
Airish sedikit menyesali karena tidak mampu membantu Gus Mukhlas maupun Asrul sekarang, dia lalu membahas topik yang lain untuk mencairkan suasana.
"Beberapa waktu yang lalu saat aku sedang minum dengan Saudara Mbah Jena, aku pernah mendengar nama Asrul disebut, apa mungkin kalian memiliki hubungan dengan Mbah Jena?"
Gus Mukhlas mengangguk pelan sebelum menceritakan hubungan antara keduanya dengan Mbah Jena yang terjadi beberapa tahun lalu. Termasuk Mbah Jena yang berniat menjodohkan cucunya, Siti Adawiyah pada Asrul.
"Oh, jadi Asrul ini sungguh tunangan dari Siti Adawiyah? Sungguh menarik." Airish memandang Asrul dengan senyuman penuh makna, "Siti Adawiyah diketahui memiliki bakat yang tinggi dalam ilmu bela diri, banyak yang berpikir akan sulit mencari jodoh yang bisa mengimbanginya di masa depan. Tidak kusangka si tua Mbah Jena sudah menemukan pasangan yang cocok untuknya."
Asrul hanya tersenyum canggung, dia tidak terkejut mendengar bakat Siti Adawiyah karena memang gadis tersebut tercatat sebagai jenius paling hebat sepanjang sejarah Bukit Siguntang. Asrul tidak mengetahui pasti setinggi apa kualitas kultivasi dan bakat Siti Adawiyah, namun gadis yang dijuluki Dewi Siguntang tersebut harus meninggal muda karena pertempuran yang menghancurkan Bukit Siguntang.
Pada kehidupan sebelumnya Asrul pernah sekali bertemu dengan Siti Adawiyah, dia bisa mengingat jantung berdebar kencang karena melihat keanggunan Dewi Siguntang, sehingga tidak pernah Asrul duga pada kehidupan kali ini ada ikatan seperti ini yang tercipta di antara keduanya namun tentu saja Asrul tidak berniat serius pada hubungan seperti itu.
Pikiran Asrul masih terpusat pada penyembuhan Gus Mukhlas dan juga menyelamatkan Bukit Siguntang dari kebinasaan.
Melihat Asrul merasa tidak terlalu nyaman dengan pembahasan tersebut, Airish tidak membahas lebih jauh. Airish kemudian menjelaskan dia tidak akan berada terlalu lama di kota Mallorca karena tugasnya hanya mengambil sebuah benda penting untuk Bukit Siguntang.
Asrul mengerutkan dahinya, jika Bukit Siguntang mengirim jagoan terhebat mereka untuk mengambil barang ini pastinya merupakan benda yang sangat berharga tetapi Asrul tidak mengingat ada benda yang cukup berharga seperti itu di kota Mallorca Pulau Andalas pada masa seperti ini.
"Dalam menjalani misi ini, aku bertemu dengan beberapa hal yang membuatku terus tertunda. Pada akhirnya aku harus berlari tanpa henti siang dan malam selama beberapa hari dalam kondisi kelelahan demi mengambil barang ini tepat waktu." Airish menjadi sedikit lebih terbuka pada masalah yang membuatnya berakhir di situasi yang ditemukan Gus Mukhlas dan Asrul beberapa waktu lalu.
__ADS_1
Airish meminta keduanya merahasiakan ini dari orang lain, jika dunia persilatan mengetahui Imam Besar Bukit Siguntang pingsan karena kelaparan dan dehidrasi maka dia akan menjadi bahan tertawaan untuk waktu yang lama.
"Kakek tidak perlu khawatir, kami tidak akan menceritakannya pada siapapun." Gus Mukhlas meyakinkan.
Airish kemudian mengingatkan sekali lagi agar Gus Mukhlas dan Asrul mengunjungi Padepokan Budi Suci setelah urusan mereka di kota Mallorca selesai.
"Aku tidak akan merasa tenang selama masih berhutang budi pada kalian berdua, jadi biarkan aku membalas budi ini secepatnya." Airish menepuk pundak Gus Mukhlas.
Gus Mukhlas tidak mengetahui harus bersikap seperti apa sehingga hanya mengangguk pelan dan berjanji akan menuruti keinginan Airish. Setelah berbincang beberapa saat lagi, ketiganya melanjutkan perjalanan menuju ke kota Mallorca.
