
Akibat perkataan pembunuh bertopeng emas, terlihat beberapa pembunuh lain berdatangan. Selain satu pembunuh yang bertopeng ungu, yang lainnya bertopeng emas.
"Gadis itu seharusnya cucu Mbah Jena, jangan biarkan lolos." Ucap pembunuh bertopeng ungu dingin.
"Aku menemukan dua remaja..."
Asrul mengerutkan dahinya sambil melihat ke arah sumber suara yang tidak jauh darinya dan Siti Adawiyah, dia melihat seorang yang memakai topeng emas berdiri di atas pohon.
"Silver Hawk?! Mereka berhasil menyusup kesini?" Asrul menarik pedangnya lalu meningkatkan kewaspadaannya.
Dua pembunuh bertopeng emas bergerak cepat sambil berniat menangkap Siti Adawiyah. Tatapan mata Asrul menjadi dingin, dia mengayunkan pedangnya pada dua pembunuh tersebut ketika keduanya mendekat.
"Jangan pikir bisa menyentuh Tuan Putri dibawah pengawasanku..." Asrul melepaskan nafsu membunuh yang kuat, membuat para pembunuh Silver Hawk terkejut. Selain pembunuh topeng ungu, tidak ada yang bisa melihat kecepatan pedang Asrul.
Siti Adawiyah terlihat ketakutan saat melihat dua tubuh bersimbah darah terbaring tidak jauh darinya, badannya mulai bergetar hebat.
"Tuan Putri, aku akan menahan mereka, pergi cari Guruku dan Ketua Taimiyah." Asrul merasa ini pertama kalinya Siti Adawiyah melihat mayat sehingga bereaksi demikian tetapi dia tidak memiliki kesempatan untuk menenangkan gadis kecil tersebut. "Asrul, aku..." kaki Siti Adawiyah terasa lemas.
Para pembunuh Silver Hawk tentu tidak bersedia menunggu, pembunuh-pembunuh topeng emas yang tersisa bergerak bersamaan untuk mengepung Asrul dan Siti Adawiyah.
"Jangan remehkan bocah ini, kemampuan bela dirinya jauh lebih tinggi dari kalian." Pembunuh bertopeng ungu bisa merasakan Asrul sangat berbahaya dan jauh lebih kuat dari pendekar kelas satu.
Asrul melihat sekelilingnya dan merasa dalam bahaya, dia menarik nafasnya dalam-dalam sebelum berteriak sekuat tenaganya, "ADA PENYUSUP!!!"
Suara Asrul begitu lantang dan menggema ke seluruh kediaman Mbah Jena, para pembunuh di sekitarnya juga kaget mendengarkan suara yang sangat keras tersebut.
Asrul merapatkan giginya dan menghunuskan pedangnya pada para pembunuh Silver Hawk, dia berniat menghabisi siapapun yang berhasil mendekat.
__ADS_1
"Kalian tidak bisa mengurus dua remaja?"
Dua pembunuh bertopeng ungu bersama belasan pembunuh bertopeng emas tiba-tiba berdatangan setelah mendengar teriakan Asrul.
Jika Siti Adawiyah bisa berlari untuk mencari Gus Mukhlas atau Taimiyah, Asrul pasti tidak akan berteriak seperti sebelumnya karena itu juga menarik perhatian para pembunuh yang lain. Asrul memang menduga para pembunuh Silver Hawk yang datang tidak hanya yang barusan dia temui, tetapi dirinya tidak menduga akan ada dua pembunuh bertopeng ungu lainnya di sekitar tempat ini.
"Kalau disekitar sini saja ada tiga pembunuh bertopeng ungu, berapa banyak dari mereka yang datang?" gumam Asrul pelan, raut wajah Asrul mendadak menjadi pucat ketika menyadari sesuatu, "Jadi para pendekar ahli yang berdatangan ke Mallorca adalah para pembunuh bertopeng ungu!"
Jika dibandingkan pertemuannya dengan para pembunuh Silver Hawk ketika bersama Faisal, kekuatan Asrul bisa dibilang mengalami peningkatan apalagi dia mengkonsumsi Ginseng Darah berusia lebih dari 200 tahun beberapa waktu lalu, tetapi dengan kemampuannya sekarang Asrul hanya yakin bisa melawan satu pembunuh topeng ungu, menghadapi tiga sekaligus sungguh sulit dilakukan.
"Pemuda ini tidak sesederhana yang terlihat, jika kalian ingin mencoba mengurusnya, silahkan." Pembunuh bertopeng ungu yang pertama berkata pada dua pembunuh bertopeng ungu yang baru tiba.
