JURU SELAMAT

JURU SELAMAT
Suasana Di Mallorca


__ADS_3

"Tubuhnya memancarkan tekanan yang tidak jauh dariku bahkan mungkin sedikit melebihi aku, tetapi aku tidak merasakan sedikitpun tenaga dalam dari tubuhnya. Bagaimana bisa dia memiliki kekuatan sebesar itu jika mengandalkan kekuatan fisik semata?" Semakin Anita mencoba memahaminya, semakin bingung dirinya.


Pada saat yang sama Asrul dalam perjalanan kembali ke penginapan sambil memandangi kartu perak yang ada ditangannya. Asrul sama sekali tidak menduga kunjungannya kali ini akan membuatnya mendapatkan kartu yang begitu diincar oleh banyak orang di masa depan.


"Jika aku bisa menjalin kerja sama dan mendapatkan pengaruh besar pada Asosiasi kitab suci, mereka dapat membantuku menyembuhkan Guru di masa depan." Asrul mendengar pada kehidupan sebelumnya bahwa Asosiasi kitab suci sangat menghargai orang-orang yang berkontribusi pada perkembangan mereka, dia hanya bisa berharap bahwa semua itu benar.


Dengan bantuan Asosiasi kitab suci, perjalanan bela diri Asrul akan semakin lancar terutama jika dia membutuhkan sumber daya di masa depan.


Asrul menyimpan kartu perak itu dengan baik di jubahnya, dia kemudian menyentuh sebuah giok yang diberikan Siti Adawiyah padanya.


"Ah, sudah cukup lama juga tidak berjumpa dengan Tuan Puteri itu, seperti apa kabarnya sekarang ya? Mungkinkah kondisinya sudah membaik?"


Wajah Siti Adawiyah yang tersenyum dengan polosnya tiba-tiba terbayang dalam pikiran Asrul, membuatnya tertawa kecil sendirian.


Mbah Jena tertawa lantang, "Sebenarnya aku juga menantikan pemuda itu, kudengar kemampuannya meningkat pesat selama beberapa tahun terakhir. Aku ingin melihat sejauh mana perubahan yang terjadi padanya."


Seorang Imam yang bernama Zeni mendekati Mbah Jena untuk memberikan surat padanya.


Raut wajah Mbah Jena menjadi bersemangat ketika membaca isi surat itu, sementara Zeni itu tersenyum lembut.


"Saudara Gus Mukhlas ternyata sudah berada di Mallorca! Bagus!" Mbah Jena memerintahkan Zeni untuk segera menjemput Gus Mukhlas dan Asrul ke Istana. "Siti Adawiyah pasti senang dengan kedatangan Asrul."


Mbah Jena juga memanggil salah satu Imam, memintanya mengawal Gus Mukhlas karena situasi di Mallorca sedang tidak aman.

__ADS_1


Ketika Zeni itu kembali, Zeni membuka pembicaraan lainnya, "tuan Jena, Apakah tuan belum mengambil keputusan juga?"


Kebahagiaan di wajah Mbah Jena menghilang ketika mendengar pertanyaan tersebut, dia menggelengkan kepala pelan, "Tidak, saya masih mengkhawatirkan banyak hal yang mungkin terjadi. Andaikan dua padepokan yang lain tidak mundur, mungkin saya lebih memiliki ketegasan. Situasinya sedang tidak menguntungkan karena itu saya mencari bantuan lainnya."


Mbah Jena mengusap janggutnya, memikirkan beberapa hal dan diam cukup lama. Mbah Jena memahami andai bukan karena Mbah Jena tertarik melihat Siti Adawiyah menjadi seorang pendekar yang hebat serta sumber daya jumlah besar yang disediakan Kota Mallorca, pastinya Mbah Jena telah lama menarik diri dari perebutan tahta.


"Mbah Jena, kuharap anda mengerti bahwa situasi kita akan semakin tidak menguntungkan. Kesabaran kandidat yang lain pasti ada batasnya, belum lagi kelompok di belakangnya. Jika mereka semua bergerak sekarang, kita tidak akan punya cukup kekuatan menahan serangan yang datang." Zeni berkata dengan nada berat.


"Zeni, tidak mudah menemukan padepokan yang bersedia ikut campur dalam situasi seperti ini jadi kita hanya bisa mengandalkan sumber daya keluarga kerajaan. Kudengar keluarga Teratai juga memutuskan untuk berpihak padaku, dalam waktu dekat mereka akan mengirim seseorang membicarakan koalisi dan tentu saja keluarga Teratai..." Mbah Jena berhenti berucap ketika melihat perubahan wajah Zeni.


