
Asrul memang mengetahui resep obat untuk penyakit cacar tetapi dia tidak bisa memastikan obat tersebut bekerja sesuai harapan dan memberikan resep ini sebelum memeriksa kondisi Kayla juga akan menimbulkan banyak pertanyaan.
Yanti mengingatkan bahwa penyakit cacar adalah penyakit menular, andaikan tubuh Asrul sedang tidak sehat maka kemungkinan tertular cukup tinggi.
"Aku memahami resikonya, bisa kita temui pasien sekarang? Semakin lama menunda akan memperkecil kemungkinan yang dimilikinya." Asrul mengingatkan.
Yanti membawa Asrul untuk menemui putrinya sedangkan Anita serta dua putranya disuruhnya menunggu di luar.
Tidak ada orang lain di ruangan tersebut selain seorang gadis mungil yang terbaring lemah di atas ranjang, penyakit cacar memang begitu menakutkan di masa sekarang karena belum ada obatnya.
Asrul duduk di samping Kayla, dia bisa melihat gadis kecil ini akan tumbuh menjadi wanita yang cantik dan anggun, hal ini tidak mampu ditutupi oleh wajahnya yang sangat pucat sekalipun maupun bintik-bintik merah yang memenuhi seluruh tubuhnya.
Tubuh Kayla demam tinggi serta terus mengeluarkan keringat dingin, bibirnya memutih serta sesekali tubuhnya bergetar hebat. Biarpun matanya masih terbuka tetapi Kayla sama sekali tidak memiliki kesadaran ataupun kemampuan mengenali serta mengetahui keberadaan Yanti dan Asrul.
Yanti merasa hatinya tersayat-sayat melihat kondisi putrinya, dia hanya bisa berharap Asrul sungguh mampu mengobati Kayla.
Asrul hanya memeriksa nadi Kayla sejenak sebelum bangkit dan mengajak Yanti meninggalkan ruangan.
"Tuan Muda Asrul, anda menyerah secepat ini?" Yanti hampir tidak bisa menahan kemarahannya. "Aku sudah selesai memeriksanya, putri anda memang terkena cacar. Sekarang kita harus menyiapkan obat untuknya." Asrul memandangi Yanti dengan heran.
Yanti mengerutkan dahinya, bahkan tabib terbaik Mallorca membutuhkan waktu lima belas menit untuk mendiagnosa putrinya tetapi Asrul tidak sampai semenit melakukannya.
__ADS_1
Asrul mengerti yang dia pikirkan kemudian tersenyum tipis, "Yanti, saat anda melewati desa orang yang terkena wabah cacar, apa anda perlu mendiagnosa mereka dalam waktu lama untuk mengetahui kondisi mereka?"
Jika hanya gejala ringan mungkin akan butuh waktu lama untuk menentukan penyakitnya tetapi Kayla sudah menunjukan tanda jelas yang membuktikan penyakitnya adalah cacar.
Yanti menelan kembali kemarahannya dan merasa sedikit bodoh karena tidak menyadari ini. Asrul sepertinya hanya ingin memastikan bahwa Kayla memang terkena cacar agar tidak salah memberikan resep.
Asrul meminta kertas dan menuliskan beberapa bahan serta cara meraciknya untuk membuat obat penyakit cacar. Anita membaca daftar tersebut dan menemukan semua yang Asrul tulis tersedia di asosiasi mereka jadi Anita meminta orang untuk menyiapkannya.
Tidak ada satupun orang yang berpikir sebuah resep dari pemuda seperti Asrul akan mampu menyembuhkan penyakit cacar namun setelah Kayla meminum obat yang diresepkan Asrul, panas badannya menurun dan kondisinya berangsur membaik dalam hitungan menit.
Ketika semua ini diketahui oleh orang-orang asosiasi, mereka semua tidak bisa mempercayainya.
"Berikan obat ini setiap 8 jam sekali, setelah tiga hari kondisi pasien akan kembali normal tetapi dia harus tetap meminumnya selama 7 hari tanpa henti untuk memastikan penyakit tersebut sembuh sepenuhnya. Berikan obat ini juga pada semua orang yang ikut bersama Yanti dalam perjalanan melewati desa yang terkena wabah cacar, mereka hanya perlu meminumnya tiga kali untuk memastikan tubuh mereka bersih dari cacar."
