JURU SELAMAT

JURU SELAMAT
Menghadapi Kelompok Aliran Keras


__ADS_3

Ditengah percakapan keduanya, wanita pemilik penginapan tiba-tiba menghampiri, "Tuan musafir! Mereka telah datang!"


Gus Mukhlas tidak menduga Kelompok Aliran Keras akan datang sekarang padahal kondisi cuaca masih terbilang buruk, menempuh perjalanan dalam situasi seperti ini pasti menguras stamina mereka.


"Para perampok ini terlalu percaya diri..." Asrul menggelengkan kepalanya karena menyadari hal yang sama.


Gus Mukhlas dan Asrul sama-sama kembali ke kamar mereka untuk mengambil senjata sebelum pergi menuju pintu gerbang kota.


Pada gerbang kota terlihat sekitar dua puluh penjaga sedang berkumpul dengan senjata dan baju pelindung lengkap, ada juga puluhan warga yang membawa senjata seadanya. Mereka sudah tidak sanggup memenuhi permintaan Kelompok Aliran Keras, berpikir para anggota kelompok Aliran Keras itu akan membunuh mereka juga pada akhirnya, para penduduk memilih untuk melakukan perlawanan.


Kedatangan Gus Mukhlas dan Asrul menarik perhatian para warga desa dan penjaga, salah satu penjaga mengenali keduanya.


"Jika kalian ingin meninggalkan kota sekarang sudah terlambat, dalam waktu beberapa menit lagi kelompok Aliran Keras akan tiba di kota ini dan tidak akan membiarkan siapapun lolos." Ucap penjaga itu pada Gus Mukhlas.


"Kami datang kemari untuk membantu menghadapi para anggota Kelompok Aliran Keras ini, sudah diketahui jumlah mereka?" tanya Gus Mukhlas.


Ketika Gus Mukhlas berkata ingin membantu, para penjaga baru menyadari Gus Mukhlas membawa sebuah pedang bersamanya. Mendapat bantuan dari seorang pesilat tidaklah buruk sehingga penjaga itu menjawab pertanyaan Gus Mukhlas.


Para penjaga sudah melihat gerakan kelompok Aliran Keras dari kejauhan menggunakan teropong, mereka datang dengan menunggangi kuda. Jumlah para perampok ini sekitar seratus orang. Kecepatan perjalanan mereka tidak terlalu cepat akibat tanah yang masih bergenang air dan derasnya hujan.


Gus Mukhlas segera mengarahkan para penjaga untuk membentuk formasi, mereka akan menahan para anggota kelompok Aliran Keras tersebut di pintu masuk. Jika berhadapan dengan semua anggota Kelompok Aliran Keras sekaligus akan sulit tetapi selama dihadapi secara bertahap, jumlah musuh tidak menjadi masalah.


"Lihat, kota ini melakukan perlawanan..." salah satu anggota Kelompok Aliran Keras menunjuk pintu gerbang kota yang hanya terbuka sedikit.

__ADS_1


Celah pintu gerbang itu hanya cukup untuk satu ekor kuda melewatinya dalam satu waktu.


"Mereka sungguh bosan hidup, habisi mereka semua!" Anggota yang berpangkat paling tinggi dalam rombongan ini berseru dengan lantang.


Kelompok Aliran Keras menghentikan kuda mereka ketika telah berada cukup dekat dengan gerbang kota. Belasan anggota kelompok Aliran Keras turun dari kuda lalu maju untuk membuka pintu gerbang lebih lebar.


Belasan anggota kelompok Aliran Keras tersebut tertawa lepas, mereka merupakan gabungan kelompok Aliran Keras kelas tiga dan kelas dua. Mereka yakin para penjaga kota yang bahkan tidak sekuat pesilat kelas tiga bukanlah masalah.


Ketika para anggota kelompok Aliran Keras ini cukup dekat dengan pintu gerbang, pisau kecil yang melesat dengan cepat mengarah pada beberapa dari mereka. Seketika itu juga, semua anggota kelompok Aliran Keras yang terkena pisau kecil tersebut tumbang ke tanah sambil menjerit kesakitan tetapi tidak bisa mengeluarkan suara.


Para anggota kelompok Aliran Keras yang masih berdiri menjadi kaget saat memandang rekan-rekan mereka yang jatuh ke tanah sekarang memegangi leher mereka. Terlihat ada pisau kecil yang menancap di leher setiap anggota kelompok Aliran Keras yang tumbang ke tanah.


"Senjata rahasia?!" salah satu anggota kelompok Aliran Keras yang masih berdiri berseru namun selesai dia berkata demikian sebuah pisau kecil terbang dan menancap di lehernya.


