
"Baguslah jika kau puas dengan pemberianku ini..." Zeus tertawa lepas. Asrul tersenyum canggung, dia tidak mengerti alasan Zeus memberikan barang pribadinya untuk Asrul padahal keluarga Teratai yang berhutang budi kepada Gus Mukhlas dan Asrul. Hanya saja karena posisi Zeus begitu tinggi di keluarga Teratai, tidak ada yang bisa Faisal katakan.
Faisal memberikan Gus Mukhlas lebih banyak koin emas, Gus Mukhlas tidak menghitungnya tetapi mengetahui setidaknya ada seribu keping emas di dalamnya.
"Jumlah uang ini tidak akan cukup untuk membalas budi keluarga Teratai pada Imam Gus Mukhlas, suatu hari keluarga Teratai akan membantu Imam Gus Mukhlas saat dibutuhkan." Faisal masih merasa hadiah yang dia berikan terlalu sedikit, Asrul tersenyum tipis ketika mendengarnya sementara Gus Mukhlas mengatakan tidak ada hutang diantara keluarga Teratai dengan dirinya.
Asrul mengetahui Faisal bukan bersikap murah hati disini, namun Faisal merasa nyawanya jauh lebih bernilai daripada seribu atau sepuluh ribu keping emas sekalipun.
Hutang nyawa hanya bisa dibalas dengan nyawa lainnya. Memang ini ciri khas dari mereka yang berasal dari keluarga bangsawan jadi Asrul tidak terlalu heran.
Keesokan paginya Gus Mukhlas dan Asrul berpamitan, Faisal masih berusaha menahan keduanya lebih lama namun Gus Mukhlas menjelaskan dirinya memiliki tugas penting di kota Mallorca. Mendengar itu Zeus mempersilahkan keduanya pergi dan meminta Faisal tidak mencoba menahan keduanya lagi.
Ketika Gus Mukhlas dan Asrul telah berada di luar kota, Gus Mukhlas berkata mereka harus bergerak lebih cepat karena telah menunda perjalanan selama beberapa waktu. Keduanya berlari cepat menggunakan ilmu meringankan tubuh, kecepatan keduanya tidak kalah dengan menunggangi kuda yang sedang berlari kencang.
Keduanya melanjutkan perjalanan menuju ke kota Mallorca.
Beberapa hari berlalu sejak Gus Mukhlas dan Asrul berpisah dengan Faisal. Keduanya melewati beberapa kota dan desa namun tidak menyinggahinya karena terus bergerak dengan kecepatan tinggi.
Gus Mukhlas bisa melihat selama beberapa hari ini ilmu meringankan tubuh Asrul kembali meningkat, selain itu stamina yang dimiliki muridnya itu sepertinya melebihi stamina yang dia miliki.
Keduanya akan berlari dari matahari terbit sampai terbenam dan hanya berhenti untuk makan sejenak. Pada malam hari, Asrul akan berlatih pernafasan dan berlatih fisik dengan giat. Asrul bahkan meningkatkan kultivasinya dua sampai tiga jam setiap harinya.
__ADS_1
Asrul menyadari caranya berlatih beresiko melukai dirinya sendiri namun setelah pengalaman yang terjadi bersama Faisal, dirinya merasa tidak cukup kuat untuk membantu Gus Mukhlas. Kemampuannya masih kurang. Andai Zeus tidak muncul dan menolong mereka, belum tentu Gus Mukhlas bisa baik-baik saja seperti sekarang.
"Aku harus menjadi lebih kuat secepatnya!" begitulah Asrul bertekad setiap kali memulai latihannya, dia ingin secepatnya meningkatkan kualitas kultivasinya sebelum berusia 25 tahun.
Gus Mukhlas bisa merasakan kecepatan pertumbuhan kekuatan Asrul dan dia hanya bisa terpana. Gus Mukhlas hanya mengingatkan agar Asrul tidak lupa berlatih ilmu silatnya juga bukan hanya meningkatkan kekuatan fisik.
"Tidak perlu terburu-buru, kau masih begitu muda. Selama berlatih dengan baik, maka kau akan menjadi pesilat yang hebat di masa depan." Gus Mukhlas berpesan.
