JURU SELAMAT

JURU SELAMAT
Berita Dari Padepokan Tapak Suci


__ADS_3

Para dayang memperhatikan Asrul dari atas sampai bawah, mereka mendengar Siti Adawiyah memang dekat dengan seorang pendekar cilik saat mengunjungi padepokan Kun Billah. Para dayang terkejut ketika Siti Adawiyah yang malas bangun pagi tiba-tiba sudah berpakaian rapi dan meminta dirinya dirias pagi-pagi buta hanya demi menemui pendekar muda di hadapan mereka.


Asrul tersenyum canggung, keduanya sudah tidak bertemu selama hampir dua tahun. Ketika Asrul melihat Siti Adawiyah dalam acara duka, dirinya hampir tidak mengenalinya. Siti Adawiyah sudah berusia 22 tahun sekarang tetapi parasnya menunjukan dirinya akan menjadi gadis yang sangat cantik ketika usianya matang nanti.


"Tuan Putri mencari aku pasti karena sebuah alasan bukan? Bisakah aku mengetahuinya?"


"Asrul aku membutuhkan bantuanmu..." Siti Adawiyah memandang Asrul dengan tatapan berkaca-kaca.


"Bantuan apa yang Tuan Putri butuhkan? Selama aku sanggup pasti akan ku penuhi."


Asrul sedikit kaget karena Siti Adawiyah mendatangi saat hari begitu pagi untuk meminta bantuan. Siti Adawiyah meminta dayang-dayang untuk membiarkan dirinya bisa bicara berdua dengan Asrul.


Tidak ada dayang yang berani membantah Siti Adawiyah , sudah rahasia umum Siti Adawiyah memiliki kekuatan yang tidak tertandingi di kediaman Mbah Jena sehingga tidak ada yang mau membuatnya marah.


Ketika Asrul dan Siti Adawiyah baru memasuki rumah, mereka melihat ada seorang pemuda yang sedang menghadap Mbah Jena.


"Maaf Mbah Jena, ada berita penting yang harus diterima oleh Taimiyah dari padepokan Tapak Suci."


Saat semua orang sedang menikmati hidangan, tiba-tiba seorang ksatria dengan pakaian Padepokan Tapak Suci memasuki ruangan.


"Apa kau tidak bisa menunggu sampai kami selesai makan?!" Wajah Taimiyah memerah, dia merasa malu karena pengikutnya seperti tidak memiliki etika.


"Maaf Ketua, tetapi kabar ini sungguh mendesak." Ksatria tersebut mengumpat dalam hatinya, "Aku mendapatkan pesan permintaan bantuan, Padepokan kita telah diserang oleh Asosiasi Intelijen Mafia!"


Suasana ruang makan menjadi hening, tidak ada lagi yang berniat melanjutkan makan. Taimiyah terdiam cukup lama karena terkejut mendengar berita tersebut. "Mbah Jena, Aku harus pergi memeriksa Padepokan kami. Mohon pamit." Ketika mendapatkan kembali ketenangannya, Taimiyah bangkit dari tempat duduknya dan bergegas pergi bersama pengikutnya, tidak menunggu reaksi dari Mbah Jena.

__ADS_1


Taimiyah meletakkan sendoknya kemudian menghela nafas panjang, situasi ini sepertinya menjadi jauh lebih rumit daripada sebelumnya. Tidak satupun yang menduga kalau Asosiasi Intelijen Mafia akan bergerak pada saat seperti ini.


"Ketua Taimiyah, masalah ini..." Mbah Jena yang paling khawatir, Taimiyah pastinya tidak pergi sendiri melainkan membawa seluruh ksatria yang datang bersamanya.


Dengan perginya Taimiyah maka pendukung Mbah Jena yang tersisa hanyalah Padepokan Kun-Billah.


"Sebenarnya ada yang ingin ku bicarakan dengan Mbah Jena setelah sarapan, tetapi sepertinya lebih tepat sekarang untuk membahasnya." Taimiyah bangkit dari tempat duduknya.


Mbah Jena mengangguk pelan, dia mengajak Taimiyah berbincang di ruang kerjanya. Baron dan Zeni juga meninggalkan ruang makan, keduanya harus menyampaikan kabar ini secepatnya pada keluarga mereka.


Pada saat yang sama, Asrul baru memasuki kamarnya setelah sarapan di dapur. Dia menemukan Gus Mukhlas sedang menunggunya dalam ruangan tersebut.


"Guru..." Asrul terpana ketika menyadari Gus Mukhlas sedang tidak mengenakan sorbannya.


