JURU SELAMAT

JURU SELAMAT
Taimiyah Mengetahui Rahasia Asrul


__ADS_3

Mendengar Asrul masih memanggil Gus Mukhlas sebagai gurunya pada situasi seperti ini membuat Taimiyah sedikit melunak. Taimiyah bisa melihat Asrul sungguh menghormati dan peduli tentang Gus Mukhlas.


"Aku sebenarnya hanya menebak dirimu adalah seorang pendekar yang berusia tua yang menggunakan semua tenaga dalam yang kau miliki untuk kembali muda." Taimiyah akhirnya mengeluarkan pemikirannya.


Asrul terkejut mendengarnya, "Apakah itu mungkin dilakukan?"


Taimiyah menggaruk kepalanya saat melihat keterkejutan Asrul, tidak ada lagi nafsu membunuh yang dilepaskan oleh Taimiyah setelah menyaksikan reaksi tersebut.


"Aku tetap membutuhkan penjelasan atas peningkatan kualitas kultivasimu, jika tidak maka aku tidak akan membiarkanmu menyelesaikan misi ini." Nada bicara Taimiyah melunak.


Asrul tersenyum pahit, "Ketua, karena beberapa alasan, aku tidak bisa menjelaskan secara rinci."


Asrul kemudian mengeluarkan sebuah liontin dari jubahnya dan menyerahkannya pada Taimiyah.


Taimiyah memeriksa liontin tersebut, dia bisa melihat liontin ini berguna untuk melintasi lorong waktu, "Apa maksudmu memberikan ini padaku?"


"Jika aku kembali ke kehidupan kedua dengan memanfaatkan liontin ini, menurut Ketua bisakah aku mencapai perkembangan secepat ini?" tanya Asrul sambil tersenyum lebar.


Brawijaya jelas kaget dengan pertanyaan tersebut, dia memeriksa kembali liontin tersebut kemudian memandang Asrul kembali, "Andaikan kau memang memanfaatkan liontin ini untuk melintasi lorong waktu sekalipun tidak akan mampu mendapatkan kualitas kultivasi ini tanpa menggunakan ilmu tingkat tinggi bersamanya."


Asrul mengangguk pelan, sesuai dugaan Asrul, Taimiyah bisa memahami cukup jauh hanya dengan melihat liontin.


"Maksudmu tidak bisa menceritakan semuanya adalah liontin yang kau gunakan selama ini serta ilmu yang digunakan bersamanya?" tanya Taimiyah, masih memandangi liontin di tangannya.


"Benar Ketua, Jika waktunya sudah tepat aku akan menceritakan semuanya."


Taimiyah diam cukup lama sebelum kembali bertanya, "Apa rencanamu ke depannya?"


Asrul menjelaskan dia ingin menyembuhkan luka dalam yang dialami oleh Gus Mukhlas meskipun sulit. Selain itu dia juga akan membantu Mbah Jena mendapatkan kitab Al Hikam.

__ADS_1


"Membantu Mbah Jena?" Taimiyah menaikkan alisnya, merasa tertarik.


"Aku belum bisa memastikannya tetapi jika rencanaku berjalan lancar, aku mungkin bisa memberikan bantuan pada Mbah Jena."


Taimiyah kembali diam cukup lama, memandangi liontin di tangannya, "Kau sadar bukan? liontin ini dapat membantu dirimu hidup lebih lama."


Asrul mengangguk pelan, dia menyadari solusi terbaik untuk misi saat ini adalah tetap menggunakan liontin dan meminta seorang kiyai seperti Taimiyah membantunya merahasiakan yang telah di jalankan Asrul.


Taimiyah menghela nafas panjang, "Kudengar cara tepat yang ditemukan Mbah Jena ditunjukkan olehmu? Sebenarnya cara itu bukan berasal dari kitab Al Hikam bukan?"


Asrul lagi-lagi mengangguk pelan.


Taimiyah mengelus janggutnya, berusaha menutupi keterkejutannya.


"Kalau kau memang memiliki kemampuan seperti ini, kurasa kau sungguh memiliki kemampuan untuk membantu Mbah Jena." Taimiyah mengangguk pelan, "Apa yang kau perlukan untuk melancarkan rencanamu?"


Asrul menjelaskan dirinya mungkin harus keluar masuk istana untuk menjalankan rencananya dan sejauh yang diketahuinya istana memiliki aturan terkait hal tersebut. Asrul mungkin tidak akan kesulitan meninggalkan istana tetapi untuk memasukinya lagi bukan perkara mudah.


Asrul menangkap kedua benda tersebut, benda kedua berupa sebuah giok berwarna merah darah.


