
"Mbah Jena, aku akan mengatur pertemuan anda dengan pihak penyedia sumber daya. Akan ku kabari lagi setelah mendapat kepastian dari pihak mereka." Asrul menegaskan hanya Mbah Jena yang akan menemui pihak penyedia tersebut, Taimiyah tidak boleh terlibat. Taimiyah merasa tidak setuju namun akhirnya memilih diam karena memikirkan uang yang akan didapatkan sektenya dari Ginseng.
Hari berikutnya Asrul mendatangi Asosiasi kitab suci untuk membahas pertemuan tersebut.
"Tuan Muda Asrul, sekali lagi terima kasih. Berkat dirimu putriku berhasil sembuh, Kayla kemari dan berterima kasih pada Paman Asrul..." Yanti menyambut Asrul dengan penuh semangat.
"Paman?" Asrul menggaruk hidungnya sambil tersenyum canggung.
Gadis yang sebelumnya terbaring lemah itu kini telah menjadi ceria dan penuh semangat kembali, "Terima kasih Paman Asrul!"
Arkha dan Akhdan juga berubah sikapnya pada Asrul, menjadi begitu menghormatinya seperti menghormati orang yang berada pada generasi sama dengan ayah mereka, "Terima kasih Paman Asrul!"
"Yanti, ini..." Biarpun Asrul memang memiliki mental yang berusia lebih dari 120 tahun namun sekarang dia adalah pemuda berumur 23 tahun, mendengar gadis yang lebih muda dari dua tiga tahun dan dua orang anak yang lebih tua memanggilnya paman terasa begitu aneh.
Asrul memandang Kayla yang pura-pura tidak menyadarinya, gadis itu memilih tidak ikut campur urusan ini. Kayla pasti lebih mengenal karakter Arkha terutama sifat keras kepala yang dimilikinya, setiap kali Arkha memutuskan sesuatu maka tidak akan mudah seseorang membujuknya untuk berubah.
"Tuan Muda Asrul, anda mungkin sebaya dengan putra-putraku namun anda memiliki pemikiran serta kedewasaan yang tidak mereka miliki, lebih jelasnya tidak banyak orang miliki. Sudah sepatutnya anak-anakku bersikap seperti ini, kuharap suatu hari Tuan Muda Asrul akan memberikan bimbingan dan bantuan pada mereka."
Yanti menjelaskan alasan dia meminta anak-anaknya memanggil Asrul dengan sebutan paman. Biarpun Asrul memahaminya tetapi dia tetap sulit menerimanya.
__ADS_1
"Aku harus kembali menuju kota Sekayu hari ini namun kuharap kita bisa segera bertemu kembali." Yanti memang tidak bisa terlalu lama di kota Mallorca terutama karena keberadaan Sindy. Sosok seperti Sindy tidak seharusnya menyeberangi perbatasan tanpa pengawasan ketat dunia persilatan lokal.
Sindy sendiri sama sekali tidak terlihat di asosiasi, Yanti hanya mengatakan Sindy menikmati waktunya untuk melihat-lihat situasi kota Mallorca.
Asrul membahas tentang pertemuan dengan Mbah Jena yang akhirnya mereka putuskan akan dilangsungkan di kediaman Mbah Jena dua hari dari sekarang.
Anita akan datang sendirian dan menggunakan bantuan Asrul untuk memasuki istana. Setelah mencapai kesepakatan tersebut, Asrul kembali menuju kediaman Mbah Jena.
Dua hari kemudian Anita dibawa masuk ke Istana oleh Asrul. Anita mengenakan cadar demi menutupi identitas dirinya sesuai arahan Asrul.
Pertemuan yang berlangsung selama satu jam itu dilakukan bertiga antara Asrul, Mbah Jena dan Anita. Dalam pertemuan tersebut Mbah Jena dan Anita mencapai kesepakatan serta menentukan cara berkomunikasi antara keduanya.
Mbah Jena tidak bisa menyembunyikan rasa bahagianya karena mengetahui potongan lima persen yang dia dapatkan akan sangat membantu kondisi kota Mallorca saat ini. Dengan selesainya pertemuan tersebut, Asrul tidak lagi ikut campur terhadap transaksi sumber daya yang dilakukan oleh Mbah Jena dan Asosiasi kitab suci, hari-hari berikutnya Asrul berlatih di kamarnya tanpa ikut campur dengan kejadian di kediaman Mbah Jena maupun Istana.