Kota Mallorca, merupakan sebuah kota megah yang menjadi tempat paling aman di seluruh Pulau Andalas. Rakyat yang tinggal di kota Mallorca terbilang makmur dan sejahtera serta hidup berbahagia namun suasana kota Mallorca terasa mulai berubah sejak perebutan Tahta antar para Imam Besar dimulai.
Tanpa banyak orang yang menyadari beberapa padepokan aliran hitam telah menyusup ke kota Mallorca dan membangun markas, salah satunya adalah Organisasi Silver Hawk, kelompok pembunuh yang paling ditakuti di Kota Mallorca.
Pada markas rahasia Silver Hawk di kota Mallorca telah berkumpul para Imam organisasi tersebut. Asrul yang pernah mendengar tentang organisasi ini hanya mengetahui tentang pembunuh bertopeng perunggu, perak, emas dan ungu namun sebenarnya organisasi ini memiliki dua jenis pembunuh lagi.
Organisasi Silver Hawk tidak akan menjadi kelompok yang begitu ditakuti jika hanya mengandalkan sekitar tiga ratus pembunuh bertopeng ungu yang memiliki kemampuan setara dengan pesilat ternama. Tanpa orang luar ketahui, Organisasi Silver Hawk memiliki sepuluh pembunuh bertopeng merah darah yang kemampuan setidaknya sama dengan pesilat ternama.
Selain itu pemimpin tertinggi dari Organisasi Silver Hawk adalah pembunuh bertopeng hitam dengan ukiran mawar emas di topengnya, kemampuan bela diri pemimpin Silver Hawk sangat tinggi dan setidaknya mampu mengimbangi sosok seperti Taimiyah.
__ADS_1
Pemimpin Organisasi Silver Hawk mengumpulkan sepuluh pembunuh topeng merah darah ke kota Mallorca setelah kegagalan mereka memberi peringatan pada keluarga Teratai yang menolak mendukung Imam Besar yang mendapatkan dukungan dari beberapa padepokan dan kelompok aliran hitam, Bruno.
"Putra Bruno sangat kecewa dengan hasil kerja kita dan meragukan Organisasi Silver Hawk karena kegagalan kita pada masalah keluarga Teratai." Pemimpin Organisasi Silver Hawk berkata dengan dingin.
Sepuluh pembunuh bertopeng merah darah yang berlutut di hadapannya tidak berani menjawab bahkan bernafas pun mereka melakukannya perlahan. Meskipun mereka sepuluh orang adalah sosok yang ditakuti di dunia persilatan tetapi di depan pimpinan mereka ini, tidak ada yang memiliki keberanian untuk bersikap arogan.
"Santoso, berikan aku penjelasan." Ketua Silver Hawk menunjuk salah satu pembunuh bertopeng merah darah.
"Lapor Ketua, menurut investigasi kita lagi-lagi digagalkan oleh pesilat bersorban..." Santoso mulai menjelaskan.
Kegagalan pertama Organisasi Silver Hawk adalah ketika mencoba membunuh Mbah Jena dalam perjalanan kembali ke Bukit Siguntang dari kota Mallorca. Kegagalan tersebut akibat keberadaan Gus Mukhlas, pesilat bersorban.
Biarpun Gus Mukhlas merupakan salah satu Imam, dia masih begitu muda dan belum banyak informasi tentangnya di dunia persilatan jadi Silver Hawk tidak menduga kemampuan Gus Mukhlas setinggi itu walaupun mengetahui dirinya adalah pesilat ternama.
Kegagalan berikutnya yang terjadi juga diakibatkan keberadaan Gus Mukhlas bersama Tuan Muda keluarga Teratai yang diketahui keberadaan Gus Mukhlas di lokasi tersebut adalah sebuah kebetulan.
Ada juga laporan terkait Asrul yang masih berusia begitu muda namun dengan mudahnya menghabisi para pembunuh bertopeng emas sekalipun.
"Kudengar pesilat bersorban juga membuat masalah bagi Kelompok Aliran Keras bukan?" tanya Ketua Silver Hawk.
__ADS_1
"Benar Ketua, beberapa waktu lalu dia menghancurkan hampir dua puluh markas cabang Kelompok Aliran Keras..."
Kelompok Aliran Keras juga merupakan salah satu kelompok yang mendukung Pangeran Bruno namun posisi kelompok Aliran Keras tersebut bisa dibilang rendah karena tidak memiliki cukup pesilat ternama di pihak mereka.