JURU SELAMAT

JURU SELAMAT
Para Petinggi Telah Berkumpul


__ADS_3

"Tidak ada pilihan lain, sepertinya memang harus mengandalkan Asosiasi kitab suci, aku punya waktu beberapa hari sebelum mereka mencari ku. Sebaiknya aku mulai menyusun rencana agar mereka mau membantuku."


Asrul teringat Anita, gadis itu jelas sangat cerdas dan sepertinya memiliki posisi penting di Asosiasi kitab suci.


"Dengan kemampuan Asosiasi kitab suci sekarang, mereka tidak akan mudah menyusup ke Istana untuk menemuiku jadi sebaiknya aku pergi mengunjungi mereka dalam tiga hari."


Asrul menggelengkan kepalanya karena menyadari badai yang akan menerpa Mallorca dalam waktu dekat.


Gus Mukhlas baru kembali ke ruangannya pada malam hari. Asrul yang telah selesai menyusun rencananya memilih berlatih Aura tasawuf kembali setelah memeriksa kondisi tubuhnya belum mengalami perubahan karena memiliki aura tasawuf.


Asrul berhasil mengubah sebagian aura pembunuhnya menjadi aura tasawuf. Waktu Gus Mukhlas memasuki ruangan dan memandang Asrul, dia merasa ada sesuatu yang berbeda pada muridnya tetapi dia tidak bisa menjelaskan yang dirinya rasakan.


"Guru, Apakah anda sudah bertemu Mbah Jena?" Asrul bertanya dengan antusias, dia sungguh ingin mengetahui sebanyak mungkin situasi yang terjadi karena mungkin akan berguna dalam rencananya dengan Asosiasi kitab suci.


Gus Mukhlas menghela nafas panjang, dia duduk kemudian menceritakan yang dia ketahui. Asrul memang mendatangi aula utama dan menemukan Mbah Jena di sana namun keduanya tidak berbicara, pikiran Mbah Jena seolah dipenuhi dengan sesuatu.


Siti Adawiyah tidak terlihat keberadaannya namun Gus Mukhlas mendengar gadis mungil itu juga sama terpukul seperti Mbah Jena.


Saat Mbah Jena terlihat lebih tenang, dia memanggil pelayan yang menjadi tangan kanannya bersama beberapa orang terdekatnya untuk pergi menemui ketua Imam Besar Taimiyah.


Asrul tidak bisa menahan dirinya untuk mengerutkan dahi ketika mengetahui Ketua Imam Besar Taimiyah seolah tidak peduli. Tidak ada tanda-tanda Ketua Imam Besar Taimiyah akan datang menghadiri kediaman Mbah Jena sampai malam tiba, sehingga Mbah Jena memilih pergi menemuinya untuk memberi kabar sekaligus meminta penjelasan.

__ADS_1


Gus Mukhlas menjelaskan bahwa saat dirinya pertama kalinya dia memasuki ruang aula, dia bisa merasakan mata Mbah Jena dipenuhi kesedihan yang mendalam namun pada saat meninggalkan kediamannya untuk menemui Ketua Imam Besar Taimiyah, mata Mbah Jena lebih terlihat menyimpan kemarahan dan kekecewaan.


"Asrul, kau pasti lapar. Guru membawa beberapa roti." Gus Mukhlas mengeluarkan beberapa roti daging yang masih hangat.


Asrul sebenarnya tidak punya selera makan setelah mendengar cerita Gus Mukhlas tetapi dia tidak ingin membuat gurunya itu semakin khawatir.


"Masa depan yang akan terjadi sepertinya jauh berbeda dengan yang ku ketahui. Jika Mbah Jena membuat kesalahan disini, bukan tidak mungkin Ketua Imam Besar Taimiyah berubah pikiran..." batin Asrul cemas.


Asrul sama sekali tidak memiliki gambaran tentang Ketua Imam Besar Taimiyah, tidak banyak yang dia dengar tentang Ketua Imam Besar Taimiyah generasi ini semasa kehidupan sebelumnya. Ketua Imam Besar Taimiyah generasi ini wafat sebelum Era Kekacauan dimulai karena penyakit yang dideritanya.


Lamunan Asrul terpecah ketika seseorang mengetuk pintu ruangan Gus Mukhlas.


"Gus Mukhlas, ada yang ingin ku bicarakan denganmu." Suara yang berasal dari balik pintu terdengar sepuh.