Asrul begitu bersemangat karena mendapatkan batu giok dari Taimiyah, nilai batu giok di tangannya jauh lebih berharga dari tingkat kultivasinya.


"Pembicaraan kita malam ini mari menjadi rahasia kita berdua." Taimiyah kemudian membawa Asrul kembali ke Mallorca namun kali ini dia tidak bergerak terlalu cepat karena tidak ingin tekanan udara membebani Asrul lagi.


Ketika keduanya sampai pada kediaman Mbah Jena, Taimiyah mengikuti Asrul ke kamarnya untuk memberikan batu giok.


Taimiyah terbatuk pelan ketika menyadari Asrul memiliki sebuah kitab yang mirip dengan kitab Al Hikam. Ini membuktikan Asrul tidak berbohong bahwa dia meningkatkan kualitas kultivasinya karena rutin mengamalkan kitab Al Hikam.


"Gus Mukhlas, Bagaimana kau bisa menemukan pemuda seperti ini?" Taimiyah tersenyum canggung saat memikirkannya.

__ADS_1


Taimiyah merasa Asrul memiliki latar belakang yang misterius, "Jika tidak salah, Gus Mukhlas menceritakan Asrul juga bertunangan dengan cucu Mbah Jena dari Bukit Siguntang bukan? Aku hanya bisa berharap anak ini sungguh berpihak pada kami."


Tentu Taimiyah menyadari, ilmu apapun yang didalami oleh Asrul tidak berasal dari Bukit Siguntang. Taimiyah mulai berspekulasi bahwa Asrul sebenarnya berasal dari sebuah padepokan besar di kota lain yang mengungsi ke kota Mallorca atau setidaknya memiliki guru selain Gus Mukhlas yang berkemampuan sangat tinggi.


Taimiyah tidak mengetahui bahwa setelah dirinya meninggalkan ruangannya, Asrul jatuh ke lantai karena tubuhnya mendadak terasa lemas.


"Untungnya Ketua bersedia menerima penjelasanku..."


Asrul terbaring lemas di lantai kamarnya selama beberapa waktu. Biarpun di depan Taimiyah dirinya berusaha bersikap tenang tetapi sebenarnya Asrul merasa sangat panik karena khawatir semua rencananya akan berantakan atau lebih buruk mungkin kehilangan nyawanya.


"Satu masalah berhasil dilewati, setidaknya dengan ini aku memiliki dukungan dari Ketua Taimiyah."


Selepas mengatur nafas dan kembali tenang, Asrul mengeluarkan batu giok berusia 200 tahun lebih yang diberikan Taimiyah.


Asrul duduk bersila di atas tempat tidurnya kemudian melakukan latihan pernafasan. Tidak lama, dia bisa merasakan khasiat dari batu giok, Asrul menggunakan 'Penyerapan Aura' dengan penuh konsentrasi untuk menyerap seluruh nutrisi batu giok tersebut.


Nutrisi yang dimiliki batu giok setidaknya sepuluh bahkan dua puluh kali dibandingkan latihan pernafasan yang biasa di lakukan olehnya karena perbedaan manfaat keduanya.


Andaikan Asrul mengalami luka luar nantinya, penyembuhan lukanya akan beberapa kali lebih cepat daripada sebelumnya.


Khasiat batu giok berusia 200 tahun ini begitu kuat. Meskipun Asrul sudah menggunakan 'penyerapan aura' sekalipun, dia tidak bisa menyerap semua nutrisinya dengan cepat sehingga dia harus melakukan latihan tertutup selama dua hari penuh.


Saat Gus Mukhlas pergi mencari Asrul, Taimiyah menghentikannya dan mengatakan dia memberikan beberapa petunjuk pada Asrul.


"Asrul sedang merenungkan pencerahan yang didapatkannya, jadi jangan diganggu." Taimiyah menyadari Asrul pastinya sedang menyerap aura Batu giok yang telah di berikannya dan merasakan khasiatnya.


Asrul meninggalkan kamarnya setelah dua hari, dia kembali mengalami kemajuan pesat dan tenaga fisiknya juga meningkat lebih jauh. Yang pertama Asrul lakukan adalah pergi menemui Gus Mukhlas, dia menemukan Taimiyah juga berada di kediaman gurunya.


Taimiyah merasa terkejut ketika mengetahui Asrul keluar dari ruangannya lebih cepat dari perkiraannya.

__ADS_1


"Asrul, nanti malam kau ikut bersama kami untuk pergi menemui Mbah Jena." Kata Gus Mukhlas.


Gus Mukhlas menceritakan kejadian yang dilewatkan oleh Asrul selama dua hari terakhir. Mbah Jena telah kembali dari kunjungannya pada kota Mallorca.


__ADS_2