JURU SELAMAT

JURU SELAMAT
Situasi Asosiasi Di Mallorca


__ADS_3

Akibatnya aura pembunuh yang berkumpul di tubuhnya sangat kuat bahkan menggunakan trik yang dia miliki pun tidak bisa menyembunyikan separuh aura pembunuh tersebut.


"Sepertinya aku harus lebih berkonsentrasi berlatih Aura tasawuf selama beberapa waktu ke depan." Asrul melamunkan kondisi aura pembunuhnya, tidak terasa dia sudah sampai di depan Asosiasi kitab suci, kedua penjaga pintu memberi hormat padanya.


"Tuan Muda Asrul, aku tidak menduga anda akan datang secepat ini..."


Ketika Asrul memasuki asosiasi dia langsung menemukan wajah yang tidak asing baginya, Anita tersenyum lebar menyambutnya.


"Nona Anita, Aku sangat berterima kasih atas bantuan yang kalian berikan. Andai asosiasi tidak membantuku, aku mungkin tidak bernafas sampai sekarang." Asrul tersenyum lembut sambil memberikan hormatnya.


"Tuan Muda Asrul, setelah yang anda lakukan untuk asosiasi sudah sepantasnya kami memberikan bantuan seperti ini." Anita tertawa kecil, "Aku sudah mendengar sebagian besar ceritanya dari Saudari Sindy."


Sindy memang sudah menceritakan bahwa Asrul ternyata lebih dari yang Anita pikirkan. Terlepas dari usianya yang masih begitu muda, Asrul adalah seorang pendekar handal yang bisa dibilang haus darah. 


Anita sebelumnya memprediksi Asrul mungkin memiliki kemampuan yang mengimbangi dirinya. Sindy yang telah melihat langsung kemampuan Asrul memberikan pendapatnya, memang benar kekuatan keduanya tidak berbeda terlalu jauh namun Asrul jelas lebih kuat lalu ada dua hal yang harus Anita perhatikan.


Pertama Anita bisa melepaskan kekuatan mendekati Asrul karena menggunakan tenaga dalam, sebaliknya Asrul sama sekali tidak memiliki tenaga dalam dan hanya menggunakan kekuatan fisiknya. Awalnya Anita mengira Asrul memiliki kemampuan menyembunyikan tenaga dalamnya dari penglihatan orang tetapi Sindy memastikan tidak demikian.


Kedua meskipun kekuatan Anita dan Asrul hampir berimbang, Sindy berpendapat jika keduanya bertarung maka Anita tidak akan bertahan sampai tiga serangan.


Ketika Anita menanyakan alasannya, Sindy menjawab dengan nada datar, "Pemuda ini adalah pembunuh berdarah dingin, pada usia yang sama aku hanya membunuh satu dua orang tetapi dia? Jumlahnya tidak terhitung lagi dan seseorang yang mampu membunuh tanpa berkedip di usianya adalah orang yang sebaiknya tidak pernah kau jadikan musuh."


Asrul tidak pernah memberikan belas kasih saat menghadapi musuhnya, Sindy yakin Asrul akan tetap bersikap sama meskipun lawannya adalah seorang perempuan.

__ADS_1


Anita menganggap pendapat sindy berlebihan karena dirinya sudah beberapa kali bertemu serta berkomunikasi dengan Asrul namun tidak pernah merasa seperti yang Sindy ceritakan namun karena Sindy memegang posisi penting membuat Anita tidak membantahnya.


Hanya saja sekarang mata Anita terbuka lebar, "Aura pembunuh yang mengerikan..." pikir Anita sambil menelan ludahnya.


Anita sadar aura pembunuh tersebut baru saja didapatkan Asrul dan tidak diarahkan padanya namun tetap saja tubuh Anita mengeluarkan keringat dingin saat berada di dekat Asrul.


Asrul tersenyum canggung, dia menyadari yang terjadi pada Anita. Asrul sudah berusaha menyembunyikan aura pembunuhnya hanya saja kali ini aura pembunuhnya terlalu kuat dan tidak dapat disembunyikan sepenuhnya.


"Nona Anita, kudengar ada seseorang yang ingin bertemu denganku?" Asrul memilih mengalihkan pembicaraan agar Anita merasa lebih baik.


"Ah, benar. Ini terkait saham yang Tuan Muda Asrul miliki."


