
Markas ini tidak memiliki satupun pendekar ahli jadi wajar tidak ada yang cukup berharga, meskipun mereka memiliki beberapa obat mahal tetapi tidak berguna bagi seorang pesilat..." Asrul mengambil yang menurutnya dapat berguna seperti uang dan beberapa pil obat, selain itu tidak ada yang menarik baginya.
Ketika Asrul kembali menemui Gus Mukhlas, dia bisa melihat cahaya mata gurunya tersebut sedikit berbeda. Asrul menebak Gus Mukhlas telah memutuskan sesuatu saat sedang sendiri tadi.
"Asrul, kita akan menunda keberangkatan ke kota Mallorca. Mari hancurkan setiap markas kelompok Aliran Keras yang bisa kita temui sehingga tidak perlu lagi ada orang-orang yang menderita karena mereka, terutama agar warga lainnya tidak perlu mengalami kejadian buruk seperti ini." Dari kata-katanya terdengar jelas kebulatan tekad Gus Mukhlas dalam menghadapi masalah ini.
"Tentu Guru, Murid akan membantu dengan sepenuh kemampuan." Asrul memberi hormatnya sambil tersenyum lebar.
Tanpa menunggu lebih lama, keduanya bergerak menuju markas terdekat yang berhasil mereka ketahui. Gus Mukhlas juga tidak lagi menahan tindakan Asrul yang menghabisi banyak perampok, sebaliknya Gus Mukhlas juga tidak ragu lagi menghabisi para anggota kelompok Aliran Keras.
Keduanya berlari sekuat tenaga dan hanya beristirahat beberapa waktu sebelum menyerang sebuah markas. Dalam tiga hari, tujuh markas kelompok Aliran Keras bersama ribuan anggotanya menghilang dari kota Kemuning selamanya.
Pada setiap markas keduanya menemukan para warga yang ditahan, beberapa bahkan dalam kondisi yang lebih buruk dari warga yang mereka bebaskan dari markas pertama. Gus Mukhlas juga terpukul ketika melihat seorang warga yang memilih bunuh diri setelah diselamatkan karena tidak bisa menahan penderitaan terhadap semua yang terjadi pada dirinya.
Kejadian tersebut membuat Gus Mukhlas semakin bertekad untuk melenyapkan kelompok Aliran Keras. Setelah tujuh markas yang lokasinya didapatkan dari tahanan telah dihancurkan semuanya, Asrul berhasil mendapatkan beberapa lokasi lainnya dari kelompok Aliran Keras yang mereka tangkap di markas-markas ini.
Tidak hanya melenyapkan markas-markas tersebut tetapi juga mengumpulkan kekayaan, dari tujuh markas yang dihancurkan keduanya selain mendapatkan uang dalam jumlah banyak, Asrul menemukan beberapa benda yang berguna untuk petarung.
"Guru, Beberapa pil ini berguna untuk mengobati luka dalam dan memperkuat kondisi tubuhmu." Asrul membaca banyak buku selama satu tahun di Bukit Siguntang, dia bisa mengenali banyak pil yang ditemukan di markas-markas tersebut.
Gus Mukhlas tidak menolak, dia hanya meminta Asrul menyimpan sebagian pil tersebut untuk dirinya sendiri. Gus Mukhlas juga tidak menegur Asrul yang mengumpulkan uang dari para anggota kelompok Aliran Keras ini karena uang tersebut akan berguna di kota Mallorca.
__ADS_1
Asrul bisa menggunakannya untuk membeli sumber daya yang meningkatkan kemampuan bela diri serta kualitas kultivasinya.
Tanpa Gus Mukhlas maupun Asrul sadari, tindakan mereka membuat keduanya menjadi terkenal. Nama pesilat bersorban dan muridnya dari Bukit Siguntang menghabisi para anggota kelompok Aliran Keras segera tersebar ke berbagai penjuru.
Pada markas-markas berikutnya, keduanya menemukan markas yang ditinggali oleh kelompok Aliran Keras yang memiliki kemampuan great grand master. Hanya saja kelompok Aliran Keras tersebutpun bukanlah tandingan Gus Mukhlas.
Asrul berhasil menemukan sebuah botol berisi sekitar sepuluh pil berwarna hijau pada markas yang didiami oleh kelompok Aliran Keras berkemampuan great grand master. Asrul juga menemukan beberapa tanaman berkhasiat untuk tenaga dalam serta perkembangan bela diri seorang pesilat.
