
Tidak lama setelah Asrul mulai menikmati sup hangat tersebut, Gus Mukhlas memasuki ruangan. Keduanya menikmati sup untuk menghangatkan tubuh.
Wanita paruh baya kembali membawa beberapa hidangan, namun semua hidangan yang dibawanya berupa sayur-sayuran tanpa sedikitpun daging.
"Nyonya, bisa kau masakkan kami daging? Uang bukan masalah..." Gus Mukhlas mengeluarkan satu keping koin emas.
"Maaf Tuan, ini bukan masalah uang tetapi tidak ada daging ataupun arak di tempatku." Jawab Wanita itu pelan.
Asrul menaikkan alisnya, sedikit tidak percaya sementara Gus Mukhlas mengangguk pelan. "Jika memang demikian, kami akan menikmati yang ada saja."
Gus Mukhlas mengambil satu sayuran dan meletakkannya pada piring Asrul, "Asrul makan yang banyak, meskipun tidak ada daging tetapi ini makanan hangat."
Asrul mengangguk pelan dan keduanya mulai menyantap hidangan, beberapa saat kemudian Gus Mukhlas menyadari wanita pemilik penginapan masih berdiri di dekat mereka dan menatap keduanya.
"Ada apa Nyonya?" tanya Gus Mukhlas.
Wanita itu seolah tersadar dari lamunannya, dia terlihat ragu sebelum akhirnya buka suara, "Tuan sebaiknya setelah anda selesai makan, segera tinggalkan kota ini."
Asrul hampir tersedak sayur yang hendak ditelannya, lagi-lagi mereka diminta untuk meninggalkan kota ini. Gus Mukhlas ikut bingung melihat wanita paruh baya tersebut meminta Gus Mukhlas dan Asrul meninggalkan kota itu. Wanita itu bukan menjelaskan situasi yang sedang dihadapi kota ini melainkan tiba-tiba berlutut dan mulai menangis, "Tuan musafir, Jika memang demikian bisakah anda membawa anakku meninggalkan kota ini dengan kemampuanmu? Kumohon bantu anakku keluar dari kota ini..."
Gus Mukhlas berusaha menenangkan wanita tersebut sementara Asrul memilih untuk terus mengisi perutnya. Dari reaksi wanita tersebut, Asrul sudah memiliki gambaran tentang situasi yang terjadi.
__ADS_1
Pada akhirnya Gus Mukhlas berhasil membuat wanita itu menceritakan masalah yang dihadapi kota ini. Beberapa bulan yang lalu kota kecil ini dikunjungi oleh sekelompok Aliran Keras bersenjata lengkap, sebagian besar dari anggota Aliran Keras ini memiliki kemampuan bela diri dan membuat para penjaga tidak mampu berbuat apa-apa.
Kelompok Aliran Keras ini tidak menjarah kota secara langsung melainkan meminta agar setiap bulan kota ini memberikan upeti dalam jumlah yang tidak sedikit.
Ketika para anggota Aliran Keras Meninggalkan kota ini, padepokan aliran putih terdekat melindungi kota ini dari ancaman.
Sekelompok keamanan dari padepokan aliran putih memang datang melindungi kota ini. Namun ketika rombongan Aliran Keras kembali datang, para keamanan ini semuanya terbunuh oleh pimpinan Aliran Keras yang ternyata seorang pesilat tingkat tinggi.
Kelompok Aliran Keras itu menjadi murka karena kota ini melanggar larangan yang mereka berikan, kepala kampung dibunuh dan kepalanya digantung selama tujuh hari di gerbang kota sebagai peringatan bagi mereka yang berniat melawan lagi.
Beberapa bulan telah berlalu sejak hari itu, sebagian besar warga sudah kehabisan uang dan beberapa hari lalu kelompok Aliran Keras itu menagih upeti mereka namun warga tidak sanggup membayarnya.
Kelompok Aliran Keras itu mengancam jika saat mereka kembali kota ini tidak bisa memberikan uang yang mereka minta maka semua penduduk yang tersisa akan dibunuh oleh mereka.
Gus Mukhlas sadar tidak semua padepokan memiliki pondasi yang kuat, banyak juga padepokan kecil yang hanya memiliki keamanan kelas tiga dan kelas dua jadi mungkin kekuatan mereka tidak cukup untuk mengatasi kelompok Aliran Keras yang memiliki ilmu tinggi.