Satu pembunuh bertopeng ungu tertawa sementara yang lainnya membuang muka dengan kesal, mereka adalah pembunuh tingkat tinggi yang ditakuti di dunia persilatan. Jika tidak terpaksa, mereka tidak akan turun tangan sendiri membunuh seorang pemuda seperti Asrul.
"Asrul..." Siti Adawiyah menepuk pundak Asrul, dia telah berhasil menenangkan dirinya meskipun jantungnya masih berdebar kencang.
Siti Adawiyah mengangguk pelan, Asrul memperhatikan sekelilingnya, mencari titik lemah kepungan lawan, "Tuan Putri, saat diriku berhasil membuka jalan, anda harus berlari tanpa melihat kebelakang. Hindari setiap tempat yang sedang terjadi pertarungan dan cari guruku atau ketua Taimiyah."
Asrul bisa mendengar jelas teriakannya telah membangunkan banyak pendekar, tetapi sepertinya jumlah pembunuh yang datang jauh lebih banyak dari yang dirinya perkirakan.
"Apa mungkin Organisasi Silver Hawk mengerakan seluruh kekuatannya kemari?" Asrul berkeringat dingin saat membayangkannya.
Andai dua sampai tiga ratus pembunuh berkekuatan pendekar ahli sungguh menyerang kediaman Mbah Jena, biarpun mereka tidak berhasil membunuh Mbah Jena tetapi korban yang jatuh tidak akan sedikit.
"Sekarang yang terpenting adalah menyelamatkan Tuan Putri, yang lain akan kupikirkan nanti." Asrul berhasil menemukan bagian yang paling lemah pertahannya, Asrul bergerak cepat sementara Siti Adawiyah mengikuti di belakangnya.
Biarpun Siti Adawiyah tidak mendalami bela diri atau memiliki ilmu meringankan tubuh, Aura spiritual pada tubuh Siti Adawiyah membuat gadis itu mampu bergerak dengan kecepatan luar biasa.
__ADS_1
Seorang pembunuh bertopeng emas tidak menduga Asrul akan menyerang lebih dulu ketika dikepung seperti ini, terlebih menuju ke arahnya. Pembunuh tersebut baru berniat mengangkat senjatanya saat Asrul menancapkan pedangnya pada jantung pembunuh tersebut.
"Lari!"
Raut wajah Siti Adawiyah kembali berubah karena melihat darah tetapi seruan Asrul menyadarkannya. Siti Adawiyah segera berlari kencang meninggalkan kepungan tersebut.
Dua pembunuh bertopeng emas lain yang berada paling dekat segera menarik senjata rahasia mereka dan melemparkannya pada Asrul, tetapi pemuda tersebut menangkis serangan tersebut tanpa kesulitan berarti.
Pembunuh bertopeng ungu ingin memerintahkan para pembunuh bertopeng emas untuk mengejar Siti Adawiyah tetapi melihat kecepatan berlari gadis tersebut, dia sendiri tidak yakin bisa menyusulnya.
"Serang dia secara bersamaan!" perintah salah satu pembunuh bertopeng ungu.
Semua pembunuh bertopeng emas bergerak bersamaan menyerang Asrul, sebagai pembunuh mereka tidak malu menggunakan segala macam cara untuk mencapai tujuan mereka.
"Tidak ada cara lain..." Asrul melepaskan aura spiritual dari tubuhnya, dia menggunakan Aura tasawuf.
Seketika gravitasi wilayah dalam jarak sepuluh meter dari Asrul meningkat beberapa kali lipat. Para pembunuh yang mendekati Asrul terkejut karena mereka menjadi sulit bergerak. Asrul tersenyum dingin sebelum mendekati musuhnya satu per satu dan memberikan mereka tebasan yang mematikan.
Ketiga pembunuh bertopeng ungu tidak menyadari yang terjadi karena mereka tidak merasakan aura tasawuf yang dilepaskan Asrul, tetapi ketiganya bisa melihat gerakan para pembunuh yang mendekati Asrul menjadi kaku.
"Apa yang terjadi?!"
Dalam waktu singkat Asrul menghabisi enam pembunuh topeng emas, perbuatannya tersebut membuat para pembunuh lain yang belum dalam jangkauan aura tasawuf bergerak mundur secepat yang mereka bisa karena merasa ada yang salah.
"Pemuda ini bisa sejenis sihir!" pikir beberapa pembunuh.
Sebenarnya pemandangan pemuda semuda Asrul menghabisi pembunuh tingkat tinggi seperti mereka dengan mudah sudah cukup mengejutkan, kekuatan yang ditunjukkannya membuat Asrul pantas untuk ditakuti.
__ADS_1