JURU SELAMAT

JURU SELAMAT
Kandungan Kitab Al-Hikam


__ADS_3

Imam Zeni sebenarnya juga ingin mengetahui kejelasan situasi mereka, hanya saja Mbah Jena menolak membagikannya pada para pengikutnya, Imam Zeni berpikir Gus Mukhlas akan mendapat perlakuan berbeda.


Gus Mukhlas dan Imam Zeni kemudian mendiskusikan beberapa hal, sementara Asrul memilih melihat pemandangan dari jendela.


Asrul bisa melihat penduduk Mallorca hidup berkecukupan, jauh berbeda dengan pengalamannya pada kehidupan sebelumnya.


"Jadi seperti inikah istana..."


Beberapa waktu berlalu, kereta kuda akhirnya melewati gerbang istana. Asrul membuka mulutnya lebar ketika melihat kemegahan istana kota Mallorca, ini pertama kali dalam kehidupannya yang kedua, Asrul memasuki istana.


"Istana dibagi menjadi beberapa wilayah, kita akan langsung menuju wilayah yang menjadi kediaman Mbah Jena." Imam Zeni menjelaskan.


Asrul memperhatikan situasi sekitarnya dengan antusias, menurut perkiraannya Istana ini bahkan lebih luas daripada Bukit Siguntang. Lebih tepatnya kediaman Mbah Jena saja sudah mengimbangi ukuran Bukit Siguntang.


"Mbah Jena akan dikabari tentang kedatangan kalian." Imam Zeni menyarankan Gus Mukhlas dan Asrul beristirahat di ruangan yang telah disediakan sambil menunggu Mbah Jena memanggil keduanya.


Beberapa pelayan mendekati keduanya, kemudian membawa Gus Mukhlas dan Asrul ke ruangan yang telah disediakan untuk mereka masing-masing.


Asrul begitu menarik perhatian banyak orang karena sangat jarang menemukan ksatria pada usianya. Asrul bisa merasakan tatapan para pelayan dan bik emban serta bisikan mereka yang membicarakannya tetapi Asrul memilih tidak terlalu peduli sampai dia mendengar isi percakapan salah satu bik emban.


"Bukankah dia pemuda yang sering dibicarakan oleh Tuan Putri Siti Adawiyah?"


Harus Asrul akui dirinya terkejut ketika melihat informasi seperti itu bisa diketahui secara luas, bahwa dirinya memiliki hubungan pertemanan dengan Siti Adawiyah.

__ADS_1


"Penyebaran informasi di tempat ini begitu cepat, akan sulit menjaga rahasia di tempat ini." Asrul menggelengkan kepalanya pelan.


Matahari sudah hampir terbenam saat Gus Mukhlas dan Asrul sampai di Istana jadi Asrul berpikir Mbah Jena akan menemui mereka esok hari atau setidaknya pada waktu makan malam. Sambil menunggu, Asrul menyusun barang-barang di kamar yang disediakan untuknya.


"Kurasa kami akan tinggal di Mallorca sampai perebutan tahta selesai..." Asrul mulai merencanakan latihannya selama di Mallorca.


Satu hal yang Asrul harapkan adalah rencananya yang berkaitan dengan Asosiasi kitab suci dapat berjalan sesuai harapan. Seharusnya dalam tiga atau empat hari, Asrul sudah mendapatkan kabar dari asosiasi tersebut.


Asrul mengeluarkan sebuah buku yang selalu dibawa bersamanya, buku ini ditulis oleh dirinya sendiri beberapa tahun lalu. Buku ini tidak lain adalah Kitab Al Hikam yang disalin oleh Asrul mengandalkan ingatannya.


"Kitab ini telah membuat tidak terhitung banyaknya nyawa hilang dari dunia persilatan, tapi untuk saat ini tidak ada yang mengetahui nilainya." Asrul mulai membuka halaman demi halaman.


Selama ini Asrul hanya mempelajari 'Pembentukan kultivasi' dari Kitab Al Hikam, sebenarnya ada banyak bagian lain dalam kitab ini, tenaga dalam dan kualitas kultivasi hanya sebagian isinya. 


Tidak banyak yang mengetahuinya karena memang diantara Tiga Kitab Tanpa Tanding, Kitab Al Hikam yang paling sedikit pemiliknya. Hanya ada tiga orang yang pernah mempelajarinya termasuk Asrul dan tidak ada yang mempelajari dengan sempurna ilmu tersebut.