"Sahamku? Apa ada masalah?" Asrul mengangkat alisnya. Anita menjelaskan secara perlahan dan hati-hati bahwa sebelumnya tidak pernah ada orang luar yang memegang saham Asosiasi kitab suci. Jika bukan karena kontribusi Asrul yang besar untuk perkembangan asosiasi di Mallorca maka sulit untuk mendapatkannya.


Sebab itulah Asosiasi pusat mengirim seseorang untuk memeriksa serta mempelajari situasi asosiasi Mallorca. Anita tidak merasa khawatir terhadap pemeriksaan ini karena semua yang dia laporkan benar, Anita tidak merasa tersinggung atas sikap pusat karena sampai detik ini pun dia masih sulit percaya Asrul adalah seorang pemuda berusia 23 tahun. 


Asrul diminta menunggu di ruang tamu yang biasa digunakan sebagai ruang pertemuannya dengan Anita.


"Seseorang yang dikirim adalah abang tertuaku, saat ini dia sedang memeriksa dokumen-dokumen terkait jadi mohon tunggu sebentar di sini." Anita mengatakan orang yang akan menemuinya bernama Yanti.


"Yanti? Kenapa nama ini tidak terdengar asing?" Asrul menggaruk kepalanya, berusaha mengingat darimana dia mendengar nama Yanti.


Asrul menunggu di ruangan tersebut sendirian, Anita sepertinya sedang memiliki urusan yang mendesak jadi Asrul mengisi waktunya dengan berlatih Aura tasawuf. Dia berpikir sebaiknya mengubah aura pembunuh menjadi aura tasawuf secepatnya karena dia adalah seseorang dari aliran putih, tidak baik memiliki aura pembunuh sepekat ini.

__ADS_1


Tanpa terasa dua jam berlalu, Asrul mengerutkan dahinya saat membuka matanya, "Apa yang terjadi? Apa mereka melupakanku?"


Saat Asrul berniat bangkit dari tempat duduk dan mencari Anita, mendadak gadis itu memasuki ruangan. Asrul menaikan alisnya karena Anita terlihat panik dan sedang terisak.


"Maafkan kelalai kami, telah terjadi sesuatu..." Anita berkata sambil terisak-isak jelas kesulitan bicara.


"Nona Anita bisa jelaskan padaku apa yang terjadi?" Asrul merasa kebingungan.


Anita sebenarnya ingin meminta Asrul untuk pulang dan kembali lain waktu tetapi setelah membuatnya menunggu dua jam, Anita merasa perlu memberikan penjelasan.


Yanti datang ke Mallorca bersama ketiga anaknya, saat mendengar Yanti ingin mengunjungi Anita, ketiga anak tersebut memohon agar dapat ikut. Anita sangat dekat dengan ketiga keponakannya dan begitu menyayangi mereka semua.


Dua jam yang lalu saat Anita berniat memanggil Yanti untuk menemui Asrul, dia menemukan Yanti sedang mengendong putri bungsunya dengan panik dan meminta Anita memanggil tabib terbaik di Mallorca. Putri bungsu Yanti ditemukan pingsan, tubuhnya juga sangat panas tanpa alasan yang jelas.


"Padahal tadi pagi Kayla masih bermain dengan ceria serta penuh semangat... Ini... Aku tidak mengerti..." Anita kembali terisak.


"Apa yang tabib katakan?"


Anita berusaha mengatur nafasnya tetapi semakin sulit, ternyata Anita menangis setelah mendengar diagnosa sang tabib. Menurut hasil pemeriksaan, putri bungsu Yanti yaitu Kayla terkena penyakit cacar.


Mendengar hasil diagnosa tersebut, Yanti menjadi histeris. Memang dalam perjalanan ke Mallorca, Yanti sempat melewati desa yang terkena wabah cacar, dirinya sempat cemas namun setelah beberapa hari berlalu dan semua baik-baik saja, Yanti mulai melupakannya sampai Kayla mendapat diagnosa terkena cacar.


"Ini semua salahku, andai mereka tidak meminta ikut maka Kayla tidak akan terkena penyakit ini..." Anita terus terisak.

__ADS_1


Asrul menahan nafasnya, sekarang dia mengerti alasan Anita menangis dan terlihat putus asa. Cacar adalah penyakit yang belum ditemukan obatnya sampai dua puluh tahun mendatang, sembilan dari sepuluh orang yang terkena penyakit ini akan meninggal.


__ADS_2