"Ketua, Anda sudah kembali." Gus Mukhlas memberikan hormatnya. Asrul bangkit dan ikut memberikan hormatnya. Sudah beberapa tahun sejak terakhir kali dia bertemu Taimiyah, terlihat lebih banyak keriput pada wajah sesepuh itu dibandingkan sebelumnya. Asrul bisa melihat situasi yang dihadapi oleh Taimiyah beberapa tahun ini telah membebaninya.


"Asrul, kau tumbuh dengan sangat baik. Aku hampir tidak mengenalimu." Taimiyah mengelus kepala Asrul sambil tertawa pelan.


Asrul bisa merasakan Taimiyah mengalirkan tenaga dalam saat mengusap kepalanya. Taimiyah melakukan itu demi memeriksa tingkat kultivasi Asrul.


Mata Taimiyah melebar ketika menyadari Asrul memiliki tingkat great grand master yang begitu bagus serta bakat yang tinggi dalam bela diri.

__ADS_1


"Biarpun aku sudah mendengar dari Gus Mukhlas bahwa kultivasi mu bisa meningkat, tidak kusangka akan meningkat sejauh ini dibandingkan beberapa tahun lalu." sudah pernah memeriksa tingkat kultivasi dan bakat Asrul saat keduanya bertemu di hutan Punti Kayu, jelas dia terkejut dengan perbedaan yang sangat jauh dari sebelumnya.


Taimiyah memandang Gus Mukhlas lalu menepuk pundaknya, "Kerja bagus telah membawa jenius ke Bukit Siguntang, ketika kembali nanti Asrul akan mendapatkan sumber daya kelas satu selain itu dia bisa mempelajari semua ilmu yang berada di padepokan secara bebas. Gus Mukhlas, kau menemukan pewaris yang layak untuk dirimu dan sepertinya juga untukku."


Gus Mukhlas mengangguk penuh antusias, dia sudah merasa Asrul memiliki bakat yang tinggi dan jika dikembangkan dengan baik, bukan tidak mungkin Asrul akan menjadi Ketua Padepokan Kun Billah di masa depan. Gus Mukhlas merasa senang karena Taimiyah memiliki pendapat yang sama.


Asrul hanya bisa tersenyum canggung, dia sama sekali tidak berniat menjadi Ketua Padepokan tetapi dia tidak mau berdebat dengan keduanya untuk sesuatu yang masih jauh di masa depan. Sekarang yang perlu mereka semua perhatikan adalah masalah yang sedang terjadi di Mallorca.


"Ketua, Apakah anda sudah mengetahui tentang musibah yang menimpa Mallorca?" Gus Mukhlas merasa Taimiyah langsung datang mencarinya setelah kembali dari pertemuannya dengan Ketua Imam Besar Taimiyah sehingga mungkin belum mengetahuinya.


"Tentu sudah, Yang Mulia memanggilku menuju kediamannya karena Yang Mulia sudah lebih dulu mengetahui masalah ini." Taimiyah menghela nafas.


Mbah Jena ternyata memanggil Taimiyah serta mengirim surat pada ustadz Gus Mukhlas agar keduanya tidak ikut campur terhadap masalah Mallorca.


"Yang Mulia mengetahui masalah Mallorca tetapi tidak datang untuk berduka?" Gus Mukhlas merasa tidak senang tetapi berusaha menyembunyikannya.


"Aih, Gus Mukhlas, Kau tidak bisa menyalahkan Yang Mulia. Situasinya sangat... tidak biasa." Taimiyah kembali menghela nafas.


Gus Mukhlas mengerutkan dahinya, dia tidak mengerti maksud Taimiyah.


"Kau pasti sudah mendengar tentang dua dari empat Padepokan yang awalnya membantu Pangeran Mahkota telah mengundurkan diri bukan? Apa kau sudah mengetahui alasan dibalik tindakan tersebut? Jika bukan karena hubunganku dengan Yang Mulia di masa lalu, aku juga sudah memilih untuk mundur dari masalah perebutan tahta. Sesungguhnya masalah ini telah berkembang sampai ke tahap diluar kemampuan kita untuk ikut campur." Taimiyah menggelengkan kepala sebelum menghela nafas untuk kesekian kalinya.

__ADS_1


Gus Mukhlas tidak pernah melihat Taimiyah seperti ini, biasanya apapun masalah yang dihadapi Ketua Padepokannya selalu bersikap tenang. Nama besar kiyai Jenggot Putih bukan hanya pajangan karena memang tidak banyak orang di dunia persilatan yang bisa membuat Taimiyah merasa gentar.


__ADS_2