Asrul memahami, Gus Mukhlas khawatir dirinya akan seperti Gus Mukhlas dulu. Disebabkan Gus Mukhlas ingin menjadi kuat secepatnya, dia dicelakai oleh seseorang dan menerima luka dalam serius yang mempengaruhi masa depannya sebagai pesilat.
Hanya saja Gus Mukhlas tidak mengetahui alasan Asrul berusaha menjadi kuat secepat mungkin juga berkaitan dengan dirinya. Asrul membutuhkan kemampuan yang tinggi jika ingin mengobati Gus Mukhlas sampai pulih sepenuhnya.
"Guru senang kau berlatih begitu giat tetapi pesilat harus mengingat tubuhnya juga butuh istirahat..." Gus Mukhlas jelas khawatir, selama berlari setiap pagi sampai matahari terbenam, seringkali Asrul berlari sambil membaca buku.
Pada kehidupan barunya ini Asrul memang tertarik terhadap banyak ilmu baru yang belum pernah dia pelajari di kehidupan sebelumnya. Diantara semua itu, Asrul paling tertarik dengan ilmu pengobatan. Bisa dibilang ada pengaruhnya juga dari keinginannya mengobati Gus Mukhlas.
Suatu siang dalam perjalanan, Asrul bisa melihat sebuah sungai besar di hadapan mereka. Sehari sebelumnya Gus Mukhlas memang mengatakan keduanya harus menyeberangi beberapa sungai dalam perjalanan mereka ke Mallorca.
"Kita akan mendatangi desa kecil itu, di sana akan ada penduduk yang menyewakan perahu untuk menyeberangi sungai." Gus Mukhlas menunjuk sebuah desa kecil yang bisa keduanya lihat dari tempat mereka berdiri.
Di sisi lain, Asrul justru mengerutkan dahi, "Guru, Apa kau tidak merasakan sesuatu yang salah?"
__ADS_1
Gus Mukhlas sedikit heran dengan pertanyaan Asrul namun ketika dia melihat sungai di hadapan mereka sekali lagi, Gus Mukhlas menangkap maksud Asrul.
"Aneh, Seharusnya ada banyak perahu yang berlayar mengarungi sungai..." gumam Gus Mukhlas pelan.
Gus Mukhlas dan Asrul memasuki desa, keduanya menemukan bahwa desa tersebut begitu ramai penghuninya, kebanyakan dari mereka adalah pedagang yang membawa kereta barang.
"Guru, sepertinya memang terjadi sesuatu." Bisik Asrul. Gus Mukhlas mengangguk pelan, dia bisa melihat para pedagang ini. Biasanya para pedagang seperti mereka tidak akan tinggal lama di suatu tempat, selain itu keduanya bisa mendengarkan para pedagang itu mengeluh karena telah terjebak cukup lama di desa ini.
"Kita akan mengetahui apa yang terjadi dengan mendatangi pelabuhan." Gus Mukhlas mengajak Asrul langsung ke pelabuhan.
Gus Mukhlas bisa melihat banyak perahu serta kapal yang biasa disewakan kini terparkir rapih di pelabuhan. Raut wajah sedih menghiasi wajah para pemilik kapal, mereka terlihat lesu dan kehilangan semangat.
"Siapa yang Guru cari?" tanya Asrul saat menyadari Gus Mukhlas terus memutar kepalanya seolah mencari seseorang.
"Seorang teman lama..." jawab Gus Mukhlas singkat.
Ini bukan kali pertama Gus Mukhlas mendatangi desa ini, setiap kali pergi ke Mallorca pasti orang akan singgah ke desa ini termasuk Taimiyah sekalipun. Sebab itulah Gus Mukhlas mengenal satu pemilik perahu yang menjadi langganannya.
Gus Mukhlas berencana mendapatkan informasi yang keduanya butuhkan terutama tentang alasan para pemilik perahu dan kapal menolak berlayar.
"Oh! pesilat! Sudah lama tidak melihatmu." Seorang kakek menyapa Gus Mukhlas dari kejauhan.
__ADS_1
"Paman sepertinya masih sehat saja." Gus Mukhlas tersenyum pada Kakek tersebut.
Setiap kali ingin melewati sungai ini, Gus Mukhlas selalu menggunakan jasa kakek ini. Biarpun sang kakek memakai pakaian yang sederhana namun dia adalah salah satu pengusaha kapal paling besar di desa ini.