"Apa yang telah terjadi?!" Anggota yang berpangkat paling tinggi dalam rombongan kelompok Aliran Keras ini berusaha mencari sosok yang menyerang orang-orangnya.


Pada saat yang sama Asrul sedang berada di dinding kota bersama Gus Mukhlas. Asrul memang melempar pisau pada belasan anggota kelompok Aliran Keras itu dari atas dinding kota.


"Asrul, Bukankah Guru sudah katakan tidak perlu membunuh mereka seperti itu?" Gus Mukhlas menaikkan alisnya ketika menyaksikan muridnya itu membunuh belasan orang dalam beberapa tarikan nafas saja.


"Murid masih belum pandai melempar pisau dengan akurat guru sehingga mengenai bagian vital mereka." Asrul beralasan.


Gus Mukhlas tersenyum canggung, alasan Asrul tentu sulit diterimanya. Belum pandai melempar pisau dengan akurat? Padahal semua lemparan tersebut mengenai leher para anggota kelompok Aliran Keras tanpa satupun yang meleset.

__ADS_1


Perhatian Asrul lebih kepada para anggota kelompok Aliran Keras yang masih tersisa, dia bisa melihat diantara mereka semua yang paling kuat hanyalah beberapa pesilat kelas satu.


"Guru, tidak ada salah satu dari pimpinan Kelompok Aliran Keras yang datang bersama mereka. Bisakah aku menggunakan kesempatan ini untuk menambah pengalaman bertarung?" tanya Asrul penuh semangat, dia penasaran sejauh mana batas kemampuan bertarungnya.


Gus Mukhlas tentu ingin menolak permintaan tersebut tetapi melihat Asrul sepertinya begitu antusias, Gus Mukhlas hanya bisa menghela nafas panjang sebelum mengangguk pelan.


Asrul tidak menunggu lebih lama, dia melompat dari atas dinding dan berhadapan langsung dengan para anggota kelompok Aliran Keras tersebut. Gus Mukhlas mengikuti Asrul dari belakang, dia juga sudah menyadari kemampuan musuhnya.


Gus Mukhlas menilai bagi Asrul yang mampu berhadapan dengan para pembunuh dari Silver Hawk, seharusnya dia lebih mudah menghadapi para anggota kelompok Aliran Keras ini. Meskipun di tingkat kekuatan yang sama, tetapi para pembunuh Silver Hawk memiliki teknik bertarung yang lebih tinggi dari para anggota Kelompok Aliran Keras.


Perbedaannya jumlah para anggota kelompok Aliran Keras ini jauh lebih banyak daripada pembunuh Silver Hawk.


Tanpa mempedulikan pandangan kebingungan para perampok, Asrul mendekati jasad-jasad orang yang menjadi korban senjata rahasia yang dilemparkannya. Asrul mengambil satu demi satu pisau kecil yang tertancap di leher mereka sementara Gus Mukhlas memilih satu tempat untuk berdiri dan menyaksikan semuanya.


"pesilat bersorban itu bukan orang sembarangan, apa mungkin dia yang membunuh saudara-saudara kita?"


Para anggota kelompok Aliran Keras mulai berbisik sesama mereka sambil tetap waspada, Gus Mukhlas memang tidak menutupi kemampuannya dengan menunjukan dirinya memiliki tenaga dalam yang besar. Tindakannya tersebut membuat para anggota kelompok Aliran Keras gentar, mereka menyadari meskipun menyerang bersamaan belum tentu bisa melukai Gus Mukhlas.


"Tidak kusangka penduduk kota ini berhasil mengundang pesilat sehebat ini, pantas saja mereka berani melakukan perlawanan." Pemimpin rombongan tersebut hanya bisa merapatkan giginya karena kesal.


Pemimpin itu merasa situasi mereka sangat tidak menguntungkan. Dia berpikir untuk mundur dan kembali nanti dengan membawa beberapa teman yang memiliki ilmu bela diri tinggi demi menghadapi Gus Mukhlas namun kuda mereka sudah terlalu kelelahan setelah menempuh perjalanan jauh dalam cuaca buruk.


"pemuda itu sepertinya sosok yang penting bagi pesilat bersorban tersebut, jika kita bisa menjadikannya sebagai sandera mungkin ada kesempatan untuk mundur dari tempat ini." Kata salah satu anggota kelompok Aliran Keras berbisik pada pemimpinnya.

__ADS_1


Para anggota kelompok Aliran Keras ini bisa melihat tempat Gus Mukhlas berdiri dengan lokasi Asrul yang sedang mengumpulkan senjata rahasia terpisah cukup jauh.


__ADS_2