Wajah yang memancarkan cahaya seperti bulan menyinari langit malam, serta senyum yang membawa rasa damai bagi yang menyaksikannya. Kesempurnaan paras yang hanya dapat ditemukan dalam lukisan-lukisan mahakarya terlihat jelas di hadapan Asrul. "Ah..." Menyadari reaksi Asrul, Gus Mukhlas kembali memakai topengnya, "Guru sedang mengganti sorban."


"Aku berniat memberikan ini padamu." Gus Mukhlas mengeluarkan sebuah kotak kecil yang tidak asing bagi Asrul, benar saja kotak tersebut nyatanya berisi Pil Bulan Emas.


"Semalam Ketua memberikan pil ini padaku, sekali lihat saja bisa diketahui pil ini bukan pil biasa." Gus Mukhlas berkata dengan semangat,


"Ketua bilang pil ini memiliki khasiat penyembuh yang luar biasa, luka serius sekalipun dapat sembuh dengan cepat menggunakan pil ini."


Asrul mengerutkan dahinya, dia memberikan pil ini pada Taimiyah agar diserahkan pada Gus Mukhlas. Sekarang Gus Mukhlas memberikan kembali pil ini padanya membuat kepala Asrul terasa sakit.


"Guru, Ketua memberikan ini padamu pasti karena ingin menyembuhkan luka dalam yang kau derita. Mengapa memberikan pil ini padaku?" Tanya Asrul heran.

__ADS_1


Gus Mukhlas menggelengkan kepala, dia menjelaskan luka dalam yang dialaminya begitu serius. Gus Mukhlas merasa pil ini mungkin tidak bisa menyembuhkannya sepenuhnya, daripada menggunakan pil ini untuk dirinya, Gus Mukhlas berpikir lebih biak memberikan pil ini pada muridnya.


"Guru tidak pernah memberikan sesuatu yang layak untukmu, pil ini bisa menyelamatkan nyawamu pada saat genting. Simpanlah dengan baik."


Asrul tersentuh atas perhatian yang diberikan Gus Mukhlas padanya. "Guru..."


Asrul berlutut di depan Gus Mukhlas lalu bersujud, membuat Gus Mukhlas kaget, "Guru, Murid mohon agar guru mengkonsumsi pil ini. Murid ingin dapat hidup bersama guru untuk waktu yang lama, meskipun pil ini tidak bisa menyembuhkan guru sepenuhnya tetapi murid yakin akan membantu guru untuk bisa hidup lebih lama."


Gus Mukhlas meminta Asrul agar berdiri, tetapi Asrul menolak, "Murid tidak akan berdiri sebelum Guru berjanji mengkonsumsi pil tersebut."


Gus Mukhlas terdiam cukup lama kemudian memandangi kotak di tangannya, sambil menghela nafas akhirnya Gus Mukhlas berjanji akan menggunakan pil ini untuk dirinya sendiri.


"Terima kasih telah memenuhi keinginan murid." Asrul tersenyum gembira.


Gus Mukhlas mengatakan mungkin akan membutuhkan beberapa hari baginya untuk mencerna seluruh khasiat Pil Bulan Emas. Gus Mukhlas akan melakukan latihan tertutup selama beberapa hari dan meminta agar Asrul menjaga dirinya dengan baik serta tetap giat berlatih.


Kabar tentang Asosiasi Intelijen Mafia menyerang padepokan Tapak Suci segera menyebar sampai Asrul ikut mendengarnya.


"Bukankah Bruno terlalu percaya diri jika melakukan serangan secara terbuka seperti ini?" Asrul mengerutkan alisnya ketika mendengar kabar tersebut.


Gus Mukhlas juga mengetahui berita tersebut, membuat Asrul semakin membujuk Gus Mukhlas mengkonsumsi Pil Bulan Emas secepatnya. Ada kemungkinan dalam waktu dekat, uluran tangan Gus Mukhlas dibutuhkan dan akan lebih baik saat itu tiba, Gus Mukhlas berada dalam kondisi prima.


Asrul memusatkan perhatiannya untuk berlatih Aura tasawuf selama dua hari berikutnya, meskipun dari waktu ke waktu, Siti Adawiyah akan mengunjunginya dan mengajaknya menghabiskan waktu bersama.


"Asrul, aku merasa kau terlihat berbeda dari sebelumnya." Siti Adawiyah menatap wajah Asrul dengan tajam.

__ADS_1


"Berbeda? Maksud Tuan Putri?" Asrul tersenyum canggung.


Siti Adawiyah menjelaskan pertama kali bertemu setelah setahun lebih berlalu, Asrul terasa asing dan dingin, membuat Siti Adawiyah merasa perlu menjaga jarak darinya. Sekarang, Asrul terlihat berwibawa serta menawan, Siti Adawiyah juga mendengar para dayang serta kasim memuji Asrul karena terlihat seperti bangsawan dan terpelajar.


__ADS_2