"Tuan Muda Asrul, Bagaimana anda mengetahui obat untuk penyakit cacar bahkan para tabib hebat di Sekayu pun hanya bisa pasrah..." Anita tidak bisa menahan diri untuk bertanya meskipun dia mengetahui ini mungkin menyinggung Asrul.
Asrul hanya menjelaskan dia mengerti satu dua hal tentang pengobatan dan kebetulan penyakit cacar adalah salah satu yang dia pahami. Asrul tidak ingin menjelaskan darimana dirinya mendapatkan resep obat tersebut.
"Tuan Muda Asrul, aku tidak tahu bagaimana harus membalas budimu ini... Kayla adalah harta berharga bagiku..." Jika tidak mengingat posisinya, Yanti mungkin akan bersujud di depan Asrul untuk berterima kasih.
Yanti sama sekali tidak memandang Asrul sebagai pemuda biasa lagi setelah kejadian ini, dia memandang Asrul sebagai seseorang yang setingkat dengannya.
__ADS_1
“Kita bisa bahas itu nanti, kudengar Yanti datang kemari karena ingin membicarakan sesuatu denganku?"
"Ah, itu..." Yanti menggaruk kepalanya, dia hampir lupa masalah tersebut karena kejadian yang menimpa putrinya.
Yanti meminta Anita membawa Asrul ke ruangan tamu penting dan menjamunya, Yanti meminta waktu untuk membersihkan diri dan menganti pakaiannya.
Anita menemani Asrul beberapa waktu sebelum Yanti memasuki ruangan dengan penampilan yang lebih rapi.
"Tuan Muda Asrul, maafkan atas sikap kami sebelumnya dan terima kasih atas bantuan yang diberikan..."
"Yanti tidak perlu sungkan, kita bagian dari asosiasi yang sama. Sudah sepatutnya saling membantu."
Yanti tersenyum lebar, dia semakin menyukai dan kagum terhadap Asrul yang begitu dewasa. Dia menjelaskan kedatangannya ke Mallorca untuk memeriksa kondisi Asosiasi kitab suci, laporan yang diberikan Anita ke pusat sulit dipercaya.
Hanya saja Yanti tidak perlu waktu lama untuk memeriksa kebenarannya, Asosiasi kitab suci kota Mallorca sungguh berhasil merekrut puluhan pendekar ahli dalam waktu singkat serta menjual sumber daya dengan nilai yang luar biasa. Dalam perjalanan ke Mallorca, Yanti sempat melewati wilayah yang menjadi letak satu dari tiga tambang yang Asrul berikan informasinya juga.
Berkat keterlibatan Asrul, perkembangan asosiasi menjadi lebih cepat setidaknya setara dengan perkembangan lima sampai sepuluh tahun dalam rencana mereka. Dengan demikian Yanti bisa mengambil kesimpulan tindakan Anita memberikan Asrul izin untuk memiliki 10% saham adalah hal yang wajar.
Terlebih lagi Asrul kini menyelamatkan nyawa putrinya, pandangan Yanti pada Asrul tentu sangat bagus, "Aku mungkin bisa memperjuangkan agar Tuan Muda Asrul dapat memegang 20% saham asosiasi di kota Mallorca, anggap ini sebagai balas budiku terhadap pertolongan yang Tuan Muda berikan."
Anita sampai memuncratkan teh yang berada di mulutnya ketika mendengar perkataan Yanti, bahkan Anita yang merupakan pemimpin tertinggi Asosiasi kitab suci kota Mallorca hanya memiliki 15% saham. Jika Asrul memiliki 20% bukankah Anita bisa dibilang menjadi bawahannya.
__ADS_1
"Ada beberapa hal yang ingin aku bahas sebenarnya dengan Yanti terkait hal tersebut, jika memang kamu ingin membalas pertolongan ini, bolehkah aku meminta hal lain?" "Tentu, selama bisa aku penuhi maka aku akan menggunakan segenap kemampuanku."
Yanti dan Anita sempat berpikir Asrul sangat berambisi, sepuluh persen saham tambahan nyatanya tidak membuatnya berkedip, keduanya berpikir Asrul akan meminta sesuatu yang lebih bernilai namun nyatanya permintaan tersebut membuat keduanya membuka mulut lebar dan merasa malu telah berpikir demikian.