
Gus Mukhlas bisa merasakan secara samar aura pembunuh pada tubuh Asrul, yang sebenarnya lebih menarik baginya adalah darimana Asrul belajar menyembunyikan aura pembunuh seperti ini.
"Guru selalu yakin bahwa Asrul adalah murid yang berbakat, jadi Guru tidak heran kau memiliki kemampuan yang tinggi." Gus Mukhlas tersenyum sambil mengelus kepala Asrul, "Guru yakin bahwa hati Asrul sebenarnya lembut."
Asrul tidak bisa menahan dirinya, dia memeluk Gus Mukhlas dengan erat.
Di kehidupan ini maupun kehidupan sebelumnya memang hanya Gus Mukhlas yang bisa menerimanya sepenuh hati.
"Murid tidak akan mengecewakan Guru sampai kapanpun, Murid akan menjadi sosok yang bisa Guru banggakan selamanya." Bisik Asrul.
"Asrul, Guru selalu bangga padamu." Gus Mukhlas merasa hangat di dadanya melihat muridnya begitu berbakti kepada gurunya.
Gus Mukhlas tidak peduli jika Asrul mampu membunuh seperti pembunuh berdarah dingin selama alasannya demi melindungi diri serta orang yang berharga baginya.
"Sepulang dari kota Mallorca, Guru ingin kau mengikuti ujian di Pagoda. Dengan kemampuanmu kau akan menjadi murid terbaik di generasimu dan juga bisa menjadi grand master termuda dalam sejarah nantinya." Gus Mukhlas mengingatkan.
Asrul menggaruk pipinya, tidak mengetahui harus bagaimana menjawab Gus Mukhlas namun pada akhirnya Asrul mengangguk pelan.
Pagoda adalah salah satu bangunan paling penting di bukit Siguntang. Pagoda tersebut memiliki empat lantai dan menjadi ujian bagi semua murid padepokan.
Jika seseorang bisa menyelesaikan lantai pertama maka dia telah memiliki ksatria kelas tiga, menyelesaikan lantai kedua artinya dia menyamai ksatria kelas dua sementara yang mampu melewati lantai ketiga berarti menyamai ksatria kelas satu.
Mereka yang menyelesaikan lantai satu Pagoda akan disebut Murid Luar, bagi yang menyelesaikan lantai dua disebut Murid Dalam, sementara yang menyelesaikan lantai tiga adalah Murid Elit.
__ADS_1
Jika seseorang bisa menyelesaikan lantai keempat Pagoda artinya mereka merupakan seorang pesilat tangguh.
Mereka yang menyelesaikan ini tidak lagi menjadi murid melainkan pengajar ataupun pengurus padepokan serta menjabat posisi penting lainnya.
Bagi mereka yang menyelesaikan lantai keempat sebelum usia 30 tahun bisa memiliki kesempatan menjadi salah satu pemimpin Padepokan.
Gus Mukhlas melihat selama kecepatan perkembangan Asrul tetap sama maka saat keduanya kembali ke Bukit Siguntang, Asrul seharusnya mampu menyelesaikan lantai keempat pagoda.
Pada saat itu terjadi maka Asrul adalah pengajar termuda dalam sejarah. Gus Mukhlas yakin Taimiyah akan memperhatikan Asrul dan memberinya sumber daya yang berharga. Posisi ketua padepokan sudah pasti jatuh ke tangan Asrul dan bukan tidak mungkin Taimiyah akan memilih Asrul menjadi penerusnya sebagai Ketua padepokan. Gus Mukhlas tidak mengetahui bahwa Asrul tidak tertarik dengan semua itu, menjadi ketua padepokan bukan sesuatu yang Asrul inginkan.
Asrul mengetahui dalam dunia persilatan, sebuah posisi memang penting tetapi yang lebih penting adalah memiliki kemampuan yang tinggi. Pusat perhatian Asrul saat ini adalah dirinya menjadi jauh lebih kuat sampai mampu melindungi Bukit Siguntang serta orang-orang yang berharga untuknya dari siapapun yang mencoba mencelakainya.
Gus Mukhlas merasa cukup kelelahan, bertarung dengan tiga ksatria tangguh pada kondisinya memang bukan perkara mudah. Keduanya kemudian memilih istirahat dan memulihkan kondisi tubuh mereka.