"Mbah Jena, tanpa mengurangi rasa hormatku. Menurut Mbah Jena, karena siapa kita berada dalam situasi seperti ini? Bukankah karena keluarga Kembang Bulan? Namun sampai sekarang mereka masih belum mengirim bantuan padahal mereka adalah penyebab utamanya." Zeni berkata dengan sedikit geram.


Mbah Jena hanya bisa menanggapi sambil tersenyum canggung, perkataan Zeni sama sekali tidak salah. Zeni juga mengingatkan kedatangan Gus Mukhlas sekalipun tidak akan membuat banyak perubahan walaupun Gus Mukhlas adalah salah satu dari 20 Imam tetap terkuat di Bukit Siguntang.


Tentu saja Mbah Jena menyadari itu, alasan dia mengundang Gus Mukhlas adalah sesuatu yang berbeda.


"Siapa tamu penting yang dijemput seperti ini?"


"Lihat seorang pemuda bersorban dan pemuda bertubuh kekar."


"Sepertinya mereka musafir."


Melihat semakin banyak warga yang berkumpul, 20 prajurit istana mulai bergerak untuk membubarkan massa tersebut.

__ADS_1


"Imam Gus Mukhlas, Maaf membuatmu menunggu lama."


"Zeni, Anda terlalu sungkan. Terima kasih sudah repot-repot menjemput kami."


Asrul mengenali pria paruh baya di hadapannya sebagai Imam Zeni, salah satu dari seratus Imam Mallorca. Biarpun Imam Zeni berusia lebih dari 50 tahun tetapi dia tidak berani bersikap tidak sopan pada Gus Mukhlas karena kekuatan Gus Mukhlas berada jauh di atasnya.


Dalam dunia persilatan seringkali usia tidak menjadi tolak ukur melainkan kekuatan yang dimiliki seseorang karena itulah Gus Mukhlas begitu dihormati meskipun usianya masih belum menginjak 30 tahun.


"Ini pasti Asrul, aku sudah mendengar sepak terjang muridmu juga. Kalian berdua sungguh pandai membuat nama dalam perjalanan kemari." Imam Zeni tertawa lepas saat memandang Asrul.


"Apa maksud Imam Zeni? Aku tidak memahaminya." Gus Mukhlas merasa kebingungan.


"Oh, Imam Gus Mukhlas belum mengetahuinya? Mari kita bicarakan dalam perjalanan." Imam Zeni mengajak Gus Mukhlas memasuki kereta kuda, mengingat semakin ramai warga yang ingin melihat mereka.


Dalam perjalanan, Imam Zeni menceritakan bahwa Gus Mukhlas dan Asrul menjadi terkenal beberapa waktu terakhir. Kabar tentang dua orang yang berasal dari Bukit Siguntang menghancurkan markas-markas kelompok Aliran Keras yang meneror warga telah menjadi berita hangat selama sepekan terakhir.


"Kudengar Padepokan kita sekarang mendapat lebih banyak pekerjaan karena reputasi yang Imam Gus Mukhlas bangun bersama Asrul ini." Imam Zeni terlihat gembira.


Di aliran putih sekalipun hampir tidak ada ksatria yang bersedia bekerja tanpa imbalan. Gus Mukhlas bisa dibilang satu-satunya ksatria bergelar yang bersedia melakukan semua itu, karena menjadi musuh dari organisasi sebesar kelompok Aliran Keras bukan masalah kecil.


"Mbah Jena sangat gembira dengan tindakanmu, ini membuat nama padepokan kita juga semakin terpandang." Imam Zeni tersenyum lebar.


"Imam Zeni, tidak perlu terlalu memikirkan itu. Aku lebih ingin mengetahui situasi perebutan tahta, apakah Imam Zeni mengetahui apa yang sebenarnya terjadi?" Gus Mukhlas tidak terlalu memikirkan masalah ketenaran seperti itu.

__ADS_1


Imam Zeni menjelaskan dirinyapun tidak mengetahui jelas perubahan yang terjadi beberapa waktu terakhir namun yang dia ketahui semua berhubungan dengan keluarga Kembang Bulan serta situasi Mallorca tidaklah baik.


"Lebih jelasnya Imam Gus Mukhlas bisa mendengar dari Mbah Jena atau mungkin langsung dari Taimiyah karena beliau yang mengundang dirimu bukan?"


__ADS_2