
Hanya ada beberapa pengunjung selain mereka bertiga, para pengunjung lain merupakan pesilat dilihat dari senjata yang mereka bawa.
Gus Mukhlas menjadi pusat perhatian dari sebagian pengunjung ketika memasuki kafe akibat sorban yang digunakannya, Airish juga menarik perhatian karena bungkusan panjang yang ada di punggungnya.
"Pelayan berikan kami hidangan sayur dan daging terbaikmu, kakek ingin memesan arak?" Gus Mukhlas terlihat tidak terganggu dengan tatapan tamu lain, dia sudah terbiasa dengan situasi ini.
"Tentu saja, berikan arak terbaik yang kalian miliki." Airish tertawa lepas.
Asrul menarik nafas dalam-dalam, tidak ada pesilat di dunia persilatan yang tidak senang minum arak dan siksaan paling besar yang dialaminya selama menjalani hidup kedua adalah tidak bisa meminum arak.
Markas Tapak Suci sama sekali tidak menyimpan arak di dapurnya, Gus Mukhlas tentu tidak mengizinkan pemuda seusia Asrul meminum arak. Sebenarnya Asrul sedikit memberontak, mengingat dirinya bahkan sudah membunuh banyak orang, apa masalahnya meminum sedikit arak?
Pada akhirnya Asrul hanya bisa pasrah menahan godaan dari aroma arak yang dibawa pelayan, "Tiga tahun aku bisa menahan karena tidak ada arak di depanku tetapi ini..." Asrul tidak berhenti memandangi cangkir Airish dan Gus Mukhlas yang kini terisi arak.
Gus Mukhlas jarang meminum arak karena kondisi tubuhnya, dia menyadari tatapan Asrul yang kini juga terus menelan ludahnya. Airish menyadari hal yang sama lalu tertawa.
"Asrul, kau ingin mencobanya?" Airish menawarkan cangkirnya pada Asrul.
Asrul mengangguk penuh semangat namun tentu saja Airish tidak memberikan cangkir itu padanya.
"Kau harus menunggu setidaknya sepuluh tahun lagi." Airish kemudian meminum dari cangkir tersebut sampai tidak tersisa, membuat Asrul menggerutu.
__ADS_1
Ketika hidangan sayur dan daging pesanan mereka datang, ketiganya menyantap dengan lahap. Gus Mukhlas dan Asrul sudah cukup lama tidak menikmati hidangan hangat seperti ini.
"Gus Mukhlas, jika kau tidak keberatan boleh aku memeriksa nadimu?"
Selesai menyantap hidangan, Airish mendadak meminta Gus Mukhlas mengulurkan tangannya. Setelah menyantap makanan bersama, Airish bisa merasakan bahwa Gus Mukhlas maupun Asrul adalah orang yang baik. Airish berpikir untuk memeriksa kondisi Gus Mukhlas dan melihat kemungkinan dirinya dapat menyembuhkan pemuda tersebut.
Gus Mukhlas membiarkan Airish memeriksa nadinya namun tidak berharap banyak karena Gus Mukhlas mengetahui benar kondisi dirinya sendiri. Asrul memandang keduanya dengan penuh penasaran tetapi tidak perlu waktu lama sebelum Asrul merasa kecewa karena raut wajah Airish berubah menjadi buruk.
"Gus Mukhlas... Bagaimana kau bisa...” Airish sangat terkejut ketika memeriksa kondisi luka dalam Gus Mukhlas.
Gus Mukhlas hanya tersenyum tipis menanggapinya, dia memahami bahwa Airish tidak bisa membantunya. Airish harus akui dia belum pernah melihat luka dalam separah ini, seharusnya Gus Mukhlas sudah mati atau setidaknya lumpuh. Jika bukan karena kemampuan dan bakatnya, Gus Mukhlas mungkin tidak akan bisa menjalani kehidupan seperti ini.
"Kakek, aku tidak punya ambisi seperti itu..." Gus Mukhlas tersenyum tipis sebelum memandang Asrul, "Kuharap aku hanya memiliki cukup usia sampai melihat muridku menjadi mandiri dan membuat namanya di dunia persilatan."
Airish berpikir sejenak sambil memandangi Gus Mukhlas dan Asrul, "Dengan kondisiku saat ini aku tidak bisa berbuat banyak, tetapi jika urusanmu sudah selesai di kota Mallorca datanglah ke padepokan ku." Airish mengeluarkan sesuatu dari jubahnya, sebuah medali berwarna perunggu dengan huruf Sansekerta terukir padanya.