Pada saat yang sama, kabar tentang pembantaian di kediaman tersebut telah menyebar ke seluruh kota kecil. Walikota serta para petugas keamanan datang untuk menyelidikinya.
"Organisasi Silver Hawk bukan hanya gagal dalam misi tetapi juga kehilangan tiga pesilat tangguh. Pada puncak kejayaannya, mereka hanya memiliki 300 pesilat tangguh, kehilangan tiga anggota sekuat itu akan menjadi pukulan keras untuk mereka." Pikir Asrul sambil mencerna lagi situasinya.
Menurut Asrul setelah kejadian ini Silver Hawk akan lebih hati-hati lagi dalam beroperasi serta meningkatkan kemampuan anggota mereka. Perkembangan organisasi ini juga pastinya lebih lambat dibandingkan kehidupan sebelumnya.
Saat malam tiba, Faisal mendatangi ruangan Gus Mukhlas dan Asrul demi mengajak keduanya makan malam.
"ustadz Gus Mukhlas, kami sungguh berhutang besar padamu." Faisal mengangkat gelasnya dan memberi penghormatan pada Gus Mukhlas.
__ADS_1
Asrul melirik Zeus dan Kawamatsu yang juga berada di meja makan. Setelah diketahui keberadaannya, Kawamatsu tidak lagi bersembunyi di dalam bayangan Faisal.
Faisal lalu menyerahkan sebuah kotak berisi tiga puluh senjata rahasia pada Asrul. Sebelumnya Asrul memang meminta pada Faisal untuk mengumpulkan senjata rahasia yang dimiliki oleh para pembunuh Silver Hawk bertopeng emas dan ungu. Asrul menemukan kualitas senjata rahasia yang digunakan oleh pembunuh Silver Hawk berbeda setiap tingkat mereka.
Gus Mukhlas menyipitkan matanya ketika menyadari isi kotak tersebut, apalagi Asrul langsung menyimpan enam pisau kecil itu disekitar pinggangnya sebelumnya menyimpan sisanya.
"Murid Saudara Gus Mukhlas memang sungguh berbeda dari anak seusianya." Zeus tertawa kecil melihat tindakan Asrul.
Zeus memberi tanda pada salah satu pelayan, tidak lama pelayan itu membawa sebuah kotak kayu yang lebih besar dan memberikannya pada Asrul.
Asrul mengerutkan dahinya, ketika dia membuka kotak tersebut dia menemukan sebuah pedang pendek yang sesuai dengan ukuran tubuhnya. Pedang itu memiliki sarung berwarna biru muda, memiliki hiasan beberapa batu mulia juga dan pada gagang pedangnya terdapat ukiran kepala elang berwarna putih.
Semua orang bisa melihat Asrul menjadi antusias karena pedang tersebut.
Asrul menarik pedang pendek itu dari sarungnya, dia bisa merasakan ketajaman pedang tersebut jauh di atas pedang pada umumnya. Selain itu pedang ini terlihat masih baru.
"Pedang Pendek ini adalah senjata bernama yang dikenal sebagai Pedang Elang Putih. Biarpun tidak bisa dibilang sebagai pusaka namun ketajamannya mendekati pedang pusaka." Zeus menjelaskan pada Asrul, "Pedang ini kupakai saat muda, menurutku pedang ini lebih baik berada di tanganmu."
"Terima Kasih Imam, Aku akan merawat pedang ini dengan baik." Asrul menunjukkan rasa terima kasihnya.
Pada kehidupan sebelumnya Asrul dijuluki Juru Selamat, dia mencapai penguasaan yang tinggi dalam ilmu pedang sehingga Asrul bisa menilai kualitas pedang dalam sekali lihat.
Yang paling menarik bagi Asrul adalah meskipun tidak termasuk pusaka namun Pedang Elang Putih ini mampu dialiri tenaga dalam cukup besar.
__ADS_1
Tidak semua senjata dapat dialiri oleh tenaga dalam karena bahan yang digunakan tidak cukup kuat, andai dipaksakan maka senjata yang dialiri tenaga dalam itu akan hancur kecuali seseorang sangat ahli dalam menggunakan tenaga dalam.
Jika seseorang berlatih tenaga dalam sampai tingkat yang sangat tinggi dan mampu mengendalikannya dengan baik, dia bahkan dapat mengubah selembar daun ataupun sehelai rambut menjadi senjata yang mematikan dengan mengalirkan tenaga dalam yang besar pada benda tersebut.