Hanya saja selama pemerintahan ikut campur tangan, maka kelompok Aliran Keras pasti tidak bisa berbuat sesukanya karena kota Mallorca banyak bekerja sama dengan padepokan-padepokan besar.
Biasanya ketika ada kejadian seperti ini padepokan-padepokan akan mendapat misi dari pemerintah dengan hadiah yang sesuai tingkat kesulitan misi tersebut.
"Kudengar kelompok Aliran Keras ini bisa bertindak sesuka hati karena ada orang dalam pemerintahan juga, tidak hanya kota ini tetapi beberapa kota dan desa disekitar kami juga mengalami masalah yang sama." Jawab wanita paruh baya tersebut.
__ADS_1
Gus Mukhlas mengepalkan tangannya keras sementara Asrul menghela nafas panjang. Asrul sudah menduga ada campur tangan orang pemerintahan dan kaum bangsawan.
Selain lima keluarga bangsawan pulau Andalas, ada juga beberapa keluarga bangsawan kecil serta keluarga konglomerat. Keluarga-keluarga ini memiliki kebutuhan terhadap budak dalam jumlah besar, padahal budak sulit di dapatkan pada masa tanpa perang seperti ini maka kelompok-kelompok seperti ini yang berusaha memenuhi kebutuhan tersebut.
"Kelompok Aliran Keras yang memiliki kemampuan tinggi dan bisa bekerja sama dengan pemerintah tidak banyak, apa mereka memiliki tanda khusus?" Gus Mukhlas berusaha mengendalikan emosinya dan bertanya lebih jauh.
"Aku tidak pernah berani berurusan dengan mereka, tetapi kudengar mereka membawa bendera bergambar Kapak Merah..." jawab wanita paruh baya tersebut.
Raut wajah Gus Mukhlas dan Asrul menjadi serius. Bendera tersebut merupakan simbol dari Kelompok Kapak Merah, satu dari tiga kelompok perampok paling besar di kota Mallorca.
Beberapa tahun lalu, tidak lama setelah Gus Mukhlas bertemu dengan Asrul, keduanya berurusan dengan kelompok tersebut karena membantu Mbah Jena, salah satu jagoan terkuat Bukit Siguntang.
Kelompok Kapak Merah bisa memiliki pengaruh yang besar karena dibentuk oleh empat bersaudara yang semuanya merupakan pesilat ternama. Kekuatan mereka sudah banyak berkurang karena dua pemimpin yang dipanggil petinggi Kapak Merah telah tewas di tangan Mbah Jena.
Asrul merenung, semua kondisi ini terjadi bisa dibilang berkaitan dengannya. Pada kehidupan sebelumnya, Kelompok Kapak Merah telah bubar pada waktu ini karena keempat pemimpinnya tewas di tangan Mbah Jena saat terjadi pertarungan di penginapan tersebut, tentu dengan bayaran Mbah Jena terluka parah dan tidak pernah pulih.
Akibat keberadaan Gus Mukhlas serta Asrul yang membantu Mbah Jena waktu itu, dua orang pimpinan yang tersisa memilih untuk kabur daripada bertarung sampai mati. Asrul pikir Mbah Jena akan memburu kelompok Kapak Merah lagi setelah mengantar cucunya, Siti Adawiyah kembali ke kota Mallorca.
"Sepertinya ada sesuatu yang membuat guru Mbah Jena tidak bisa menghabisi mereka selama tiga tahun terakhir..." Asrul merenungkannya.
Dengan kata lain penderitaan penduduk kota ini serta kota dan desa disekitarnya berkaitan dengan perubahan yang dilakukan oleh Asrul.
__ADS_1
"Guru, Bukankah mereka kelompok yang berurusan dengan Mbah Jena beberapa tahun lalu? Pemimpin mereka memiliki kemampuan berimbang dengan Guru waktu itu, Jika keduanya datang bersamaan..." Asrul mengetahui Gus Mukhlas telah mengalami kemajuan pesat selama tiga tahun terakhir dan luka dalamnya sedikit lebih baik namun menghadapi dua orang pesilat ternama bukan perkara mudah.
Selama tiga tahun terakhir pastinya dua pimpinan Kelompok Kapak Merah yang tersisa juga tidak santai-santai saja karena menyadari ancaman yang mengincar mereka dari berbagai sisi.