Mata Gus Mukhlas dan Asrul melebar saat melihatnya, karena medali tersebut merupakan tanda pengenal seseorang yang berasal dari padepokan Budi Suci, salah satu padepokan aliran putih terkuat di wilayah Bukit Siguntang.
Tubuh Gus Mukhlas sedikit bergetar, nama Airish sebenarnya tidak asing baginya tetapi dia tidak mengaitkan nama Airish tersebut dengan kakek tua di depannya. Asrul menahan nafasnya juga, karena dia juga mengenali sosok bernama Airish dari Budi Suci.
Budi Suci bisa menjadi salah satu padepokan terkuat aliran putih di dunia persilatan karena keberadaan lima orang pesilat yang memiliki kemampuan sangat tinggi. Ketua padepokan Kun Billah, Taimiyah sekalipun bukanlah lawan dari lima jagoan ini.
__ADS_1
Kelima orang ini memiliki posisi penting dalam Bukit Siguntang. Gus Mukhlas dan Asrul pernah bertemu salah satu dari kelimanya beberapa tahun lalu, Mbah Jena sang Harimau Merah yang menjabat sebagai Imam Penegak Hukum. Tidak disangka keduanya akan bertemu sosok lain dari lima jagoan ini dalam perjalanan mereka.
Airish atau yang dijuluki sebagai Burung Hantu Bijaksana adalah pesilat paling sepuh sekaligus terkuat diantara lima pesilat tersebut. Tidak ada yang mengetahui usia asli Airish tetapi dia sudah menjabat posisi Imam Besar Bukit Siguntang selama hampir seratus tahun.
Menurut kabar yang beredar, Airish memiliki ilmu tongkat terbaik di seluruh kota Bukit Siguntang dan pesilat yang mampu menjadi lawannya di dunia persilatan bisa dihitung dengan jari.
"Sejauh yang ku ketahui, di dunia persilatan ini hanya ada satu orang yang mampu menyembuhkan lukamu sepenuhnya tetapi orang yang ku maksud sangat sulit dimintai bantuan." Airish menggelengkan kepala pelan, "Karena beberapa hal, tenaga dalamku berkurang sangat banyak dan butuh waktu untuk memulihkannya. Andai aku pada kondisi prima maka aku bisa menggunakan tenaga dalamku untuk meringankan kondisi luka dalammu meskipun tidak banyak."
Mendengar Airish memiliki kemampuan untuk mengurangi luka dalam Gus Mukhlas, membuat Asrul bersemangat, "Kakek, Jika kau perlu memulihkan tenaga dalam, ini mungkin bisa membantu." Asrul mengeluarkan satu botol yang berisi sepuluh Pil peremajaan yang didapatkannya dari markas kelompok Aliran Keras.
Dengan sepuluh pil tersebut, Airish bisa memulihkan tenaga dalamnya sebanyak seratus lingkaran.
"Tidak kusangka kau memiliki pil seperti ini." Airish jelas cukup kaget melihat isi botol tersebut, "Namun ini tidak cukup, luka dalam Gus Mukhlas begitu serius. Meskipun aku bisa memulihkan sebagian tenaga dalamku dengan pil ini tetapi masih kurang untuk mengobati kondisi Gus Mukhlas."
Airish kemudian mengembalikan botol tersebut ke tangan Asrul yang kini tersenyum pahit. Sesuai dugaan Asrul, kondisi Gus Mukhlas membutuhkan tenaga dalam berjumlah sangat besar untuk memulihkan kondisinya.
"Untuk menolong Guru mungkin membutuhkan setidaknya seratus lingkaran..." setelah Asrul pikir kembali, dia tidak bisa mengandalkan orang luar untuk menolong Gus Mukhlas mengingat tenaga dalam yang dibutuhkan sebesar itu hanya dimiliki sebagian kecil pesilat di dunia persilatan.
Sebelumnya Asrul berniat setidaknya memiliki kualitas kultivasi tingkat great grand master baru mulai berlatih ilmu tenaga dalam tetapi dia sepertinya harus mempertimbangkan ulang keputusan tersebut melihat situasi dan kondisinya.
"Akan memakan waktu terlalu lama mengumpulkan tenaga dalam yang dibutuhkan dengan kualitas kultivasi sekarang, tetapi tidak ada salahnya mulai mengkonsumsi pil atau tanaman gaib lainnya yang dapat menghasilkan tenaga dalam..." batin Asrul.
__ADS_1