"Pil ini cukup berharga, jika digunakan untuk sekedar memulihkan tenaga dalam akan sangat disayangkan. Sebaiknya kita menjualnya di kota Mallorca atau menukarnya dengan pil yang berguna untuk meningkatkan tenaga dalammu." Kata Gus Mukhlas saat mengetahui Asrul menemukan sepuluh Pil peremajaan.
Asrul mengangguk pelan, "Guru, kurasa saatnya kita melanjutkan perjalanan ke kota Mallorca. Selama sepuluh hari ini kita telah menghancurkan hampir dua puluh markas Kelompok Aliran Keras maka mereka pasti menyadari niat kita. Melanjutkan ini akan berbahaya atau sia-sia."
Gus Mukhlas sedikit terkejut, dia tentu setuju. Gus Mukhlas yakin sekarang para kelompok Aliran Keras tersebut sudah memindahkan markas mereka dari lokasi sebelumnya setelah mengetahui keduanya terus mengincar markas kelompok mereka atau para anggota kelompok Aliran Keras yang memiliki ilmu bela diri tinggi akan berkumpul di salah satu markas dan menyiapkan jebakan untuk keduanya.
Asrul cukup puas dengan semua yang berhasil mereka dapatkan dari perburuan ini. Biarpun kelompok Aliran Keras tidak sepenuhnya terhapuskan, mereka telah kehilangan beberapa ribu anggota hanya karena dua orang saja, ini akan menjadi pukulan keras pada kelompok tersebut.
Selain itu Asrul telah mengumpulkan aura pembunuh, membunuh ribuan orang pada usianya membuatnya memiliki aura pembunuh yang begitu menakutkan. Asrul yakin aura pembunuhnya bahkan mengimbangi para pembunuh topeng ungu dari Organisasi Silver Hawk.
Gus Mukhlas dan Asrul akhirnya melanjutkan perjalanan mereka ke kota Mallorca.
Beberapa hari lainnya telah berlalu sejak Gus Mukhlas dan Asrul melanjutkan perjalanan ke kota Mallorca. Matahari sedang bersinar dengan teriknya membuat Asrul tidak berhenti mengelap keringat di keningnya.
__ADS_1
"Guru, Apakah kita masih jauh dari kota Mallorca?" Asrul bertanya dengan nafas yang berat.
Tanpa tenaga dalam bukan hal mudah untuk terus berlari di cuaca seperti ini. Gus Mukhlas bisa menggunakan tenaga dalam untuk mengatur suhu tubuhnya sementara Asrul hanya bisa mengandalkan kualitas kultivasinya yang memiliki toleransi terhadap hawa panas maupun dingin.
"Seharusnya tidak terlalu jauh, kita akan segera menemui persimpangan di depan dan setelah itu kita hanya perlu berlari sekitar dua hari lagi sebelum mencapai kota Mallorca." Jawab Gus Mukhlas sambil tersenyum lembut.
"Persimpangan? Ah! Aku bisa melihatnya..." Asrul menyipitkan matanya agar dapat melihat jauh ke depan, "Ehm... Guru, sepertinya ada seseorang yang pingsan di sana."
Mendengar itu Gus Mukhlas mengajak Asrul mempercepat langkah mereka, keduanya sampai di persimpangan jalan beberapa saat kemudian.
Keduanya menemukan seorang kakek yang terlihat berusia 70 tahun dengan rambut serta jenggot putih yang panjang tengah terbaring di tanah. Di samping tubuh kakek tersebut terletak sebuah benda sepanjang lebih dari dua meter dibalut dengan kain sekilas seperti tongkat.
Gus Mukhlas memeriksa kondisi kakek tersebut dan menemukannya masih bernyawa. Ketika Gus Mukhlas berniat mengalirkan tenaga dalam untuk menolongnya, kakek tersebut membuka matanya perlahan.
"Air..." kata Kakek itu pelan, diiringi dengan suara perut keroncongan.
Gus Mukhlas dan Asrul saling berpandangan sambil tersenyum canggung. Asrul memberikan kakek tersebut air minum sebelum membawa pria tua itu berteduh di bawah pohon.
Kakek itu menjadi lebih bertenaga setelah meminum sebotol air.
Asrul mengeluarkan perbekalan mereka yang tersisa, tanpa basa basi ataupun bertanya Kakek tersebut langsung melahap makanan di hadapannya.
__ADS_1
"Kakek, pelan-pelan tidak akan ada yang merebutnya darimu..." Gus Mukhlas tersenyum tipis melihat sikap Kakek tersebut.