkan aura tasawuf, memang aura tasawuf membuatnya lebih berkharisma serta menawan. Asrul tersenyum canggung dan mempercepat langkahnya.
"Ah, akhirnya tiba di rumah juga..."
Asrul berlari agak cepat sehingga dia sampai lebih dulu di Markas Tapak Suci sementara Gus Mukhlas masih berusaha melepaskan diri dari rombongan gadis-gadis.
Asrul mengerutkan dahinya ketika memasuki markas Tapak Suci, dia merasa heran karena halaman vila tersebut begitu bersih meskipun tidak ditinggali selama beberapa bulan seolah rutin dibersihkan setiap hari.
"Seseorang tinggal di Markas Tapak Suci? Tidak mungkin, ini melanggar peraturan padepokan. Mungkinkah seseorang datang untuk membersihkannya setiap hari? Kurasa bukan para gadis itu, mereka mengejar guru dan memberinya hadiah namun mereka bukan gadis yang suka urusan rumah tangga seperti ini." Asrul mengelus dagunya berusaha menemukan orang yang bertanggung jawab atas pemandangan di hadapannya.
Ditengah lamunannya, Asrul mendadak mencium aroma masakan yang datang dari dapur Markas Tapak Suci. Asrul melangkahkan kakinya menuju dapur dan menemukan seorang wanita berambut putih sedang berjongkok menjaga panci.
"Siapa..."
__ADS_1
Suara Asrul mengejutkan wanita tersebut, dia bangkit sambil membalik badannya cepat dan mengarahkan tongkat pengaduk pada Asrul.
"Ah, Asrul. Kalian sudah kembali, kupikir kalian akan sampai agak malam..." ketika mengenali Asrul, wanita itu menurunkan pengaduk dan tersenyum lebar padanya.
Asrul menyipitkan matanya kemudian sedikit terkejut, "Tante Wenny?! Apa yang terjadi dengan rambutmu?!"
Wanita yang sedang berada di hadapan Asrul tidak lain adalah Wenny, teman masa kecil Gus Mukhlas sekaligus anggota padepokan yang bekerja di administrasi padepokan.
"Ini..." Wenny menyentuh rambutnya, ada sedikit kesedihan di matanya, "Bukan apa-apa, tidak perlu kau pikirkan. Gurumu akan segera pulang bukan? Kalau begitu aku pamit."
Asrul menahan Wenny yang berniat pergi begitu saja, "Tante Wenny, kenapa kau ingin segera pergi? Guru pasti senang melihatmu dan kami belum berterima kasih karena dirimu merawat Markas Tapak Suci selama kami tidak ditempat."
"Tidak perlu berterima kasih, aku melakukannya hanya karena memiliki waktu luang lebih." Wenny menggelengkan kepala pelan, "Aku sedang kurang enak badan, aku akan menemui kalian nanti."
Asrul tidak memahami sikap Wenny, tetapi dia ingin mengetahui yang terjadi dengan rambutnya karena sepertinya cerita dibaliknya tidak sederhana. Hanya saja dia tidak memiliki alasan untuk menahan gadis tersebut.
Gus Mukhlas ternyata telah kembali dan berdiri di depan dapur, ketika Wenny dan Asrul meninggalkan dapur, keduanya berpapasan dengannya. Sama seperti Asrul, Gus Mukhlas terkejut melihat perubahan pada rambut Wenny.
Wenny tersenyum pahit, "Imam Gus Mukhlas, Aku permisi..."
Wenny tidak memberi penjelasan apapun, dia berlari meninggalkan Markas Tapak Suci secepat yang dia bisa. Gus Mukhlas terlalu terkejut untuk mengejarnya, dia lalu memandang Asrul.
"Asrul apa yang terjadi?"
"Guru, murid juga bertanya hal yang sama dan belum mendapatkan jawabannya."
__ADS_1
Asrul menjelaskan dia menemukan Markas Tapak Suci tetap bersih dan terawat sebelum bertemu Wenny di dapur. Asrul yakin Wenny yang merawat Markas Tapak Suci selama keduanya berada di Mallorca.
"Asrul, kau pasti kelelahan setelah menempuh perjalanan jauh. Istirahatlah dulu, biar guru yang mencaritahu apa yang telah terjadi." Selesai berkata demikian Gus Mukhlas meninggalkan Markas Tapak Suci.
Asrul menggelengkan kepala pelan, diantara semua wanita yang ada di Kun Billah hanya Wenny yang bisa membuat gurunya bersikap demikian. Asrul bisa melihat kekhawatiran serta kepedulian Gus Mukhlas dari tatapan matanya.
"Kurasa tidak sulit menemukan alasannya, aku akan biarkan guru mencaritahu lebih dahulu. Jika guru tidak berhasil baru aku bertindak..." Asrul bergumam pelan, dia lalu kembali ke dapur dan menyelesaikan masakan yang sebelumnya disiapkan Wenny.
Gus Mukhlas kembali beberapa jam kemudian dengan wajah kusut, Asrul bisa melihat ada kemarahan yang terpancar dari sorot mata gurunya.
"Guru, apa anda sudah menemukan apa yang terjadi dengan tante Wenny?"
Gus Mukhlas menghela nafas panjang lalu mengangguk sebelum menceritakan hasil temuannya. Biarpun Gus Mukhlas tidak banyak bergaul tetapi dia memiliki beberapa teman di padepokan, selain itu dirinya juga terpandang sebagai Imam yang ramah serta bersedia menolong anggota padepokan yang lain jadi tidak sulit bagi Gus Mukhlas mendapatkan informasi yang dia inginkan.
Ternyata beberapa minggu setelah Gus Mukhlas dan Asrul pergi ke Mallorca, Khairul menemukan bahwa Wenny memiliki hubungan yang cukup dekat dengan Gus Mukhlas. Dengan alasan tersebut, Khairul mempersulit pekerjaan dan kehidupan Wenny di Kun Billah, dia menjadikan Wenny sebagai contoh pada semua anggota padepokan agar tidak memiliki hubungan dengan Gus Mukhlas.
Khairul yang merupakan pengganti sementara ketua padepokan dengan mudah memindahkan Wenny dari tugasnya di administrasi padepokan. Khairul membuat Wenny melakukan beberapa misi yang sulit serta berbahaya.
Andai bukan karena Wenny memiliki ilmu bela diri yang tinggi dan termasuk pendekar ahli, mungkin dia tidak akan bertahan hidup sampai hari ini. Dalam salah satu misi yang diberikan Khairul, Wenny nyaris terbunuh. Wenny ditugaskan mengejar seorang pendekar yang ahli racun, dia gagal menyelesaikan misi tersebut dan terkena racun berbahaya.
Wenny berhasil kembali ke padepokan dan menawarkan racun tersebut dengan beberapa sumber daya namun dia menderita efek samping berupa semua rambutnya menjadi putih dan kehilangan separuh dari seluruh tenaga dalam yang dimilikinya, setelah semua itu terjadi barulah Khairul melepaskannya.
Wenny tidak berbakat seperti Gus Mukhlas, butuh kerja keras dan latihan yang giat untuk gadis tersebut menjadi seorang pendekar ahli, separuh tenaga dalam yang dikumpulkannya dengan susah payah itu dirampas darinya begitu saja sungguh tidak adil.
Asrul menjadi geram ketika mendengar kisah tersebut.
__ADS_1
Asrul mengepalkan tangannya keras, sejak awal dia memang tidak menyukai Khairul dan sekarang mengetahui pria tua itu mempersulit Wenny membuat Asrul kehilangan kesabaran.