Banyak yang berspekulasi bahwa Kitab Al Hikam sebenarnya yang terbaik diantara Tiga Kitab Tanpa Tanding. Asrul sendiri tidak mengetahui kebenarannya karena dia belum pernah melihat kitab yang lain ataupun orang yang mempelajari kitab tersebut selain Siti Adawiyah.


Saat ini pandangan Asrul jatuh pada bagian yang bernama 'Aura Tasawuf'.


"Pada kehidupan sebelumnya aku belum mempelajari bagian ini karena meremehkan kegunaannya, sekarang aku tidak akan mengulangi kesalahan yang sama." Asrul membaca kembali bagian 'Aura tasawuf dari Kitab Al Hikam.


Aura pembunuh yang akan muncul setiap kali seseorang membunuh dan akan menjadi semakin pekat seiring banyaknya nyawa yang diambil oleh seseorang memang dipandang dengan banyak cara di dunia persilatan.

__ADS_1


Bagi aliran putih dan lurus, aura pembunuh bukan sesuatu yang baik karena memperlihatkan seseorang sebagai pemilik karakter yang haus darah dan kejam. Tidak heran muncul beberapa cara dan ilmu yang didalami oleh pendekar aliran putih untuk mengikis aura pembunuh di tubuh mereka bahkan ada pusaka yang berguna mengikis aura tersebut.


Pada aliran hitam dan sesat berbeda lagi, aura pembunuh membuat seseorang menjadi lebih ditakuti dan dihormati. Mengingat dunia persilatan aliran hitam begitu kejam dan berbahaya, saling membunuh sudah menjadi kegiatan sehari-hari. Hanya saja demi dapat berpergian dengan mudah, pendekar aliran hitam menemukan cara dan ilmu untuk menyembunyikan aura pembunuh mereka.


Asrul berhasil mempelajari cara menyembunyikan aura pembunuh yang tingkatnya cukup tinggi dari seseorang yang berasal dari aliran hitam pada kehidupan sebelumnya.


Tidak banyak pendekar di dunia persilatan yang mengetahui bahwa aura pembunuh sebenarnya memiliki sebuah fungsi yang berguna dalam pertarungan ketika seseorang mempelajari ilmu pikiran.


Diantara semua jenis ilmu bela diri, ada sebuah cabang ilmu yang bernama ilmu pikiran yaitu sebuah teknik yang jika dipelajari dapat digunakan untuk menyerang mental lawan. Keberadaan ilmu jenis ini begitu langka di kota Mallorca sehingga Asrul baru mengetahui ilmu inipun saat dia telah berkelana selama puluhan tahun.


Kebanyakan ilmu pikiran mengubah aura pembunuh menjadi sebuah energi tidak kasat mata yang mampu digunakan untuk menyerang orang lain.


"Aku tidak akan pernah melupakan Lucifer..." Tubuh Asrul sedikit bergetar mengingat sebuah pengalamannya.


Pada kehidupan sebelumnya, Asrul pernah berhadapan dengan seorang pendekar yang dijuluki Lucifer. Pendekar tersebut sudah membunuh begitu banyak orang tidak bersalah dan memiliki aura pembunuh yang begitu pekat.


Asrul berhadapan dengan Lucifer mengandalkan permainan pedangnya dan berhasil mengungguli pembunuh keji itu, namun saat Lucifer terdesak, dia menggunakan sebuah ilmu yang membuat matanya berubah menjadi warna merah darah dan aura pembunuhnya seolah menjadi senjata tajam yang tidak kasat mata.


Tubuh Asrul seolah dihujani oleh ratusan pisau, kepalanya terasa sakit dan hampir kehilangan kesadaran saat menatap mata merah darah tersebut. Jika bukan karena keberuntungan berpihak padanya hari itu, Asrul sudah tewas terbunuh saat berhadapan dengan Lucifer.


Asrul bertemu beberapa penguna ilmu pikiran lagi pada kehidupan sebelumnya namun tidak ada yang sehebat Lucifer.


"Jika aku mempelajari Aura tasawuf maka aku bisa mengubah aura pembunuh menjadi aura tasawuf. Menurut Kitab Al Hikam, aura tasawuf akan membuat seseorang menjadi terlihat berbeda serta dapat digunakan dalam pertarungan."

__ADS_1


__ADS_2