Gus Mukhlas akhirnya menerima semua sumber daya yang Asrul berikan dan mengatakan dia akan menyimpannya untuk Asrul gunakan di masa depan.
Beberapa hari sebelum pengangkatan Mbah Jena menjadi gubernur, Gus Mukhlas mendatangi Taimiyah yang kebetulan sedang mengajak Asrul bermain catur. Sudah beberapa tahun Taimiyah tidak bermain akibat pikirannya tidak tenang, dia ingin mengasah kembali permainannya sebelum berhadapan dengan Ketua Padepokan Tungku obat. Sejauh ini Taimiyah sudah kalah enam ronde berturut-turut dan suasana hatinya tidak terlalu bagus.
"Ketua apa kau sudah mengetahui soal permintaan Mbah Jena?" Gus Mukhlas bertanya dengan nada khawatir, dia bahkan tidak menyapa Asrul.
__ADS_1
Asrul tidak pernah melihat Gus Mukhlas bersikap demikian, apapun permintaan Mbah Jena pastinya sangat serius karena membuat Gus Mukhlas begitu panik.
"Maksudmu permintaan tentang Putri Siti Adawiyah ? Tentu, aku yang merekomendasikan agar Mbah Jena bicara padamu." Taimiyah tidak menoleh pada Gus Mukhlas, perhatian masih terkonsentrasi pada papan catur di hadapannya.
"Ketua!" Gus Mukhlas ingin protes tetapi sulit menyusun kata-katanya.
Beberapa saat yang lalu Mbah Jena mendatangi Gus Mukhlas dan meminta sesuatu padanya yaitu mengangkat Siti Adawiyah menjadi muridnya.
Saat ini Siti Adawiyah merupakan satu-satunya keturunan Mbah Jena yang tersisa. Masalahnya Mbah Jena merasa istana tidak sepenuhnya aman, dia lebih yakin jika Siti Adawiyah akan baik-baik saja jika tinggal di Padepokan Kun-Billah.
Gus Mukhlas merasa tidak cukup baik untuk menjadi guru Siti Adawiyah , dia menyarankan Mbah Jena untuk meminta pada Taimiyah namun dia menemukan Mbah Jena menjelaskan secara halus bahwa Taimiyah yang menyarankan agar Gus Mukhlas menjadi guru Siti Adawiyah .
Ketika Mbah Jena resmi menjadi gubernur Mallorca, posisi Siti Adawiyah akan naik menjadi Putri resmi keturunan Mbah Jena. Seseorang yang posisinya begitu penting di seluruh kota membuat Gus Mukhlas ragu untuk menerimanya. Apalagi Gus Mukhlas mengetahui Siti Adawiyah memiliki kondisi tubuh khusus yang membuatnya memiliki bakat bela diri yang muncul seribu tahun sekali.
"Apa yang kau takutkan? Jika kau bisa menjadi guru dari rubah kecil ini maka kau tidak akan masalah menangani Putri Siti Adawiyah . Lagipula jika ada sesuatu, siluman kecil ini bisa menangani Putri Siti Adawiyah ." Kata Taimiyah sambil meletakan bidak caturnya, "Gus Mukhlas, Selain dirimu tidak ada lagi orang di Bukit Siguntang yang mampu menjadi guru putri Siti Adawiyah jadi terima sajalah."
Alis Asrul naik turun, jelas yang Taimiyah maksud rubah kecil dan siluman kecil adalah dirinya. Asrul merasa kadang Taimiyah bisa menjadi kekanak-kanakan terutama jika menyangkut permainan catur.
Gus Mukhlas masih merasa berat menerima tanggung jawab tersebut sehingga Taimiyah mencoba menasihatinya.
__ADS_1
Asrul meletakan bidaknya dan mengakhiri permainan dengan kemenangannya, Taimiyah yang berniat melangkah lagi menjadi tersedak nafasnya sendiri, "Gus Mukhlas! Lihat! Kau menyebabkan perhatianku terpecah sehingga aku kalah!"
Mata Gus Mukhlas melebar, Asrul juga terbatuk pelan. Sangat jelas posisi Taimiyah sedang tidak unggul saat Gus Mukhlas tiba, menyalahkan Gus Mukhlas atas kekalahannya sungguh tidak dewasa.